[Kabar] Bed Rotting, Pemerhati: Industri Digital Mengeksploitasi Emosi Generasi untuk Keuntungan Ekonomi

[Kabar] Bed Rotting, Pemerhati: Industri Digital Mengeksploitasi Emosi Generasi untuk Keuntungan Ekonomi

Muslimah News, NASIONAL — Fenomena bed rotting kini menjadi tren yang akrab di kalangan Gen Z dan pelajar. Berjam-jam berada di tempat tidur sambil scrolling media sosial, menonton video, bermain gim, atau sekadar menghindari aktivitas luar dianggap sebagai bentuk healing dan self-care. Namun di balik istilah yang terdengar santai itu, pakar justru melihat alarm bahaya bagi kesehatan mental generasi muda.

Pemerhati pendidikan dan dunia remaja Diansyah Novi Susanti, S.Pt. mengatakan, fenomena ini menunjukkan bahwa banyak anak muda hari ini sebenarnya sedang lelah secara mental. “Media sosial dan industri digital pun terus mengeksploitasi perhatian dan emosi generasi muda demi keuntungan ekonomi,” ujarnya kepada MNews, Selasa (26-5-2026).

Menurutnya, mereka hidup di tengah tekanan sosial yang besar, tetapi tidak memiliki sistem kehidupan yang mampu memberi ketenangan jiwa dan arah hidup yang jelas. “Kapitalisme menjadikan manusia dinilai berdasarkan produktivitas dalam mengejar materi. Pendidikan tidak lagi diarahkan untuk membentuk manusia berkepribadian mulia, tetapi mencetak tenaga kerja yang siap bersaing di pasar industri,” jelasnya.

Sekularisme, ungkapnya, menjauhkan agama dari kehidupan. “Generasi dibesarkan tanpa pemahaman mendalam tentang tujuan penciptaan manusia. Mereka mengenal hiburan, tetapi kehilangan ketenangan. Mereka terhubung dengan ribuan akun media sosial, tetapi merasa kesepian. Mereka memiliki akses informasi tanpa batas, tetapi kehilangan arah hidup,” terangnya.

Di era digital, ucapnya, pelajar dipaksa hidup dalam budaya kompetisi tanpa henti, prestasi harus banyak, kehidupan harus terlihat bahagia, wajah harus menarik, dan pencapaian harus dipamerkan. “Media sosial menjadikan hidup seperti panggung besar tempat semua orang berlomba mencari validasi. Akibatnya, generasi muda hidup dalam tekanan takut tertinggal, takut gagal, takut tidak dianggap, dan takut tidak sempurna. Ironisnya, ketika mereka tumbang secara mental, negara seolah hanya menangani gejala, bukan akar masalah,” bebernya.

Islam

Islam, ucap Dian, memandang waktu dan kehidupan manusia sebagai amanah yang sangat berharga. Ia mengutip firman Allah Swt. dalam QS Al-‘Ashr: 1—3, “Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan kebajikan, saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.”

Firman Allah ini, lanjutnya, menunjukkan bahwa manusia akan merugi ketika waktu dihabiskan tanpa iman, amal, dan perjuangan dalam kebaikan. “Islam tidak membentuk generasi yang larut dalam kemalasan dan pelarian hidup, tetapi generasi yang memiliki visi besar dan kesungguhan dalam amal,” jelasnya.

Dalam Islam, tuturnya, waktu bukan untuk dihabiskan tanpa arah, melainkan untuk dimanfaatkan dalam ketaatan, ilmu, dan kontribusi bagi umat. Karena itu, Islam mendidik generasi dengan konsep mujahadah—bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu dan kemalasan,” ungkapnya.

Islam, ujarnya, mengajarkan istikamah dan istimror, konsisten dan terus-menerus dalam kebaikan, meski kecil. “Nilai-nilai inilah yang membentuk generasi Islam terdahulu menjadi generasi tangguh, visioner, dan produktif. Lihatlah bagaimana pemuda pada masa Rasulullah saw. tumbuh dengan kepribadian Islam yang kuat. Ali bin Abi Thalib, Mus’ab bin Umair, dan Usamah bin Zaid. Mereka bukan generasi yang tenggelam dalam hiburan dan pelarian hidup, tetapi generasi yang tumbuh dengan visi perjuangan dan kontribusi bagi peradaban,” terangnya.

Mereka, imbuhnya, lahir dari sistem pendidikan Islam yang membangun syahsiah islamiah—kepribadian Islam—yakni pola pikir dan pola sikap yang dibangun di atas akidah Islam. “Dalam pendidikan Islam, sejak kecil anak ditanamkan kesadaran bahwa hidup adalah ibadah, pemahaman halal dan haram, tanggung jawab sebagai hamba Allah, serta kewajiban menjaga waktu dan diri dari perkara sia-sia,” urainya.

Lebih dari itu, Dian mengatakan, sistem pendidikan Islam tidak menyerahkan pembinaan generasi hanya kepada sekolah. “Negara, keluarga, dan masyarakat berjalan bersama membentuk lingkungan Islami,” ucapnya.

Negara, tambahnya, wajib menyediakan pendidikan Islam yang berkualitas dan mudah diakses seluruh rakyat, bukan pendidikan mahal yang hanya melahirkan tekanan akademik dan persaingan materialistik. “Inilah perbedaan mendasar antara Islam dan kapitalisme. Islam membangun sistem kehidupan yang menjaga manusia agar tetap sehat secara mental, kuat secara spiritual, dan kokoh kepribadiannya,” jelasnya.

Untuk itu, ia menandaskan, sudah saatnya generasi muda memahami Islam tidak hanya sebatas ibadah ruhiah tetapi menjadi panduan sistem hidup yang menyelamatkan dan memuliakan generasi. [MNews/IK]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *