Muslimah News, FOKUS —Pengkhianatan kembali dipertontonkan beberapa negara muslim terhadap Palestina. Betapa tidak, saat Zion*s sibuk membombardir Gaza dan berusaha merobohkan Masjidilaqsa—meski sedang gencatan senjata—beberapa negara muslim justru menandatangani Abraham Accords (Perjanjian Abraham).
Kazakhstan menyatakan akan bergabung dengan Abraham Accords yang meresmikan hubungan antara entitas Zion*s dan beberapa negara Arab. Pengumuman ini disampaikan pada Kamis (6-11-2025) menjelang pertemuan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan para pemimpin negara-negara Asia Tengah. (Al Jazeera, 6-11-2025).
Pemerintah Kazakhstan menyatakan bahwa keikutsertaan mereka dalam Abraham Accords merupakan kelanjutan alami dan logis dari arah kebijakan luar negeri Kazakhstan yang didasarkan pada dialog, saling menghormati, dan stabilitas regional. (AFP, 6-11-2025).
Tunduk pada AS
Pengkhianatan Kazakhstan terhadap muslim Palestina tidak terjadi baru-baru ini saja. Negara ini telah menjalin hubungan diplomatik dengan entitas Zion*s sejak 1992, tidak lama setelah kemerdekaannya. Hubungan bilateral keduanya diwujudkan melalui kunjungan pejabat tinggi dan kedutaan besar kedua negara serta adanya perjanjian bilateral. PM entitas Zion*s Benjamin Netanyahu juga telah mengunjungi Kazakhstan pada 2016.
Saat ini Kazakhstan berusaha mempererat hubungannya dengan AS. Hal ini tampak dari kunjungan Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev ke Washington baru-baru ini untuk menandatangani perjanjian kerja sama terkait mineral penting yang menjadi komponen utama energi bersih dan teknologi tinggi.
Beberapa negara Arab sudah bergabung dengan Abraham Accords, yaitu Uni Emirat Arab, Sudan, Bahrain, dan Maroko. Kini Kazakhstan menyusul. Ke depan bisa jadi barisan pembela Zion*s ini akan makin banyak. Padahal, sebelumnya negara-negara Arab telah menyepakati Prakarsa Perdamaian Arab pada 2002 yang mengharuskan entitas Zion*s mengakui negara Palestina. Namun, kini mereka melupakan prakarsa tersebut dan menundukkan dirinya di hadapan AS dengan mendukung Zion*s.
Sementara itu, Turki menampakkan sikap seolah-olah “keras” terhadap Zion*s. Pemerintah Turki pada Jumat (7-11-2025) mengumumkan penerbitan surat penangkapan terhadap PM Benjamin Netanyahu dan sejumlah pejabat seniornya atas tuduhan genosida dan kejahatan kemanusiaan di Gaza. Total ada 37 tersangka yang menjadi target surat penangkapan tersebut, termasuk Menteri Pertahanan entitas Zion*s Katz, Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben Gvir, serta Kepala Staf Angkatan Bersenjata Letnan Jenderal Eyal Zamir.
Namun, pernyataan Turki tersebut tidak ubahnya gertak sambal karena Turki tidak tampak mengerahkan pasukan sama sekali untuk memburu para tersangka. Kalaupun ada pasukan yang hendak Turki kirimkan, itu adalah pasukan perdamaian yang ditolak mentah-mentah oleh Netanyahu. Para pejabat entitas Zion*s menentang keras keterlibatan Turki dalam pasukan stabilisasi internasional di Gaza dalam bentuk apa pun.
Manuver negara-negara Arab tersebut menggambarkan kelemahan yang mendominasi jiwa mereka. Lisan mereka bersikap seolah-olah membela Palestina, tetapi nyatanya mereka bergabung dalam barisan pendukung Zion*s. Kalaupun ada kecaman yang bernada keras sebagaimana dikeluarkan oleh Turki, kecaman itu berhenti sebatas kecaman. Tidak ada tindakan nyata berupa pengiriman tentara untuk mengusir Zion*s dari bumi Palestina dan membebaskan muslim Palestina.
Jebakan Penjajahan
Negara-negara Arab seharusnya menyadari bahwa normalisasi hubungan dengan entitas Zion*s yang menjadi isi Abraham Accords merupakan jebakan AS untuk melegalkan penjajahan dan genosida Zion*s atas Palestina.
