Muslimah News, NASIONAL — Merespons krisis air yang terjadi akibat pengembangan data center AI, ahli ekonomi Asri Suangga, S.E., M.Si. menyatakan, pembangunan data center AI dinilai mengancam lingkungan dan ketersediaan air.
“Di banyak negara, pembangunan data center AI ditolak karena mengancam ketersediaan kebutuhan air dan mengancam lingkungan, bahkan sampai ada yang melakukan moratorium untuk menghentikan sementara pembangunan data center AI, ” kritiknya dalam dialog bertema Data Center AI: “Risiko Krisis Air dan Hegemoni Kapitalisme”, Sabtu (10-10-2026) di kanal Muslimah Insight.
Ia mencontohkan, data center AI di Georgia, Amerika Serikat, yang memicu krisis lingkungan karena menyedot sekitar 1,9 juta liter air per hari. “Begitu pula di Belanda dan Denmark yang menyebabkan kebutuhan listrik jadi terganggu. Kemudian di Irlandia, Singapura, Malaysia, Amerika Serikat, Spanyol, Portugal, dan Cina yang membatasi, bahkan sampai menolak pembangunan data center AI,” paparnya.
Akibatnya, ia mengatakan, Indonesia yang terkena limpahannya. “Pembangunan data center AI di Indonesia menjadi masif. Digambarkan sampai akhir tahun 2026, pemerintah cukup ambisius dengan menargetkan data center AI di Indonesia sampai pada skala 1,2 GW,” imbuhnya.
Di sisi lain, ia menyayangkan, teknologi yang digunakan masih berasal dari investasi asing dan Indonesia menjadi tempat pembangunan karena dinilai memiliki lahan cukup luas dan sumber daya air cukup melimpah. “Data center AI ini memang sangat haus akan air dan listriknya harus 24 jam sehingga menghasilkan panas ekstrem. Sebabnya, beban kerja data center AI ini lebih besar dibandingkan dengan data center biasa sehingga berpengaruh terhadap kebutuhannya akan listrik, pendingin, dan backup otomatis,” ujarnya
Selain itu, lanjutnya, butuh menara pendingin agar tidak rusak. “Harus ada air bersih yang dipompa ke menara pendingin dan air ini harus air bersih. Kemudian panas diserap dari server, menguap ke atmosfer secara masif, dan menghilangkan volume air yang jumlahnya signifikan,” jelasnya.
Kerugian
Di Indonesia sendiri, ungkap Asri, tidak sedikit pakar yang sudah mengingatkan betapa ruginya ketika data center itu dibangun. “Pertama, ancaman krisis air bersih. Belum ada data center AI saja, kita sudah mengalami kekeringan, tetapi yang dilakukan bukan berusaha untuk mengatasi kondisi ini dengan memperbaiki lingkungan. Belum lagi penurunan muka tanah akibat ekstraksi air tanah yang masif,” sesalnya.
Kedua, sebutnya, lonjakan beban listrik. “Selain ditopang oleh pembangkit listrik tenaga air, penyediaan listrik juga ditopang oleh pembangkit listrik tenaga uap yang menghasilkan emisi karbon tinggi. Artinya, kalau beban listriknya bertambah, beban PLTU-nya juga bertambah dan akan berpengaruh pada kenaikan suhu udara di sekitarnya,” urainya.
Ketiga, lanjutnya, keberadaan limbah berbahaya. “Jadi, ada limbah elektronik dari penggantian server berkala, dari penggantian baterai, oli, dan limbah kimia sisa proses air pendingin yang berisiko mencemari ekosistem perairan,” ucapnya.
Ia pun mempertanyakan, apa yang sebenarnya menjadi orientasi atau paradigma pemerintah ketika mengelola sumber daya alam yang ada di negeri ini. “Apakah bijak ketika kepentingan ekonomi harus mengorbankan kepentingan umum?” tanyanya lugas.
Asri menuturkan, dalam pandangan Islam, yang harusnya dikedepankan adalah paradigma penguasa sebagai raa’in (pengurus) yang akan dimintai tanggung jawab atas kepengurusannya. “Tentu seharusnya yang menjadi skala prioritas saat membuat kebijakan adalah yang terbaik untuk masyarakat, Pemerintah mestinya sadar bahwa tugas utama mereka adalah memelihara urusan rakyat,” tutupnya. [MNews/Ruruh]
