[Kabar] Prediksi 28 Juta Warga Mengalami Gangguan Jiwa, Psikolog: Bukan Problem Individual

[Kabar] Prediksi 28 Juta Warga Mengalami Gangguan Jiwa, Psikolog: Bukan Problem Individual

Muslimah News, NASIONAL — Menteri Kesehatan memprediksi sekitar 28 juta warga Indonesia mengalami gangguan jiwa sehingga mendorong penguatan layanan kesehatan jiwa di Puskesmas.

Namun, psikolog Sisca Efnita, M.Psi. mengingatkan, pada saat prevalensi gangguan jiwa mencapai skala puluhan juta orang dalam satu negara, masalah ini tidak lagi dapat dikatakan sebagai problem individual, melainkan fenomena sosial massa yang menandakan adanya problem struktural dalam sistem kehidupan modern.

“Gangguan jiwa bukan hanya ‘kelemahan individu’, tapi juga konsekuensi logis dari penerapan sistem kapitalisme yang menggerus makna hidup, solidaritas, dan ketenangan batin,” jelasnya kepada MNews, Rabu (18-2-2026).

Jika gangguan jiwa dipahami hanya sebagai persoalan individual dan klinis, tambahnya, intervensi pelayanan kesehatan berisiko sekadar memadamkan api di hilir, sedangkan sumber kebakaran di hulu dibiarkan menyala. “Layanan primer tidak akan optimal jika berdiri sendiri. Tanpa dukungan kebijakan sosial, layanan kesehatan mental hanya tempat pemberian obat,” ujarnya.

Apalagi, terangnya, obat dan konseling tidak akan cukup jika pasien kembali ke lingkungan yang penuh tekanan struktural. “Dengan kata lain, puskesmas dapat mengobati luka, tapi tidak selalu mampu menghentikan ‘pisau yang terus menusuk’,” jelasnya.

Tekanan

Ia mengungkapkan, kapitalisme yang menilai manusia terutama dari produktivitas dan pencapaian material cenderung menciptakan tekanan performa, ketakutan gagal, dan rasa tidak aman eksistensial. “Juga menimbulkan tekanan ekonomi yang makin mengimpit, kompetisi kerja makin ketat, beban hidup makin berat, dan ruang digital makin disruptif. Semua itu membuat kondisi masyarakat makin stres kronis,” ucapnya.

Ketika stres berlangsung lama tanpa dukungan yang memadai, ungkapnya, depresi dan kecemasan akan menyerang.   

Terlebih lagi, jelasnya, kapitalisme merupakan sistem kehidupan yang membentuk cara manusia menilai, memberi penghargaan, dan membangun kebijakan. “Konsekuensinya, penderitaan mental muncul sebagai biaya sosial dari akumulasi dan kompetisi yang dinormalisasi,” ujarnya.

Kapitalisme, tambahnya, bukan hanya membuat orang stres, tapi juga menyediakan cara untuk menamai stres itu sebagai urusan pribadi. “Lalu ia menjual solusi dengan self healing melalui wisata, shoping, training, dan party sehingga sistem yang memproduksi stres tetap berjalan tanpa gangguan,” cetusnya.

Kapitalisme, sebutnya, memindahkan beban sosial ke pundak individu. “Layanan kesehatan bekerja sebagai mekanisme agar orang cukup pulih untuk kembali berfungsi dalam sistem yang sama, bukan agar sistemnya berubah menjadi lebih manusiawi,” kritiknya.

Cara Pandang Islam

Sisca menerangkan, Islam memiliki cara pandang yang berbeda dengan kapitalisme. “Dalam Islam, nilai manusia tidak ditentukan oleh produktivitas ekonomi, tapi dinilai dari ketakwaannya,” jelasnya mengutip QS Al-Hujurat: 13, “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.”

Dalam Islam, urainya, hidup tidak diukur dari banyaknya materi yang dihasilkan, tapi dinilai dari kesesuaian perilakunya dengan syariat yang memberikan makna dalam kehidupan. “Pada level individu, ajaran Islam tentang tauhid, sabar, syukur, dan tawakal bukan sekadar nasihat moral, tapi kerangka psikologis yang membebaskan manusia dari perbudakan terhadap pasar dan penilaian sosial,” tuturnya.

Islam , paparnya, mengembalikan makna hidup ke poros yang lebih stabil sehingga kegagalan duniawi tidak otomatis berarti kehancuran diri. “Banyak penelitian kontemporer menunjukkan bahwa spiritualitas dan orientasi hidup bermakna berkorelasi dengan kesehatan mental yang lebih baik, terutama dalam menghadapi stres yang tidak bisa sepenuhnya dikendalikan,” ucapnya.

Selain itu, jelasnya, Islam tidak berhenti pada dimensi individu karena Islam adalah agama sekaligus ideologi yang memiliki mekanisme dalam mengatur masyarakat. “Islam memberikan pilar-pilar tentang kebahagiaan yang harus diwujudkan oleh penguasa karena penguasa adalah pemimpin dan pelindung bagi rakyatnya sebagaimana hadis riwayat Bukhari dan Ahmad, ‘Imam (khalifah) itu pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang ia urus.’,”imbuhnya.

Sisca mengemukakan, Islam memiliki mekanisme sosial, ekonomi dan politik yang secara langsung menyasar akar permasalahan. “Jaminan kebutuhan dasar masyarakat berupa pangan, sandang, papan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan menjadikan individu dan masyarakat sehat secara ekonomi. Zakat, infak, sedekah dan wakaf bukan hanya sekadar amal, tapi juga instrumen yang bertujuan mencegah kemiskinan struktural,” terangnya.

Dalam konteks kesehatan mental, ujarnya, ini sangat pentin, karena kemiskinan, utang, dan ketidakamanan ekonomi adalah pemicu utama stres kronis dan gangguan jiwa.

Ditambah lagi, ungkapnya, jaminan pendidikan gratis dan berkualitas memiliki peran penting dalam pembinaan generasi untuk menanamkan ideologi Islam yang kuat sehingga tumbuh sosok-sosok generasi berkepribadian Islam. “Kekuatan akidah Islam yang menjadi landasan berpikir, bersikap, dan bertindak menjadikan generasi akan mengikatkan seluruh aktivitasnys dengan syariat Islam,” tuturnya.

Jadi, ia menegaskan, prediksi 28 juta orang terkena gangguan jiwa merupakan pesan bahwa ada yang keliru dengan cara kita membangun kehidupan. “Selama ini kita hanya sibuk mengobati orang. Tanpa berani mempertanyakan sistem yang membuat mereka sakit, angka itu mungkin tidak akan turun,” tandasnya. [MNews/RA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *