[Kabar] Tentara Bangladesh Wajib Merebut Kembali Takdirnya sebagai Penjaga Umat

[Kabar] Tentara Bangladesh Wajib Merebut Kembali Takdirnya sebagai Penjaga Umat

Muslimah News, INTERNASIONAL — Tentara Bangladesh mengonfirmasi serangan pesawat tidak berawak yang menghancurkan pangkalan PBB di wilayah Abyei, Sudan, telah menewaskan enam pasukan penjaga perdamaian Bangladesh dan melukai delapan lainnya. Serangan itu terjadi pada Kamis (13-12-2025).

Juru bicara jemaah dakwah ideologis internasional wilayah Sudan mengatakan, momen yang memilukan ini menuntut bukan hanya duka cita, tetapi juga penilaian ulang kritis terhadap misi yang telah mereka perjuangkan hingga mengorbankan nyawa. “Tentara Bangladesh harus menolak menjadi pion kolonial atas nama misi perdamaian PBB dan merebut kembali takdirnya sebagai penjaga umat,” tuturnya kepada Kantor Berita ideologis internasional, Sabtu (15-12-2025).

Menurutnya, konflik yang ditangani pasukan penjaga perdamaian bukanlah perselisihan lokal sederhana. ”Ini adalah konsekuensi langsung dan disengaja dari skema kolonial Barat yang telah berlangsung selama seabad untuk memecah belah, melemahkan, dan menjarah dunia muslim,” ulasnya.

Perbatasan di Sudan dan di seluruh Afrika dan Timur Tengah, ucapnya, dirancang di London dan Brasil untuk menjebak saudara melawan saudara, memicu persaingan tanpa akhir atas tanah, dan sumber daya seperti minyak di wilayah Abyei.

“Saat ini, proyek kolonial ini berlanjut dengan nama baru, yakni misi perdamaian PBB. Misi seperti UNISFA (Pasukan Keamanan Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Abyei) bukanlah upaya kemanusiaan yang netral. Mereka adalah penjaga bersenjata dari tatanan dunia Barat yang menindas,” jelasnya.

Membekukan Konflik

Jubir menjelaskan, tujuan UNISFA bukan untuk menyelesaikan konflik secara adil, tetapi untuk mengelola dan membekukan konflik, memastikan kekuatan Barat, terutama AS mempertahankan kendali atas wilayah strategis, sumber daya, dan hasil politik.

”Mereka melegitimasi perbatasan yang melahirkan kekerasan dan melindungi rezim korup dan sekuler di Sudan yang memerintah tanpa Islam dan didukung Barat. Agenda AS sangat jelas, AS menggunakan John Garang dan pemberontakan selama beberapa dekade untuk memisahkan Sudan Selatan dari tubuh umat muslim. Sekarang mereka menggunakan proksi seperti Pasukan Dukungan Cepat untuk memecah belah Darfur dan berupaya memecah wilayah muslim yang strategis menjadi negara-negara yang lemah dan mudah dikendalikan,” urainya.

Jubir mengajak untuk merenung, bagaimana mungkin tentara muslim Bangladesh dapat menjadi alat dalam skema neo-kolonial ini? ”Tentara muslim dibentuk untuk menjadi pembela Islam, bukan tentara bayaran untuk kepentingan kaum kafir yang berperang,” ucapnya mengingatkan.

Keterlibatan tentara musim dalam misi-misi ini, lanjutnya, membuat mereka terlibat dalam sistem yang menjarah kekayaan muslim dan memecah belah umat. ”Selain itu, kemunafikan pemerintah kita sangat mencolok. Pemerintah tidak mampu mengamankan perbatasan atau kedaulatannya sendiri dari agresi musuh India, tetapi dengan mudah mengirimkan perwira militer untuk merayakan parade kemenangan di India, dan menugaskan tentara kita untuk mati menjaga perbatasan kolonial di Sudan,” kritiknya.

Ia menegaskan, keamanan sejati bagi umat hanya akan datang dengan menyelesaikan akar masalahnya, yaitu tidak adanya kepemimpinan Islam yang menerapkan syariat Islam. ”Solusi utama adalah pendirian kembali Khilafah Rasyidah sesuai metode kenabian, sebagai satu-satunya institusi politik yang mampu melindungi tanah muslim, menghapus perbatasan kolonial, dan menegakkan keadilan,” yakinnya.

Terakhir ia berharap, darah yang mengalir dari tentara yang gugur semoga bisa menjadi momen membangkitkan kesadaran umat dan mengakhiri keterlibatan mereka dalam tatanan dunia yang bangkrut, serta menjadi katalisator bagi kembalinya pada tugas mempersatukan dan membela umat muslim. [MNews/IA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *