[Kabar] Aktivis: Khilafah Adalah Perwujudan Praktis Persatuan Umat Islam

[Kabar] Aktivis: Khilafah Adalah Perwujudan Praktis Persatuan Umat Islam

Muslimah News, INTERNASIONAL — Menyikapi kondisi kaum muslim yang terpecah oleh sekat-sekat nasionalisme, aktivis muslim Bara’a Manasrah menyampaikan, umat ​​Islam adalah satu umat, berbeda dari umat-umat lainnya, Tuhan mereka satu, agama mereka satu, Nabi mereka satu, kiblat mereka satu, dan kitab mereka satu. “Persatuan umat muslim bukanlah persatuan formal atau teoritis, melainkan persatuan praktis yang berakar pada akidah mereka yang menjadikan mereka bersaudara. Khilafah adalah perwujudan praktis persatuan umat Islam,” ucapnya kepada Kantor Berita ideologis internasional, Senin (19-1-2026).

Persatuan ini, ucapnya, harus terlihat dalam semua aspek kehidupan mereka. “Dalam ritual dan ibadah mereka, terutama yang dilakukan secara berjemaah pada waktu atau tempat tertentu, seperti puasa selama Ramadan, haji, dan Idulfitri serta Iduladha, juga dalam perasaan mereka sehingga seorang muslim bergembira atas setiap kebaikan yang menimpa seorang muslim, dan berduka serta menderita atas setiap kejahatan atau bahaya yang menimpa seorang muslim di mana pun di bumi,” paparnya.

Ia mengutip sabda Rasulullah saw. riwayat Muslim yang mengibaratkan umat Islam sebagai satu tubuh, “Orang-orang beriman, dalam kasih sayang, rahmat, dan belas kasihan mereka, seperti satu tubuh; jika satu bagiannya sakit, seluruh tubuh akan bereaksi dengan susah tidur dan demam.”

Menurutnya, hal ini juga harus terlihat dari sisi intelektual dengan menjadikan pemahaman Islam sebagai dasar pemikiran dan perilaku. “Selain itu, menolak setiap pemikiran atau pendapat yang tidak berdasarkan atau berasal dari pemahaman tersebut, tunduk kepada perintah Allah Swt., menempatkannya di atas keinginan, dan kepentingan pribadi,” bebernya.

Khilafah

Menurut Bara’a, umat Islam terdiri dari berbagai bangsa, maka umat seharusnya terlihat dalam persatuan politik mereka. “Wilayah-wilayah umat Islam merupakan satu kesatuan politik dan geografis yang diperintah oleh satu penguasa yang menerapkan satu konstitusi yang berasal dari Kitab Allah Swt. dan Sunah Nabi-Nya. Inilah yang secara praktis diwujudkan dalam negara Khilafah,” terangnya.

Ia menyampaikan, Rasulullah saw. mendirikannya di Madinah hingga dihancurkan oleh kafir Barat di tangan Mustafa Kemal pada 28 Rajab 1342 H yang bertepatan dengan 3 Maret 1924  M. “Ketiadaan hal inilah yang menyebabkan persatuan umat Islam tercerai berai selama lebih dari satu abad. Hal ini menyebabkan negeri muslim terpecah menjadi negara-negara seperti buih yang diperintah oleh penguasa yang khianat,” urainya.

Khilafah, ucapnya, adalah negara yang secara langsung mengawasi pelestarian manifestasi dan ciri-ciri persatuan umat Islam. “Khilafah mewakili terjemahan praktis dari persatuan intelektual dan emosional kaum muslim. Tanpa Khilafah, ide-ide Barat telah menyerbu kita. Penjajah dan antek-antek mereka telah berupaya menggantikan pemahaman Islam dengan pemikiran kapitalis sekuler sebagai dasar pemikiran dan perilaku,” paparnya.

Menurutnya, kewajiban umat Islam saat ini adalah berupaya memulihkan efektivitas dan persatuannya, serta bekerja sungguh-sungguh dan ikhlas untuk mengembalikan kehidupan Islam di bawah naungan Khilafah. “Mereka tidak boleh terhalang oleh klaim-klaim yang menimbulkan rasa putus asa atau tipu daya Barat. Sebaliknya, mereka harus berjuang dengan percaya kepada Allah dan kemenangan-Nya bagi hamba-hamba-Nya yang beriman,” tandasnya. [MNews/IK]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *