Muslimah News, INTERNASIONAL — Genosida di Tepi Barat oleh pemukim Yahudi masih terus membara. Dalam sebulan, serangan dapat mencapai 2.256 kali. Serangan ini disertai dengan pembakaran rumah, masjid, lahan, perusakan sumber air, serta infrastruktur, hingga pengusiran warga dari wilayahnya. Ekspansi pemukiman terus berjalan, termasuk rencana pembangunan sekitar 2.300 unit pemukiman di Yerusalem Timur.
Menyorot hal di atas aktivis muslimah Dr. Fika Komara mengatakan, fakta ini seharusnya menjadi keresahan bagi setiap muslim. ”Ini seharusnya menjadi keresahan bagi setiap muslim yang peduli dengan Baitulmaqdis, tanah suci kiblat pertama kaum muslim yang hari ini diduduki oleh Zion*s,” ungkapnya dalam diskusi yang bertajuk “Tepi Barat Membara New Gaza Makin Nyata, Benarkah Zion*s Hanya Berbahaya bagi Palestina” di kanal Muslimah Insight, Sabtu (8-8-2026).
Fika mengingatkan, apa yang terjadi di Tepi Barat merupakan refleksi penjajahan Zion*sme yang merupakan anak kandung sekularisme dan kapitalisme yang terus meluaskan penjajahannya di tanah kaum muslim, termasuk Tepi Barat. “Tepi Barat ini bukan area Gaza, tetapi di dalamnya ada Yerusalem, Baitulmaqdis, dan luasnya 15 kali luas Gaza. Itu bagian dari tanah kaum muslim yang harus dijaga,” jelasnya.
Ia membeberkan, pada 2026 ini, di Tepi Barat terjadi konflik horizontal yang direkayasa oleh Zion*s yang mana sejumlah orang sengaja didatangkan di wilayah itu untuk meneror pemukiman muslim yang ada di sana dengan membakar dan merobohkan rumah-rumah mereka. Selain itu, ucap Fika, ditambah dengan serangan vertikal dari rezim Zion*s yang menangkapi kaum muslim di Tepi Barat.
“Jadi memang ada planning yang sangat komprehensif, bahkan mencakup pemukiman. Itu memang tidak bisa dilepaskan dari doktrin Yahudi yang diradikalisasi dengan ajaran Zion*s. Dikatakan, Tepi Barat merupakan tanah Judea dan Samaria. Jadi, mereka merasa punya hak untuk mengambil alih dan melakukan vandalisme, melakukan kekerasan untuk mengusir penghuni muslim yang sebenarnya sudah sejak dahulu menghuni wilayah itu,” ulasnya.
Penjajahan Peradaban
Menurutnya, Zion*s penjajah selalu punya makar membangun kembali Palestina dengan bangunan sesuai dengan tujuan, nilai, cita-cita, dan peradaban mereka. “Penjajahan Palestina ini seharusnya mengingatkan kepada kita bahwa ini adalah penjajahan peradaban yang juga melanda seluruh tanah kaum muslim, khususnya yang terjadi di Baitulmaqdis, dan pola-polanya bisa kita pelajari,” terangnya.
Oleh karena itu Fika berharap kaum muslim senantiasa memonitor pemberitaan tentang Palestina. ”Ada benang merah yang sama, ada qadhiyah masyiriyah (perkara yang menentukan hidup mati umat) yang sama ketika tanah kaum muslim menjadi sasaran rancangan proyek penjajah untuk terus menjajah, mengusir, dan memecah belah penduduknya. Ini yang harus disadari kaum muslim. Meski pemberitaan Palestina jauh (jarang terdengar lagi), tetapi sebenarnya kita bisa mengalirkan semangat perjuangan karena Palestina disebut ardhul mubarokah. Keberkahan perjuangan dan perlawanan di sana karena bukan sekadar persoalan bangsa Palestina tetapi persoalan umat Islam,” urainya.
Fika menekankan, penjajahan Zion*s Yahudi bukan sekadar penjajahan ekonomi, tetapi penjajahan yang berakar pada ideologi sehingga pola-polanya harus diwaspadai. Ia mencontohkan, Zion*s tidak hanya menyerang Gaza dan Tepi Barat, tetapi juga menyerang Suriah, Dataran Tinggi Golan, termasuk Iran. ”Sebenarnya itu merupakan bagian dari akrobat militer Zion*s yang selalu menciptakan perang multifront dan mengguncang Timur Tengah,” ulasnya.
Kapitalisme Memberi Ruang
Ambisi Zion*s ini, ucapnya, terus tumbuh karena habitat ideologi kapitalisme memberikan ruang untuk itu. ”Selama ada kapitalisme maka Zion*sme akan terus berkembang, bahkan berpenetrasi pada proyek-proyek kapitalisme. Ini ciri khasnya, setiap ada proyek kapitalisme, Zion*sme bisa masuk ke sana,” simpulnya sembari mencontohkan kasus di Malaysia yang mana ada warga Isra*l yang dengan mudah masuk ke Malaysia karena dibantu pengusaha Amerika keturunan India yang pro-Zion*s di sana.
Selain itu, sambungnya, lemahnya kesadaran penguasa muslim terhadap integritasnya pada ajaran Islam juga memberi ruang tumbuh suburnya Zion*sme. ”Mereka tidak menyadari bahwa Islam juga sebuah ideologi yang bisa mengimbangi Zion*sme dan bisa memberantas Zion*sme dari akarnya,” ungkapnya prihatin.
Menurutnya, umat Islam seharusnya bukan hanya memboikot produk-produk fisik Zion*s, tetapi wajib memboikot ajarannya. Ia menjelaskan bahwa Zion*sme adalah gerakan politik yang muncul di abad ke-19 dan mendapatkan momentum di abad ke-20, yaitu ketika Daulah Islam runtuh. ”Ia adalah gerakan ultranasionalis yang memanfaatkan ashabiyah kaum Yahudi yang dibidani Inggris dan dibesarkan oleh Amerika,” imbuhnya.
Mencerdaskan Umat
Dalam pandangan Fika, harus ada upaya lebih untuk mencerdaskan umat bahwa Zion*sme adalah gerakan politik yang menggunakan doktrin teologis yang diideologisasi oleh kapitalisme. ”Doktrin teologisnya sudah mengalami metamorfosis menjadi kekuatan politik yang membawa nilai-nilai yang diemban ke seluruh dunia dengan menempel pada ideologi kapitalisme. Ini yang mengejutkan saya secara pribadi, mereka sudah merancang negara jaringan. Dengan sumber daya mereka yang banyak mereka ingin menguasai teknologi, ekonomi, dan tanah di berbagai wilayah,” bebernya.
Fika menjelaskan, ibarat sel kanker, Zion*sme akan terus mereproduksi diri agar tetap menempel di inangnya. ”Inangnya dalam hal ini adalah tanah kaum muslim, negeri kaum muslim. Masyarakat muslim sebenarnya memiliki antibodi alami berupa ajaran Islam, tetapi antibodi itu belum diaktifkan,” sindirnya.
Untuk mengalahkan Zion*sme, ujar Fika, seluruh komponen umat harus menyadari bahwa umat Islam memiliki kekuatan pemikiran, kekuatan ideologi sampai ke tataran sistem. ”Kita harus sudah mengubah posisi kita, bukan hanya korban, tetapi kita juga pelaku peradaban. Ini yang harus kita siapkan! Kalau mereka punya konsep yang visioner, kita harus jauh lebih visioner, bagaimana kita membangun tatanan peradaban termasuk dalam kehidupan bernegara,” tegasnya.
Ini, kata Fika, harus dilakukan secara serius melibatkan seluruh komponen umat, yaitu aktivis, organisasi Islam, dan partai politik Islam untuk menyiapkan umat. ”Zion*sme tidak bisa dibasmi hanya dengan mengirimkan bantuan makanan, obat-obatan, boikot produk, atau pengiriman relawan. Sebabnya, Zion*sme telah menjelma menjadi kekuatan global dengan menggunakan institusi politik negara kapitalisme,” pungkasnya. [MNews/IA]
