Muslimah News, INTERNASIONAL — Pemerhati isu politik Fatma Sunardi menilai, motivasi Amerika Serikat (AS) menyerang Iran hanya melanjutkan penjajahan yang sebelumnya sudah terjadi di negeri-negeri muslim. ”Apa yang terjadi di Iran saat ini merupakan kelanjutan dari apa yang telah lama disaksikan di Palestina, Irak, Afganistan, Suriah, dan Yaman. Musuh-musuh Islam tidak membedakan antara sekte atau perbatasan, mereka menghadapi satu umat yang ingin mereka lemahkan, pecah belah, dan kendalikan,” tuturnya dalam Bincang Tokoh Muslimah dengan tajuk ”Konflik Dunia Retaknya Dominasi Global dan Potensi Kesatuan Negeri Muslim”, Jumat (10-4-2026).
Ia menjelaskan, Iran mampu membalas agresi militer yang dilakukan oleh AS dan Zion*s Yahudi karena Iran memiliki sistem politik yang unik dengan menggabungkan unsur republik dengan struktur kepemimpinan religius. ”Dalam sistem ini, jabatan tertinggi negara adalah pemimpin tertinggi (supreme leader) yang memiliki otoritas strategis dalam bidang militer, keamanan nasional, serta arah kebijakan luar negeri,” terangnya.
Kekuasaan, lanjutnya, tidak hanya bertumpu pada satu individu, melainkan didukung oleh jaringan institusi politik, religius, dan militer yang saling terhubung. Struktur ini, kata Fatma, memungkinkan negara tetap menjalankan fungsi pemerintahan bahkan dalam situasi krisis.
”Gaya pemerintahan seperti ini mampu memberikan stabilitas sehingga masyarakatnya memberikan dukungan kepada keputusan politik. Terlebih di dalam negeri, Iran mampu memberikan layanan publik dasar yang baik,” ulasnya.
Perang Belum Selesai
Meski demikian, Fatma mengingatkan bahwa perang belum selesai, sementara industri persenjataan Iran sudah dihancurkan Amerika. ”Melanjutkan perang butuh membangun kembali industri persenjataan yang hancur, butuh kemampuan yang besar. Sementara Iran hanya bisa berharap dukungan pada proksi, seperti Hamas, Hizbullah, Houthi, dan beberapa milisi,” bebernya.
Dalam pandangannya, sesungguhnya ada pilihan politik lain yang bisa diambil oleh Iran, yaitu dengan menggabungkan potensi dunia Islam. ”Penyatuan dunia Islam akan menjadikan kaum muslim memiliki negara terluas wilayahnya dengan jumlah penduduk lebih dari 2,18 miliar. Penyatuan juga akan menjadikan dunia Islam menjadi negara kedua yang terkuat militernya dan terbanyak pasukannya, juga negara dengan ekonomi nomor tiga terbesar dan terbanyak sumber energinya, dan dalam output industri,” bebernya.
Hanya saja, ia menerangkan, penyatuan dunia Islam membutuhkan konsepsi politik yang sesuai syariat. ”Islam menawarkan konsepsi politik yang mampu melebur bangsa-bangsa dan negara-negara, yaitu Khilafah,” tandasnya.
Transformasi Mendasar
Fatma meyakini, selama umat muslim tetap terpecah belah dan diperintah oleh kepemimpinan yang selaras dengan kepentingan asing, siklus penindasan akan terus berlanjut. ”Solusinya bukan terletak pada aliansi sementara atau penyesuaian kebijakan, tetapi pada transformasi mendasar dari struktur politik umat itu sendiri yaitu persatuan politik sejati di bawah Khilafah,” tegasnya.
Tanpa transformasi ini, menurutnya, setiap konflik baru hanya akan mewakili babak lain dalam pola penindasan yang berkelanjutan. ”Transformasi umat menuju terwujudnya Khilafah membutuhkan perjuangan dan dakwah ideologis oleh sebuah partai politik ideologis. Partai ini senantiasa ada di tengah umat, berjuang, hingga munculnya kekuasaan Islam, yaitu Khilafah,” pungkasnya. [MNews/IA]