Syekh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab Mafahim Siyasiyah li Hizbi at-Tahrir hlm. 80 menjelaskan bahwa perjanjian-perjanjian yang dilakukan negara adidaya dengan negara-negara kecil atau yang dilakukan antarnegara kecil merupakan sarana penjajahan atau sarana memperkuat pengaruh negara adidaya yang merekayasa perwujudan perjanjian tersebut. Persekutuan AS dengan negara-negara di Timur Tengah dimaksudkan untuk memperkuat pengaruh AS di kawasan Timur Tengah dan memperkukuh orientasi politik unilateral pemerintahan AS. Persekutuan tersebut merupakan salah satu sarana penjajahan AS.
Trump sebagai presiden negara adidaya AS sangat getol membujuk negara-negara Arab untuk bergabung dengan Abraham Accords. Trump menghendaki seluruh negara-negara Arab bergabung dengan Abraham Accords. (Al Jazeera, 7-8-2025).
Berbagai tawaran diberikan oleh Trump, seperti kerja sama ekonomi dan perdagangan dengan Kazakhstan, Turki, dan UEA. Tawaran juga mencakup pencabutan sanksi yang tidak hanya diberikan kepada Turki, tetapi juga ditawarkan untuk Suriah.
Trump telah melakukan pertemuan dengan Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa di Gedung Putih pada Senin (11-11-2025). Trump memuji Sharaa dengan mengatakan, “Kami akan melakukan segala hal untuk membuat Suriah berhasil karena ia bagian dari Timur Tengah.” Trump menjanjikan pencabutan penuh Undang-Undang Caesar 2019 (Caesar Act) yang digunakan untuk menghukum pelanggaran HAM pada masa pemerintahan Bashar al-Assad. Namun, pencabutan penuh membutuhkan persetujuan Kongres AS.
Sejumlah anggota legislatif AS menuntut jaminan hubungan yang lebih baik dengan entitas Zion*s sebelum memberikan persetujuan. Hal ini mendorong Sharaa untuk melakukan pertemuan dengan salah satu anggota Kongres AS Brian Mast yang merupakan Ketua Komite Urusan Luar Negeri DPR AS dan politisi paling pro-Zion*s di AS.
Sebagai hasil pertemuan tersebut, Sharaa membuka peluang untuk bernegosiasi dengan Zion*s. Ia mengatakan, “Kami tidak akan bernegosiasi secara langsung saat ini. Mungkin pemerintahan AS bersama Presiden Trump akan membantu kami mencapai negosiasi semacam ini.”
Demikianlah sebagian manuver AS untuk menguasai Timur Tengah melalui penancapan entitas Zion*s di Palestina. Syekh Taqiyuddin an-Nabhani dalam Mafahim Siyasiyah li Hizbi at-Tahrir hlm. 156 menyatakan bahwa Zion*s telah mengoordinasikan politiknya dengan kepentingan AS dan mengintegrasikan diri secara total dalam pemerintahan AS. Zion*s juga mempertahankan kepentingan AS dengan tegas dan cepat. AS pun menjaga posisi Zion*s sebagai negara regional yang besar di kawasan Timur Tengah. AS menganggap bahwa membela eksistensi Zion*s hakikatnya adalah membela AS itu sendiri. Zion*s tetap menjadi anak manja yang orang tuanya tidak ingin membuatnya marah.
Belenggu Nasionalisme
Adapun penguasa negeri-negeri Arab, mereka terus saja melayani AS sampai-sampai rela menjadi budaknya. Mereka kehilangan kredibilitasnya di mata rakyatnya. Majikan-majikan mereka (AS dkk.) sejatinya memandang rendah kepada mereka dan terus-menerus menghinakan mereka, serta meminta mereka untuk makin memasrahkan diri kepada AS.
Walhasil, para penguasa negeri-negeri Arab itu tidak lagi mendapatkan dukungan rakyatnya dan hanya dapat terus berkuasa berkat dukungan dan belas kasihan majikan-majikan mereka. Keadaan mereka menjadi lebih sulit daripada sebelumnya. Mereka kini berada di antara dua ancaman, yaitu ancaman rakyatnya dan ancaman majikan mereka.
Negara-negara muslim telah terbelenggu dengan ide nasionalisme sehingga hanya memikirkan kepentingan nasional dan kekuasaannya, mereka tidak peduli pada nasib muslim Palestina. Pembelaan mereka pada Palestina hanya narasi kosong karena pada saat yang sama mereka menyimpan militernya di barak-barak.
Padahal, solusi hakiki untuk membebaskan Palestina adalah dengan melakukan jihad fisabilillah. Hanya dengan jihad, Zion*s akan bisa dikalahkan dan diusir dari bumi Palestina. Hanya dengan jihad pula seluruh kekuatan asing akan bisa dihilangkan dari wilayah Palestina.
