Penulis: MR Kurnia, dkk.
Muslimah News, TELAAH KITAB — Seorang muslim yang telah memahami hakikat hidupnya di dunia telah mengerti dengan benar dari mana ia berasal, untuk apa ia hidup, bagaimana ia harus menjalani kehidupan, serta akan ke mana setelah mati. Tentu ia akan memahami pula bahwa melejitkan valensi diri guna menjalani kehidupan demi menggapai kebahagiaan dunia akhirat merupakan sebuah konsekuensi.
Valensi adalah nilai diri yang berintikan pada kompetensi atau keunggulan diri sebagai hamba Allah Taala. Valensi dibangun dari sejumlah potensi hidup yang secara fitrah telah dilekatkan Allah saat penciptaan manusia. Bagaimana caranya? Uraian berikut menyajikannya.
Ibadah Mahdhah, Sebuah Energi
Muhammad saw. adalah Rasulullah. Beliau dan para sahabatnya tukang rukuk dan sujud bersimpuh di hadapan Allah Taala. Sejak awal, beliau memang diperintahkan oleh Allah Swt., Sang Pencipta kita, untuk senantiasa dekat dengan-Nya. Ibadah mahdhah merupakan jalan penting meraih kedekatan ini. Ternyata Rasulullah saw. beserta para sahabatnya memiliki ketegaran dalam mengarungi kehidupan memperjuangkan Islam. Ketegaran ini sebagai buah dari ibadah yang dilakukannya.
Kemenangan pun mereka raih. Kehidupan mereka yang berat dapat diraih dengan gemilang. Sama seperti mereka, kehidupan kita juga berat, apalagi pada zaman sekarang. Sebagai contoh, seorang mahasiswa mengeluh karena dosennya sulit ditemui sehingga skripsinya tidak segera beres. Ada juga sarjana yang pusing tujuh keliling karena kesulitan mencari pekerjaan, sedangkan godaan tidak terhitung banyaknya.
Di sisi lain, masyarakat banyak yang mengidap penyakit sikap acuh tidak acuh. Orang sering kali tidak peka terhadap kesulitan temannya, padahal permasalahan begitu banyak. Tetangga sebelah rumah sering membuat masalah. Mobil rusak berat karena orang yang tidak bertanggung jawab menabraknya dari belakang. Anak merengek terus minta jajan, sedangkan uang sudah sangat minim, bahkan kurang. Mungkin juga problem interaksi dengan istri atau suami yang tidak harmonis.
Wajar saja jika Anda atau siapa pun orangnya akan merasa penat menghadapi berbagai persoalan hidup tersebut. Apalagi jika Anda adalah seorang pengemban dakwah. Sekalipun permasalahan pribadi tidak dipandang sebagai persoalan berat, tetapi persoalan menyampaikan dakwah pun tidak semulus jalan tol. Ejekan, sikap sinis, tuduhan, cap negatif, ancaman, propaganda, kekhawatiran akan dijebloskan ke penjara, rekrutmen yang tersendat, dimata-matai, tuntutan banyak padahal kemampuan terasa kurang, kewajiban lebih banyak daripada waktu 24 jam sehari yang dimiliki, dan berbagai persoalan lainnya.
Pribadi yang dapat tegar dalam menghadapi semua ini adalah pribadi yang memiliki kekuatan raksasa. Kekuatan itu bukanlah dorongan materil berupa uang, popularitas, relasi, atau banyak kenalan yang membantu. Bukan pula kekuatan maknawiyah berupa kasihan kepada orang lain, sayang menghambur-hamburkan waktu, atau membela saudara.
Bukan, sekali lagi bukan itu kekuatan raksasa yang kokoh tersebut. Kekuatan raksasa itu tidak lain adalah kekuatan ruhiah berupa kesadaran akan hubungan kita sebagai makhluk dengan Allah Swt. sebagai khalik (idrak shilah billah). Kekuatan raksasa ini terwujud dalam ketaatan. Akhirnya menjelma menjadi kedekatan kita dengan-Nya.
Setiap bentuk ketaatan dapat mendekatkan diri kepada Allah Pencipta Alam. Siapa pun dapat meraihnya, termasuk kita. Di antara cara untuk mencapai kedekatan tersebut adalah dengan melakukan ibadah mahdhah secara sungguh-sungguh kepada-Nya. Yakinlah bahwa Allah Swt. Maha Dekat kepada siapa pun yang ingin mendekatkan diri kepada-Nya.
Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah saw. bersabda dalam suatu hadis qudsi bahwa Allah Swt. berfirman, “Apabila seseorang mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Apabila ia mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Apabila ia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku datang kepadanya dengan berlari.” (HR Bukhari).
Mendekatkan diri dengan memperkuat ibadah mahdhah ini amatlah penting. Buktinya, Nabi saw. melakukan hal tersebut. Beliau adalah orang yang paling banyak kebaikannya. Kepadatan aktivitas dakwahnya pun tidak ada yang menandingi. Akan tetapi, Beliau tetap melakukan ibadah mahdhah dengan penuh kesungguhan.
Alkisah, seperti biasanya pada suatu malam, Rasulullah Muhammad saw. bersama istrinya, ‘Aisyah, bangun untuk salat Tahajud. Tampak kedua kaki beliau bengkak. Kondisi demikian mendorong ‘Aisyah bertanya kepadanya, “Wahai Rasulullah, kenapa tuan berbuat seperti itu (salat Tahajud terus-menerus), sedangkan Allah telah mengampuni segala dosa tuan, baik dosa yang lampau maupun dosa yang akan datang?” Beliau menjawab, “Apakah tidak sepantasnya aku menjadi seorang hamba Allah yang bersyukur?” (HR Bukhari dan Muslim).
Peristiwa di atas menunjukkan betapa Rasulullah saw. mengajari kita untuk senantiasa kontinu dan bersungguh-sungguh mendekatkan diri kepada Allah Swt. dengan berbagai ibadah, termasuk ibadah mahdhah. Dengan demikian, tidak ada alasan bagi siapa pun yang mencintai Rasul dan hendak mencontohnya, mengabaikan ibadah mahdhah tersebut.
Apabila Anda sibuk berdakwah, itu hal bagus. Namun, jika kesibukan tadi dijadikan dalih meninggalkan aktivitas mendekatkan diri kepada Allah Swt. melalui ibadah mahdhah, jiwa akan hampa dan kedekatan kepada-Nya pun menjadi hambar. Yakinlah, ibadah mahdhah merupakan charger baterai yang lemah sehingga berenergi terus. (Silakan menghayati makna QS Al-Furqan: 64).
Meniti Jalan Ibadah
Kalau kita memikirkan bagaimana jalan ibadah dari pangkal hingga ke akhirnya, kita akan mengetahui bahwa jalan tersebut bukanlah jalan yang mudah. Siapa pun pasti pernah merasakan hal ini. Sebagai contoh, boleh jadi ada di antara kita yang masih berat melakukan salat, apalagi salat tahajud. Dorongan untuk melakukannya tidak terasa kuat.
Membaca Al-Qur’an pun sering kali terlupakan apabila tidak dipaksakan. Padahal Al-Qur’an adalah kitab yang kita serukan sebagai sistem kehidupan. Bukan mustahil ada di antara kita yang abai mengamalkan zikir-zikir yang diajarkan Rasulullah atau sudah lupa akibat lama tidak diamalkan. Saya yakin kita semua merasakan bahwa perjalanan ibadah demikian jauh. Banyak bukit yang harus didaki, berat ujiannya, banyak halangannya, sedikit manusia yang mau memahaminya, dan sedikit pula di antara manusia yang berhasil melewatinya.
Gambaran seperti ini bukanlah berarti bahwa ibadah itu berat dan memberatkan. Akan tetapi, memang diperlukan berbagai modal untuk menempuhnya agar seorang hamba berhasil melewati jalan ibadah itu dengan baik. Satu kata kunci dalam hal ini adalah kesungguhan/keistikamahan.
Suatu ketika ada seorang sahabat yang bertanya, “Ya Rasul, beri aku satu nasihat yang dengan nasihat itu aku tidak perlu lagi bertanya kepada orang lain tentang Islam.” Rasul yang mulia pun menjawab, “Qul amantu billâhi tsummastaqim! (Katakanlah, aku beriman kepada Allah, lalu beristikamahlah).” Istikamah bermakna teguh pendirian dalam mengemban dan melaksanakan suatu keyakinan. [MNews/RY-YG]
Sumber: MR Kurnia, dkk, Meretas Jalan Menjadi Politisi Transformatif.
Bersambung ke “Melejitkan Valensi Diri” (Bagian 2/3)
