Muslimah News, INTERNASIONAL — Eskalasi taktik udara dan perebutan jalur maritim strategis Bab al-Mandab kembali memicu ketegangan geopolitik di Yaman. Menyoroti hal tersebut, Direktur Forum World Islam Studies Farid Wadjdi menyampaikan pendapatnya.
“Tampak dinamika perebutan pengaruh global dan konflik di Yaman tidak dapat dilepaskan dari pertarungan kekuatan global, khususnya intervensi Amerika Serikat (AS) dan Inggris,” ucapnya dalam “Mbois: Yaman Memanas! Bab al-Mandab dan Pengaruh AS” di kanal Tabloid Media Umat, Rabu (9-9-2026).
Menurutnya, AS memanfaatkan dinamika kawasan dan mitra regionalnya, termasuk Arab Saudi, untuk melemahkan pengaruh Houthi serta sekutunya, Iran. “Yaman memegang posisi geopolitik yang sangat vital bagi perdagangan internasional melalui Selat Bab al-Mandab. Selat ini berfungsi sebagai titik pemeriksa (check point) utama pelayaran dari Eropa menuju Asia yang menghubungkan Laut Merah, Terusan Suez, Laut Mediterania, hingga Teluk Aden dan Samudra Hindia,” paparnya.
Selain itu, lanjutnya, posisi maritim Yaman sangat strategis sejak Terusan Suez dibuka pada 1869. “Yaman juga menyimpan kekayaan mineral tanah jarang (rare earth elements), seperti scandium di wilayah Hadramaut yang sangat dibutuhkan industri elektronik modern. Kekayaan alam dan posisi strategis inilah yang dinilai memicu intervensi negara-negara imperialis di kawasan tersebut,” tegasnya.
Eskalasi militer, imbuhnya, diperkirakan akan terus berlanjut selama target AS untuk melemahkan Houthi, Hizbullah di Lebanon Selatan, dan pengaruh Syiah di Irak belum tercapai. “Ada tiga kepentingan AS di Timur Tengah, mengamankan sumber daya energi dan minyak agar tetap dalam kendali AS, mempertahankan eksistensi entitas penjajah Yahudi (Isra*l), dan mencegah munculnya kelompok politik Islam yang mengancam kepentingan AS,” paparnya.
Ia menyayangkan, terjadinya pertumpahan darah antarsesama muslim karena sebenarnya hal itu bertentangan dengan prinsip ukhuah islamiah. “Persoalan mendasar dari berulangnya konflik di Timur Tengah disebabkan oleh intervensi asing AS dan sikap penguasa di negeri-negeri Islam yang melayani kepentingan imperialis. Oleh karena itu, solusi hakiki masalah di Timur Tengah adalah penghentian intervensi asing dan pembentukan persatuan politik dunia Islam yang mandiri dan independen,” tuntasnya. [MNews/Ika Mawar]
