[Kabar] Pengusiran Paksa di Al-Auja, Bukti Buruknya Sistem Internasional

[Kabar] Pengusiran Paksa di Al-Auja, Bukti Buruknya Sistem Internasional

Muslimah News, INTERNASIONAL — Peningkatan serangan dari para pemukim Yahudi kepada komunitas Badui di daerah Air Terjun Al-Auja, Palestina, menyebabkan sekitar 20–33 keluarga terpaksa meninggalkan rumah mereka.

Serangan tersebut meliputi pengosongan tangki air, pemutusan saluran air yang terhubung ke rumah-rumah, melarang penduduk mengambil air dari mata air, mencuri ternak, memotong kabel listrik, dan pelecehan terus-menerus terhadap penduduk di bawah perlindungan pasukan pendudukan.

Di tengah ketiadaan otoritas yang bertanggung jawab di Palestina, baik Kementerian Informasi, Kementerian Kesehatan, maupun pasukan keamanan, penduduk Al-Auja menjadi tidak berdaya menghadapi serangan sistematis ini. Keluarga-keluarga mulai membongkar rumah dan tenda mereka dan mengungsi ke daerah lain seperti Al-Jiftlik atau desa-desa yang berdekatan dengan Jericho. Ini mengancam hilangnya kekayaan peternakan yang besar di daerah tersebut.

Buruknya Sistem Internasional

Juru bicara (jubir) Divisi Perempuan jemaah dakwah ideologis internasional menilai, serangan ini menjadi bukti buruknya sistem internasional. “Di tengah penderitaan yang dialami penduduk Al-Auja, negara-negara Arab justru sibuk dengan jumlah kuota yang akan diperoleh perempuan di parlemen. Sementara perempuan-perempuan di Al-Auja dan perempuan-perempuan di kamp-kamp Tulkarm dan Jenin, serta perempuan-perempuan lain yang dipaksa meninggalkan rumah dan tempat tinggal mereka oleh pendudukan, mengalami marginalisasi dan pemadaman informasi oleh media,” ungkapnya kepada Kantor Berita ideologis internasional, Jumat (16-1-2026).

Ia menduga, pendudukan ini didanai oleh negara-negara besar dan mereka menutup mata terhadap kejahatan dan pelanggaran yang terus-menerus terjadi. “Merekalah yang memberi ceramah kepada kita tentang rencana keberlanjutan (sustainability plans). Sementara melalui sistem internasional, mereka membangun planet yang didasarkan pada ketidakadilan dan pelanggaran, di mana yang kuat memangsa yang lemah, dan kelangsungan hidup bukanlah untuk yang terbaik dalam moral maupun peradaban, tetapi untuk siapa pun yang memiliki uang dan sarana kekuasaan materi,” kritiknya.

Namun ia meyakini, ketidakadilan yang terjadi di Al-Auja, juga tempat lain tidak akan berlangsung lama. “Allah memberi kesempatan kepada penindas hingga Dia menangkapnya dan tidak akan membiarkannya lolos,” tandasnya.

Beratnya penderitaan yang dihadapi para muslimah Palestina dengan sabar, ucapnya, menjadi ujian berat bagi para penguasa yang seharusnya mampu memberantas ketidakadilan, tetapi tidak melakukannya. ”Murka Raja segala Raja tidak membuat mereka gentar,” sesalnya.

Terakhir, ia melukiskan keadaan di Al-Auja dengan mengutip firman Allah Swt. dalam QS Al-Qasas: 4—5, ”Sesungguhnya Fir’aun meninggikan dirinya di bumi dan memecah belah penduduknya menjadi beberapa golongan, menindas sebagian dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan perempuan-perempuan mereka hidup. Sesungguhnya ia termasuk orang-orang yang merusak. Dan Kami ingin memberikan karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi dan menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka pewaris.” [MNews/IA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *