Penulis: Nabila Ummu Anas
Muslimah News, TARIKH KHULAFA — Sulaiman bin Abdul Malik bin Marwan bin Al-Hakam atau Al-Khalifah Abu Ayyub adalah salah seorang putra terbaik Abdul Malik yang dibaiat sebagai khalifah pada hari wafatnya Al-Walid bin Abdul Malik, kakaknya, pada pertengahan Jumadilakhir 96 H. Adz-Dzahabi menuturkan, Sulaiman adalah salah seorang contoh khalifah yang menyebarkan ilmu jihad, fasih berbahasa, adil, dan gemar melancarkan penaklukan.
Pidato Pertama Khalifah
Ibnu Katsir meriwayatkan tentang pidato pertama yang disampaikan Sulaiman bin Abdul Malik setelah dibaiat menjadi khalifah.
“Segala puji bagi Allah. Apa pun yang Dia kehendaki pastilah Dia ciptakan. Apa pun yang Dia kehendaki pastilah Dia tinggikan. Dan apa pun yang Dia kehendaki pastilah Dia rendahkan. Siapa pun yang Dia kehendaki pastilah Dia beri. Dan siapa pun yang Dia kehendaki pastilah Dia halangi. Dunia ini hanyalah negeri tipuan, tempat kebatilan dan hiasan pergantian keadaan. Dunia membuat tertawa orang yang menangis, membuat menangis orang yang tertawa, membuat takut orang yang merasa aman, membuat aman orang yang ketakutan, membuat miskin hartawannya, membuat kaya orang miskinnya, dan menggoda penghuninya.”
“Wahai hamba-hamba Allah jadikanlah Kitabullah sebagai imam, senanglah menjadikannya sebagai hukum dan jadikanlah ia sebagai pemimpin. Sebab, Kitabullah menghapuskan kitab-kitab sebelumnya dan tidak akan dihapuskan suatu kitab pun sesudahnya. Ketahuilah wahai hamba-hamba Allah bahwa Al-Qur’an ini membuat segala tipu daya dan dendam setan terlihat jelas, sebagaimana sinar fajar saat mulai menyingsing memperlihatkan dengan jelas berlalunya malam saat hampir meninggalkan gelapnya.”
Pidato pertama Sulaiman bin Abdul Malik ini menunjukkan sifat warak, ketakwaan dan rasa takutnya kepada Allah. Saking waraknya, ia melarang rakyatnya mendengarkan nyanyian.
Meminta Pendapat kepada Orang Saleh
Setelah diangkat sebagai khalifah, Sulaiman berkata kepada Umar bin Abdul Aziz sepupunya, “Wahai Abu Hafsh, aku telah diangkat sebagaimana yang engkau lihat, padahal aku tidak mempunyai ilmu pengelolaan negara. Maka, apapun yang menurutmu adalah maslahat bagi semua orang, perintahkanlah, dan hendaklah itu ditulis.”
Dalam menjalankan roda pemerintahan, Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik selalu meminta bantuan orang-orang saleh seperti Umar bin Abdil Aziz dan Rajak bin Haiwah. Oleh karena itulah, Umar bin Abdul Aziz tidak henti-hentinya mengingatkan Sulaiman bin Abdul Malik akan tanggung jawabnya terhadap umat.
Pada 97 H, Sulaiman bin Abdul Malik menunaikan ibadah haji bersama Umar bin Abdul Aziz. Melihat banyaknya jamaah haji tahun itu, Sulaiman berkata kepada Umar, “Tidakkah engkau melihat manusia yang jumlahnya hanya dapat dihitung oleh Allah itu dan rezekinya hanya dapat ditanggung-Nya itu?” Umar menyahut, “Wahai Amirulmukminin, mereka adalah rakyatmu hari ini (di dunia), tetapi esok (di akhirat) mereka akan menjadi musuhmu di hadapan Allah“. Mendengar itu, Sulaiman menangis tersedu-sedu, kemudian berucap, “Hanya kepada Allah aku memohon pertolongan.”
Sulaiman juga berkonsultasi kepada orang-orang saleh dalam berbagai persoalan penting, terutama dalam pengangkatan kepala daerah karena ia ingin agar posisi itu diduduki orang-orang yang paling saleh dan paling adil.
Ketika Sulaiman hendak mengangkat wali Ifriqiyah. Ia berkata kepada Rajak bin Haiwah, “Aku menghendaki seseorang yang memiliki keutamaan sebagai wali Ifriqiyah (Tunisia).” Setelah memikirkan hal itu beberapa hari, akhirnya Rajak berkata, “Aku menemukan seorang tokoh yang memiliki keutamaan, ia adalah Muhammad bin Yazid.”
Razak pun membawa Muhammad bin Yazid ke hadapan Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik. Sulaiman berkata, “Wahai Muhammad bin Yazid, bertakwalah kepada Allah yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Laksanakanlah tugas yang kuamanahkan kepadamu dengan benar dan adil. Aku telah mengangkatmu sebagai wali Ifriqiyah dan seluruh negeri Al-Maghrib.”
Kemudian Sulaiman melepas keberangkatan Muhammad bin Yazid. Lelaki itupun pergi sambil berucap, “Aku tidak mempunyai alasan lagi di hadapan Allah, jika aku tidak berbuat adil.”
Ath-Thabari menuturkan, “Masyarakat merasa senang dengan naiknya Sulaiman bin Abdul Malik sebagai khalifah. Mereka mengelu-elukan, ‘Sulaiman kunci kebaikan!’. Habis Al-Hajjaj terbitlah Sulaiman!”.
Ibnu Katsir juga menyampaikan bahwa Sulaiman bin Abdul Malik identik dengan agama, kebaikan, cinta kebenaran beserta pelakunya, ketundukan pada Al-Qur’an dan As-Sunnah serta penonjolan syariat Islam.
Ketika berangkat dari Damaskus menuju Marj Dabiq, dalam rangka mempersiapkan pasukan perang ke kota Konstantinopel, Sulaiman bin Abdul Malik bersumpah untuk tidak pulang ke Damaskus sebelum meraih kemenangan atau syahid di jalan Allah. Ternyata ia benar-benar meninggal dunia di sana pada Safar 99 H. Semoga Allah merahmatinya. [MNews/Ruh]
Foto sampul: iStock
