Muslimah News, INTERNASIONAL — Agresi yang dilancarkan oleh Amerika Serikat (AS) dan entitas Yahudi terhadap Iran bukan sekadar operasi militer di kawasan Teluk. Sebaliknya, ini merupakan ujian kompleks terhadap batas kekuatan AS dan kapasitas tatanan internasional untuk menavigasi konflik regional baru selama fase transisi di mana dinamika kekuatan global bergeser dengan cepat. Pernyataan itu disampaikan aktivis dakwah Ahmed al-Khatwani kepada Kantor Berita ideologis internasional, Rabu (25-3-2026).
Pasalnya, ia memandang, kekuatan militer saja, meskipun tidak dapat disangkal pentingnya, tidak cukup untuk mencapai tujuan strategis utama. ”Selain itu, konflik militer di wilayah sensitif, seperti Teluk Arab terkait erat dengan ekonomi global, pasar energi internasional, dan perdagangan global, terutama mengingat kedekatannya dengan salah satu jalur air terpenting di dunia, Selat Hormuz, yang dilalui oleh 20% pasokan minyak dan gas global,” imbuhnya.
Kemenangan Cepat
Ahmed menuturkan, sejak hari pertama perang, Presiden Trump mempromosikan gagasan untuk mencapai kemenangan cepat atas Iran. ”Namun, realitas konflik yang terungkap segera menunjukkan kekeliruan klaim tersebut. Akibatnya, dan karena kebutuhan, Trump meminta bantuan kepada sekutu Eropa dan NATO serta kepada Cina, Australia, dan Jepang untuk mengamankan navigasi melalui Selat Hormuz. Dengan melakukan hal itu, ia meminta mereka untuk membantu memerangi Iran, sebuah permintaan yang dalam praktiknya, secara langsung bertentangan dengan narasi kemenangan yang diklaimnya,” kritiknya.
Kemampuan Iran untuk dengan mudah menutup Selat Hormuz sehingga mengganggu lalu lintas maritim, ucapnya, telah menjerumuskan ekonomi global ke dalam krisis energi yang nyata.
”Situasi ini telah menggarisbawahi besarnya kecemasan global mengenai kelanjutan perang, serta menegaskan bahwa setiap konfrontasi militer di Teluk tidak dapat tetap menjadi masalah regional yang terbatas. Sebaliknya, hal itu langsung berubah menjadi masalah ekonomi global. Konflik yang sedang berlangsung di Teluk sekarang berdampak pada seluruh dunia,” jelasnya.
Menolak Turun Tingkat
Ia mengatakan, Iran menolak turun tingkat dari negara satelit menjadi negara agen. Oleh karena itu, lanjutnya, Iran akan terus mendapat pukulan dari AS dan Yahudi. ”Iran melakukan pengorbanan dan menanggung penderitaan rakyatnya dengan harapan mempertahankan kedudukannya dan melestarikan model pemerintahan yang telah dipertahankannya selama empat puluh tahun,” ulasnya.
Sementara Eropa, kata Ahmed, ragu untuk bersekutu dengan AS dalam koalisi angkatan laut yang diusulkan oleh pemerintahan Trump yang bertujuan untuk melindungi navigasi di Teluk. ”Ini mencerminkan keretakan yang makin lebar antara kedua belah pihak memberikan pukulan fatal bagi aliansi historis dan tradisional mereka,” terangnya.
Sementara itu, ucapnya, Rusia dan Cina memantau perkembangan militer dengan hati-hati. “Mereka memiliki keinginan untuk melihat AS terperangkap dalam rawa-rawa kawasan Teluk, secara aktif berupaya melemahkannya dengan membuatnya tetap terlibat dalam perang yang berkepanjangan dan sia-sia yang menguras kekuatannya sehingga membuka jalan bagi mereka untuk menegaskan kehadiran ekonomi dan politik mereka sendiri di kawasan tersebut,” urainya.
Tatanan Internasional
Ia menduga, perang ini akan membentuk kembali tatanan internasional dalam beberapa tahun mendatang, terutama setelah kegagalan pemerintahan Trump untuk memaksa Iran menyerah, serta kegagalannya untuk melakukan perubahan dalam kepemimpinan Iran, atau menggulingkan rezim Iran.
”Respons Iran terhadap agresi yang diarahkan kepadanya oleh AS dan entitas Yahudi bersifat eksistensial. Itu bukan sekadar simbolis dan terbatas, seperti yang diklaim Trump,” tandasnya.
Respons ini, sambungnya, juga mencakup penegasan kendali absolut atas Selat Hormuz dan memanfaatkan potensi penutupannya untuk memberikan pengaruh pada ekonomi global.
“Selain itu, Iran menggunakan proksi Hizbullah di Lebanon dengan tingkat efektivitas yang luar biasa tinggi, sebuah langkah yang menghidupkan kembali gagasan untuk menjebak entitas Yahudi dalam rawa Lebanon, seperti yang terjadi pada tahun 1980-an. Hal ini juga menandakan kesiapan Iran untuk menggunakan kartu Houthi dengan potensi yang lebih besar, jika diperlukan,” bebernya.
Salah Memperhitungkan
Beberapa laporan AS, kata Ahmed, menyatakan bahwa pemerintahan Trump salah memperhitungkan setidaknya dua faktor. ”Pertama bahwa Iran akan merespons kali ini dengan memandang konflik tersebut sebagai ancaman eksistensial, bukan hanya pertempuran kecil yang bersifat pencegahan seperti perang singkat tahun sebelumnya. Kedua bahwa dampak terkait Selat Hormuz dan pasar energi dapat dengan cepat diatasi,” sebutnya.
Akibatnya, ia melanjutkan, AS terpaksa menyesuaikan rencananya di tengah konflik, beralih dari mempercepat evakuasi diplomatik, ke mengeksplorasi opsi untuk menurunkan harga bahan bakar.
“Pemerintahan Trump sekarang mencari strategi keluar yang menyelamatkan muka, terutama mengingat oposisi politik yang kuat, baik domestik maupun internasional, terhadap perpanjangan perang dan karena kekhawatiran mengenai potensi dampak negatifnya terhadap pemilihan paruh waktu AS yang dijadwalkan pada November mendatang,” ulasnya.
Ia menduga, Trump akan secara keliru menyatakan kemenangan telak, mengklaim bahwa pasukannya telah menghancurkan kemampuan militer Iran lebih dari 90%, membuat negara itu mundur dua puluh tahun, dan menegaskan bahwa AS akan terus mengisolasi Iran, menjatuhkan sanksi kepadanya, dan melancarkan serangan kapan pun dianggap perlu, sampai Iran sepenuhnya memenuhi semua tuntutan Amerika.
“Di sisi lain, konflik ini telah mengungkap kerentanan kritis terkait kebebasan navigasi internasional melalui selat maritim strategis, serta ketidakmampuan kekuatan global utama untuk secara efektif mengamankan jalur air ini,” paparnya.
Konflik ini, terang Ahmed, telah menyingkap kerapuhan ekonomi global dan ketergantungannya yang mendalam pada sumber energi. “Ini juga menyingkap perkembangan yang menggarisbawahi memudarnya hegemoni AS atas tatanan internasional, kegagalan konsep unipolar, dan kegagalan utama upaya Trump untuk membentuk tatanan global baru yang didominasi sepenuhnya oleh AS,” pungkasnya. [MNews/IA]
