Muslimah News, INTERNASIONAL — Petugas Penindakan Imigrasi dan Bea Cukai Amerika Serikat (ICE) menembak mati seorang perempuan imigran warga negara AS dalam operasi di Minneapolis, Negara Bagian Minnesota, awal Januari 2026.
Juru bicara (jubir) Divisi Perempuan jemaah dakwah ideologis internasional mengatakan bahwa penembakan itu bagian dari rencana AS mendeportasi warga negara AS yang dianggap sebagai imigran ilegal. “Selama beberapa bulan terakhir, Presiden Trump telah meningkatkan penegakan hukum imigrasi dengan merekrut 12.000 agen baru ICE hanya dalam 4 bulan, mengirim mereka ke kota-kota di seluruh negeri, melecehkan dan meneror orang-orang,” tuturnya kepada Kantor Berita ideologis internasional, Sabtu (17-1-2026).
Ia melanjutkan, pembentukan ICE dilakukan tanpa pelatihan, mengabaikan hukum, dan menarget siapa pun yang terlihat seperti imigran. ”ICE telah menangkap orang-orang yang berada di AS secara legal sebagai warga negara Amerika, bahkan penduduk asli Amerika! Mereka menggunakan kekerasan brutal dalam menangkap laki-laki dan perempuan, serta dalam menangani para pengunjuk rasa,” jelasnya.
Penggerebekan ala Militer
Jubir membeberkan, agen ICE telah melakukan penggerebekan ala militer di kompleks apartemen perumahan di tengah malam, menangkap orang tua yang mengantar anak-anak mereka ke sekolah, menembak seorang pendeta dengan peluru merica saat ia berdoa bersama para demonstran di depan Gedung ICE, dan merenggut seorang istri dari pelukan suaminya saat ia mencoba melindunginya.
“Minneapolis adalah kota tempat mayoritas imigran Somalia tinggal di Amerika. Trump mengatakan bahwa warga Somalia yang tinggal di kota itu hanya menjadi beban bagi AS sehingga harus dideportasi kembali ke Somalia. Trump mengirim 2.000 agen ICE ke kota itu,” terangnya.
Jubir menerangkan, tidak ada alasan jelas kenapa perempuan yang menjadi korban penembakan itu berada di kota tersebut. Tampaknya, kata jubir, ia menggunakan kendaraannya untuk menghalangi kendaraan ICE memasuki lingkungan tersebut sehingga ia ditembak.
“Ada beberapa video yang diambil dari penembakan tersebut. Korban terlibat adu mulut dengan seorang petugas. Perempuan itu tidak memiliki senjata dan tidak mengancam siapa pun. Ia perlahan memundurkan kendaraannya agar bisa pergi. Namun, tiga agen terlihat mengelilingi kendaraannya dan salah satu dari mereka mengeluarkan pistolnya dan menembaknya dari jarak dekat di wajah 2—3 kali,” bebernya.
Jubir menyesalkan, Menteri Keamanan Dalam Negeri AS Kristi Noem justru membuat pernyataan yang menyebut korban sebagai teroris, padahal faktanya tidak demikian. ”Tindakan penyalahgunaan kekuasaan yang menjijikkan ini hanyalah salah satu dari banyak contoh bahwa Amerika yang sering membanggakan dirinya sebagai mercusuar keadilan dan kebebasan, justru telah menunjukkan wajah aslinya di hadapan dunia,” tandasnya.
Kejamnya Politik Sekuler
Jubir menilai, tindakan AS melindungi petugas yang menembak seorang perempuan hanyalah salah satu contoh betapa kejamnya sistem politik sekuler yang cacat dan memecah belah.
”Perlakuan tidak manusiawi dan brutal terhadap imigran yang hanya mencari pekerjaan yang lebih baik atau perlindungan dari kekerasan yang mereka alami di tanah air mereka, menunjukkan hilangnya kemanusiaan dan belas kasih dari sistem kapitalisme,” tandasnya.
Ia lalu membandingkan dengan sistem politik Daulah Khilafah Islam. “Pemimpin berkewajiban untuk mengurus urusan warga negara. Kepolisian tidak diperbolehkan menggunakan kekerasan berlebihan terhadap rakyat karena Nabi Muhammad saw. bersabda, ‘Imam (penguasa) adalah pelindung dan bertanggung jawab atas rakyatnya.’,” paparnya.
Khilafah, ucapnya, akan menerima para migran dan memberi mereka perlindungan serta kehidupan yang bermartabat sebagai warga negara penuh jika mereka ingin menjadikan Khilafah sebagai naungan mereka. “Inilah keadilan Islam! Semua ini merupakan pengingat bagi umat Islam tentang rahmat yang ditawarkan sistem Islam kepada umat manusia, bukan kekejaman sistem sekuler kapitalisme,” pungkasnya. [MNews/IA]