Negeri-negeri muslim sejatinya mampu mengirimkan militer ke Palestina untuk membebaskan saudaranya sesama muslim. Gabungan kekuatan militer dunia Islam akan cukup untuk mengalahkan Zion*s dan kekuatan pendukungnya. Namun, negeri-negeri muslim tidak melakukannya.
Racun kapitalisme telah membuat mereka mendasarkan politik luar negerinya pada keuntungan ekonomi, bukan dakwah dan jihad sebagaimana yang telah Allah Taala perintahkan. Nasionalisme telah mengerdilkan potensi mereka, seolah-olah tidak akan mampu mengalahkan entitas sekecil Zion*s, padahal nenek moyang kaum muslim adalah para mujahid. Dalam diri mereka mengalir darah Salahuddin al-Ayyubi, Khalid bin Walid, Muhammad al-Fatih, Sulaiman al-Qanuni, dll. Nasionalisme telah menjadikan mereka sebagai sosok-sosok pengecut yang ketakutan sebelum berangkat perang.
Dengan demikian, kita tidak bisa menggantungkan harapan pembebasan Palestina pada negara-negara Arab dan muslim, begitu pula pada PBB yang jelas-jelas didominasi AS. Keduanya berada di bawah “ketiak” AS dan tidak akan pernah berbelok satu inci pun dari garis yang AS buat.
Selama dunia Islam masih berada dalam cengkeraman AS dengan sistem sekuler kapitalismenya, pembebasan Palestina hanya akan menjadi mimpi tanpa realisasi. Untuk merealisasikannya kita butuh negara adidaya baru yang memiliki kemampuan untuk membela Palestina, mengalahkan Zion*s, dan melawan hegemoni AS di dunia, yakni Khilafah.
Umat Islam Bersaudara
Islam mengharamkan darah seorang muslim ditumpahkan tanpa alasan syar’i. Rasulullah saw. bersabda,
لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ قَتْلِ مُؤْمِنٍ بِغَيْرِ حَقٍّ
“Hilangnya dunia lebih ringan bagi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR Nasai 3987, Turmudzi 1455).
Apalagi yang terjadi di Palestina bukan lagi pembunuhan biasa, melainkan genosida. Sungguh yang terjadi di Palestina merupakan sebuah bencana bagi umat Islam. Ini karena sesama muslim adalah bersaudara. Rasulullah saw. bersabda,
المُسْلِمُ أَخُو المُسْلِمِ، لاَ يَظْلِمُهُ، وَلاَ يَخذُلُهُ، وَلَا يَكْذِبُهُ، وَلَايَحْقِرُهُ. التَّقْوَى هَاهُنَا -وَيُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ- بِحَسْبِ امْرِىءٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ المُسْلِمَ. كُلُّ المُسْلِمِ عَلَى المُسْلِمِ حَرَامٌ: دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ
“Seorang muslim adalah saudara untuk muslim lainnya. Oleh karenanya, ia tidak boleh berbuat zalim, menelantarkan, berdusta, dan menghina yang lain. Takwa itu di sini (beliau memberi isyarat ke dadanya tiga kali). Cukuplah seseorang berdosa jika ia menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim atas muslim lainnya itu haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya.” (HR Muslim).
Bahkan, umat Islam itu laksana satu tubuh. Rasulullah saw. bersabda,
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
“Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas (turut merasakan sakitnya).” (HR Bukhari no. 6011 dan Muslim no. 2586).
Rasulullah saw. juga bersabda,
الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
“Permisalan seorang mukmin dengan mukmin yang lain itu seperti bangunan yang menguatkan satu sama lain.” (HR Bukhari no. 6026 dan Muslim no. 2585).
Umat Islam tidak boleh diam atas penjajahan dan genosida di Palestina, apalagi menyerahkan urusan Palestina pada para penjajah. Umat Islam harus mempersiapkan kekuatan terbaiknya hingga level maksimal untuk membela saudaranya di Palestina. Allah Taala berfirman,
وَاَعِدُّوْا لَهُمْ مَّا اسْتَطَعْتُمْ مِّنْ قُوَّةٍ وَّمِنْ رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُوْنَ بِهٖ عَدُوَّ اللّٰهِ وَعَدُوَّكُمْ وَاٰخَرِيْنَ مِنْ دُوْنِهِمْۚ
“Persiapkanlah untuk (menghadapi) mereka apa yang kamu mampu, berupa kekuatan (yang kamu miliki) dan pasukan berkuda. Dengannya (persiapan itu) kamu membuat gentar musuh Allah, musuh kamu, dan orang-orang selain mereka.” (QS Al–Anfal [8]: 60).
Khilafah Menggelorakan Jihad
Negara Khilafah Islam akan menggelorakan jihad dengan mengirimkan militer lengkap dengan alutsista tercanggih untuk mengalahkan Zion*s dan membebaskan Palestina hingga tidak ada lagi genosida dan umat Islam bisa hidup di Palestina dengan tenang, damai, dan makmur.
Khilafah akan memiliki kekuatan militer yang cukup untuk melawan pendudukan Zion*s di Palestina dan dominasi AS di dunia Islam karena Khilafah menggabungkan negeri-negeri muslim di seluruh dunia. Kekuatan negeri-negeri di Timur Tengah, Asia Tengah, Timur Jauh, Afrika, dll. akan disatukan dalam naungan Khilafah. Dana untuk jihad di baitulmal juga akan selalu ada dan siap membiayai jihad.
Ini karena Khilafah adalah perisai pelindung bagi umat Islam. Rasulullah bersabda,
إنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ، فَإِنْ أَمَرَ بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَدَلَ كَانَ لَهُ بِذَلِكَ أَجْرٌ، وَإِنْ يَأْمُرْ بِغَيْرِهِ كَانَ عَلَيْهِ مِنْهُ
“Sesungguhnya imam (khalifah) itu (laksana) perisai yang (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya. Jika seorang imam (khalifah) memerintahkan supaya takwa kepada Allah ’azza wajalla dan berlaku adil, maka ia (khalifah) mendapatkan pahala karenanya, dan jika ia memerintahkan selain itu, maka ia akan mendapatkan siksa.” (HR Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Abu Dawud, dan Ahmad).
Dengan kekuatan militer dan diplomasinya, Khilafah akan mampu meruntuhkan dominasi AS di dunia Islam. Khilafah tidak boleh tunduk di bawah agenda politik Barat (AS dkk.). Salah satu wujudnya adalah Khilafah akan menolak semua jenis perjanjian yang ditawarkan AS, termasuk Abraham Accords. Khilafah haram untuk bergabung dengannya.
Rasulullah saw. bersabda, “Tidak boleh membahayakan (merugikan) orang lain dan tidak boleh pula dibahayakan (dirugikan) oleh orang lain.”(HR Ahmad, Ibnu Majah, dan Daruquthni).
Berdasarkan hadis ini Khilafah tidak boleh bergabung dengan perjanjian yang membahayakan Islam dan kaum muslim.
Allah Taala berfirman,
وَلَنْ يَّجْعَلَ اللّٰهُ لِلْكٰفِرِيْنَ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ سَبِيْلًاࣖ
“Allah tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk mengalahkan orang-orang mukmin.”(QS An-Nisa’ [4]: 141).
Berdasarkan ayat ini Khilafah tidak boleh bergabung dengan perjanjian yang menjadikan negara kafir menguasai umat Islam, seperti Abraham Accords. Khilafah justru harus menjadi negara adidaya yang berpengaruh di dunia sehingga bisa melindungi negeri-negeri muslim yang berada dalam naungannya.
Wahai Umat, Bersatulah!
Sungguh keberadaan Khilafah merupakan hal yang paling utama untuk disegerakan perwujudannya oleh umat Islam. Pembebasan Palestina mensyaratkan tegaknya Khilafah. Tanpa Khilafah tidak akan ada jihad fisabilillah untuk membebaskan Palestina. Oleh karenanya, umat Islam wajib bersatu di bawah naungan Khilafah untuk mewujudkan kemenangan atas kaum kafir Zion*s dan tuannya.
Untuk mewujudkan Khilafah, kita harus mencontoh metode Rasulullah saw., yaitu dengan dakwah yang bersifat pemikiran (fikriyah), politis (siyasiyah), dan la unfiyah (non-kekerasan). Dakwah diawali dengan pembinaan (tatsqif), selanjutnya tafa’ul ma’al ummah (berinteraksi dengan masyarakat), dan terakhir istilamulhukmi (pengambilalihan kekuasaan). Dalam dakwah, kita harus menjadikan tegaknya Khilafah sebagai agenda utama umat (qadhiyah masiriyah). Setiap elemen umat hendaknya terlibat dalam jemaah dakwah yang memperjuangkan hal ini. Wallahualam bissawab. [MNews/RR-NA]

Astaghfirullah