Penulis: Ustazah Dra. Iffah Ainur Rochmah
Muslimah News, KOLOM — Sebelum mem-futuhat Makkah, Rasulullah saw. melakukan banyak manuver militer dan membersihkan entitas kaum musyrik. Caranya, Rasulullah saw. memutus (hubungan) kabilah-kabilah yang memungkinkannya akan membantu kekuatan kaum kafir Quraisy.
Memang, kabilah-kabilah ini kecil sehingga tidak akan menghasilkan kekuatan yang menggentarkan. Namun, jika kabilah-kabilah tersebut diarahkan dalam arus yang sama dengan satu komando, maka bisa memberikan pengaruh efektif (dalam mendukung Quraisy).
Manuver-manuver militer tersebut, pertama, Rasulullah saw. mengirim Umar bin Khaththab ra. bersama sekelompok mujahid ke Turbah pada Syakban 7 H. Kedua, mengirim Abu Bakar ra. bersama sejumlah mujahid ke Bani Kalb di Najd pada Syakban itu juga. Ketiga, Rasulullah saw. memerintahkan Bisyir bin Sa’ad agar membawa pasukannya ke Bani Murrah di Fadak pada Syakban itu pula. Keempat, mengirim pasukan yang dipimpin Ghalib bin Abdullah al-Laitsi ke Maifa’ah di Najd pada Ramadan. Kelima, Rasulullah saw. memerintahkan Bisyir bin Sa’ad al-Anshari bersama 300 orang pasukannya ke Yuman dan Jubar yang merupakan wilayah Ghatfan pada Syawal. Ini dilakukan karena diketahui bahwa orang-orang berkumpul di sana untuk melawan Negara Islam. Dalam kelima ekspedisi militer ini, pasukan kaum muslim memperoleh kemenangan.
Ekspedisi-ekspedisi militer tersebut dilaksanakan untuk mengukuhkan Daulah Islam di Madinah. Juga menghilangkan peluang yang dimiliki musyrik Quraisy untuk memperkuat dirinya jika Daulah Islam menyerang.
Futuhat
Dalam pandangan Islam, futuhat adalah misi yang ditetapkan Allah Swt. kepada kaum muslim untuk memberikan kerahmatan ke seluruh penjuru dunia, bukan berasal dari hawa nafsu. Jadi, kaum muslim akan meningkatkan kapasitasnya, termasuk dalam hal alat-alat persenjataan dan teknologi perang. Ini dilakukan dengan mengirimkan utusan ke negeri-negeri yang lain untuk mempelajari teknologi.
Misi yang ditanamkan pada diri mereka adalah untuk mempelajari alat-alat perang dalam rangka mewujudkan لإِسْلاَمُ يَعْلُوْ وَلاَ يُعْلَى
Artinya, “Islam itu tinggi dan tidak ada yang mengalahkan ketinggiannya.” (HR. Ad-Daruquthni).
Ketinggian Islam ini bukan untuk manusianya saja, tetapi untuk meninggikan agama Allah Swt. di muka bumi.
Ketika utusan-utusan itu kembali, mereka difasilitasi untuk memproduksi senjata. Tujuannya adalah jihad fi sabilillah, termasuk dalam rangka futuhat. Mereka benar-benar dihargai dan didayagunakan kemampuannya sehingga mereka merasakan hasil dari belajar ke negeri-negeri lain tadi. Ini sebagaimana yang dilakukan Rasulullah saat mengepung Thaif, persenjataannya merupakan hasil belajar para utusan dari wilayah Jarsy di Yordania.
Eksistensi Negara
Inilah yang dicontohkan Rasulullah saw. dalam mempertahankan eksistensi negara. Apabila dibandingkan dengan kondisi kaum muslim di tengah sistem sekuler saat ini dalam menguatkan eksistensinya, ternyata sangat berat. Kalaupun mengambil teori-teori lain di luar Islam, masih banyak kekurangan dan cacat. Sebabnya, ada jutaan items urusan negara sehingga sangat sulit menanganinya.
Oleh karena itu, manusia jangan sombong dan merasa lebih banyak pengalaman. Jika tidak mengembalikannya kepada aturan Allah Swt., serta mencontoh yang dilakukan Rasulullah saw. dan khulafaurasyidin, maka bagaimana manusia mau mengurus kompleksitas masalahnya, baik dalam urusan negara maupun tatanan dunia internasional? [MNews/RA]
