[Kabar] UIY: Itibak Nabi Harus Tampak dalam Perilaku

[Kabar] UIY: Itibak Nabi Harus Tampak dalam Perilaku

Muslimah News, NASIONAL— Cendekiawan muslim Ustaz Ismail Yusanto (UIY) menegaskan bahwa itibak Nabi saw. harus tampak dalam perilaku. ”Itibak itu harus tampak dalam perilaku. Perilaku seorang yang mencintai Nabi, dia harus mengikuti ajaran Nabi, baik di dalam soal ibadah, makanan, minuman, pakaian, akhlak, maupun muamalah,” ungkapnya di acara yang bertajuk ”Memaknai Cinta Nabi di Masa Kini Spesial Maulid Nabi Saw.” di kanal UIY Official, Ahad (23-8-2026).

Di dalam muamalah, lanjutnya, ada ekonomi, politik, sosial, budaya, dan sebagainya. ”Pertanyaannya kalau ini hari ada orang berpikir sekuler, dia itibak kepada siapa? Kalau ini hari ada orang yang tidak salat, dia itu itibak kepada siapa? Kalau ini hari ada orang yang bermuamalah dalam ekonomi tidak lagi memperhatikan halal haram, ekonomi, keuangan penuh dengan riba, dia itibak kepada siapa?” tanyanya retoris.

Ia menerangkan, sepanjang kehidupan Nabi, tidak pernah Nabi itu berpolitik tidak atas dasar Islam dan tidak untuk Islam. ”Jadi kalau ini hari orang berpolitik tidak atas dasar Islam dan tidak untuk Islam, dia itu itibak kepada siapa?” sindirnya.

UIY meyakini, keruwetan yang terjadi di negeri ini gegara para pemimpin yang notabene muslim tidak mengikuti ajaran Nabi saw., baik cara berpikir maupun perilakunya. Ia menekankan pentingnya peringatan Maulid Nabi saw. sebagai sarana mengingatkan pentingnya itibak ini yang tercermin pada pola pikir dan perilaku mengikuti ajaran Nabi yang mulia.

Melanjutkan Perjuangan

Selain itibak, kata UIY, bentuk cinta kepada Nabi saw. selanjutnya adalah melanjutkan perjuangan Nabi. ”Para ulama sering mengatakan bahwa kehidupan Rasul itu kehidupan dakwah. Dalam seluruh kehidupan Nabi saw. sejak dari awal sampai akhir tidak pernah off dari dakwah. Maka, begitu pula semestinya kehidupan seorang muslim adalah kehidupan dakwah,” tegasnya.

Ia mengingatkan, jika kehidupan tidak untuk dakwah, pasti akan mendakwahkan sesuatu selain Islam atau setidaknya membiarkan dakwah selain Islam berkembang. ”Kalau kita tidak mengisi hidup kita dengan pikiran dan perbuatan sesuai dengan ajaran Nabi, maka yang ada adalah pikiran dan perbuatan yang tidak sesuai dengan ajaran Nabi. Itu sudah jamak!” tandasnya.

“Ketidakrelaan kita kepada sesuatu yang tidak (menjadikan-red) Islam berkembang itu dengan kita memperjuangkan Islam. Kalau kita tidak memperjuangkan Islam itu artinya kita rela sesuatu selain Islam berkembang,” imbuhnya.

Seorang muslim, ucapnya, harus mempunyai keyakinan yang paripurna bahwa tidak ada kemuliaan, kecuali dengan Islam, bukan pada kapitalisme atau sosialisme yang rusak dan merusak. ”Ini penting karena ini hari masih saja umat itu jangan lagi menengok kepada Islam, menimbang Islam sebagai alternatif pun tidak. Mereka masih percaya kepada kapitalisme,” sedihnya.

Bersama Nabi Saw. di Surga

UIY memastikan bahwa mencintai Nabi dengan benar itulah yang akan membawa harapan untuk bersama Nabi saw. di surga Allah Swt. nanti. ”Ini sebagaimana ditegaskan oleh Nabi sendiri bahwa ’anta ma’a man ahbabta (engkau bersama orang yang engkau cintai’. Ini adalah perkataan Nabi yang sangat dalam,” tandasnya.

Saat seorang muslim mengkaji tsaqafah Islam, ucapnya, tujuannya supaya berpikir dan bertindak sesuai dengan ajaran Islam. ”Lalu kita terlibat dalam dakwah, istikamah sampai hari ini, itu tidak lain didorong rasa cinta kita kepada Nabi. Dan karenanya, maka kita tentu berharap mudah-mudahan Allah Swt. memperkenankan kita bersama Nabi saw. insyaallah di surganya nanti,” pungkasnya penuh harap. [MNews/Irianti]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *