Muslimah News, INTERNASIONAL — Dalam wawancara baru-baru ini dengan Sean Hannity dalam konteks doktrin “America First” yang diusung Trump, Menlu AS Marco Rubio menanggapinya dengan menghidupkan kembali retorika yang sudah dikenal tentang “Islam radikal,” kekhilafahan ekspansionis, dan ancaman terhadap Barat. Komentarnya tidak hanya menggemakan pesan selama dua dekade soal 911 (9 September), tetapi juga mengungkapkan sesuatu yang lebih dalam, yakni ketakutan akan dunia muslim yang bersatu dan kuat.
Ketakutan Hakiki
Merespons hal tersebut, juru bicara (jubir) jemaah dakwah ideologis Amerika menyampaikan, ini dilakukan dan terus diimplementasikan dengan kedok mempromosikan tatanan liberal dan memperluas pengaruh global Amerika Serikat (AS) dan mengamankan proyek Zion*s serta dominasi regionalnya. “Ketakutan hakiki Barat adalah persatuan dunia muslim di bawah naungan Khilafah,” ucapnya kepada Kantor Berita ideologis internasional, Ahad (21-12-2025).
Untuk memahami tanggapan Rubio, jubir mengatakan, harus diingat bahwa pada era neokonservatif sekitar 2000-an, kebijakan luar negeri AS berputar di sekitar invasi, perubahan rezim, pembangunan bangsa, dan “demokratisasi” Timur Tengah. “Amerika menghabiskan triliunan dolar di Irak dan Afganistan, hanya untuk menghadapi kebuntuan, penghinaan, dan reputasi global yang ternoda oleh perang tanpa akhir,” cetusnya.
Menurutnya, komentar Rubio mengungkapkan ketakutan yang lebih dalam terhadap umat Islam yang benar-benar bersatu. “Komentar tersebut mengungkap kecemasan atas melemahnya hegemoni AS dan kemungkinan tentang blok peradaban besar yang dapat menentukan jalannya sendiri. Memahami hal ini sangat penting. Penyebaran ketakutan tentang radikalisme dan ancaman keamanan dalam konteks ini bukanlah tentang melindungi warga negara atau bahkan rasa takut terhadap agama. Sebaliknya, ini tentang melestarikan kekuasaan,” bebernya.
Ia menjelaskan, retorika MAGA (Make America Great Again) saat ini, meskipun mengeklaim menolak neokonservatisme era Bush, mencerminkan logika yang sama, yakni ketakutan terhadap Islam, ketakutan terhadap entitas muslim “ekspansionis”, pembicaraan tentang senjata pemusnah massal, demonisasi rival geopolitik, dan menciptakan dukungan publik untuk intervensi. “Bahasa yang baru-baru ini digunakan tentang pemerintah Venezuela dengan teroris narkoba yang bersekutu dengan Islam radikal adalah contoh sempurna dari pesan neokonservatif yang dihidupkan kembali dengan merek yang berbeda, tetapi ambisi imperialisnya sama,” urainya.
Ia menyampaikan, Rubio menebar ketakutan akan “Islam radikal” sebagai kekuatan revolusioner yang bertekad untuk mendominasi dunia. “Namun, ia buta terhadap kemunafikan imperialisme Amerika yang mempertahankan lebih dari 750 pangkalan militer di seluruh dunia, ribuan pasukan di Jepang, Korea Selatan, Jerman, Italia, dan dunia muslim, serta terus mendukung ekspansi teritorial entitas Zion*s yang pada dasarnya berfungsi sebagai pangkalan operasi terdepan AS di jantung dunia muslim,” bebernya.
Kekuatan Besar
Ia menjelaskan, secara historis, kekhilafahan berfungsi sebagai kekuatan besar dan penghapusannya memungkinkan dominasi Barat atas dunia muslim. “Pembentukannya kembali mengancam tatanan global saat ini melalui geografi strategisnya, sumber daya yang melimpah, ukuran populasi, dan kemerdekaan ideologisnya. Rezim otoriter di dunia muslim adalah bagian dari rencana Barat untuk mencegah berdirinya kembali kekhilafahan,” jelasnya.
Kemarahan publik terhadap rezim muslim, ungkapnya, bukanlah berasal dari radikalisme abstrak, melainkan dari pengalaman hidup di bawah pemerintahan otoriter yang didukung oleh kendali kolonial asing. “Dalam konteks seperti itu, memandang AS sebagai kekuatan destruktif bukanlah hasil indoktrinasi ekstremis; melainkan ekspresi rasional dari penindasan yang berkelanjutan. Di seluruh dunia muslim, penentangan terhadap kekuasaan AS secara konsisten berpusat pada kebijakan luar negerinya yang mendukung rezim otoriter, merekayasa kudeta, menduduki dan membom tanah muslim, memberlakukan sanksi ekonomi, mencampuri pemerintahan, memaksakan sekularisme, dan menentang Islam,” urainya.
Dampak kumulatif dari kebijakan-kebijakan ini, katanya, terlihat di Afganistan, Irak, Libya, Pakistan, Palestina, Somalia, Sudan, Yaman, dan di tempat lain. “Ribuan orang telah tewas, jutaan orang mengungsi, infrastruktur hancur, dan keruntuhan ekonomi bukanlah abstraksi, melainkan realitas yang dialami. Menentang kekhilafahan selama lebih dari seabad adalah doktrin strategis Barat secara konsisten menentang munculnya kembali otoritas politik Islam yang bersatu dan diwujudkan dalam kekhilafahan,” terangnya.
Penentangan ini, paparnya, tidak hanya berakar pada ketidaknyamanan budaya atau kekhawatiran tentang radikalisme. “Sebaliknya, hal itu didorong oleh realitas geopolitik, ekonomi, dan ideologis. Secara historis, kekhilafahan berfungsi sebagai kekuatan besar dan penghapusannya memungkinkan dominasi Barat atas dunia muslim. Menyatukan umat dan menegakkan Khilafah bukanlah bentuk radikalisme, tapi memang inilah tuntutan syariat Islam. Kekhilafahan adalah kepemimpinan politik umat muslim global yang menerapkan Islam. Itu wajib, bukan pilihan. Ketiadaannya adalah dosa,” pungkasnya. [MNews/IK]
