Muslimah News, NASIONAL—Kerusuhan kembali pecah di Elelim, Kabupaten Yalimo, Papua Pegunungan, Selasa (16-9-2025). Kerusuhan yang diduga dipicu ucapan rasis antarpelajar SMA itu mengakibatkan delapan orang terluka. Kerusuhan juga menimbulkan kerusakan materiel dengan terbakarnya puluhan kios dan sepeda motor.
Direktur Pamong Institute Wahyudi al-Maroky menilai, ada pihak tertentu yang ingin mengambil keuntungan. ”Tindakan itu biasanya terprovokasi oleh pihak-pihak tertentu. Apalagi kalau di Papua Pegunungan, ada pihak-pihak yang berkepentingan untuk membuat isu baru termasuk isu keamanan dan itu yang diuntungkan pihak OPM (Organisasi Papua Merdeka),” ungkapnya di Kabar Petang yang bertajuk ”Propaganda OPM Masif di Yalimo?” pada Selasa (23-9-2025) di kana Khilafah News.
Menurutnya, penanganannya tidak mudah karena keterbatasan SDM aparat dan faktor lingkungan masyarakatnya. ”Ini memang jadi kompleks, apalagi kultur masyarakat pegunungan itu agak berbeda dengan kultur masyarakat pantai yang cenderung lebih terbuka, lebih mudah diajak dialog,” tandasnya.
Harus Waspada
Setiap kali ada kerusuhan, terang Wahyudi, akan menarik perhatian dunia dan menjadi isu yang dirawat demi kepentingan OPM. ”Termasuk isu konflik pelajar akan dimainkan sedemikian rupa untuk menciptakan kekacauan. Ini yang harus diwaspadai,” ingatnya.
Wahyudi mengatakan, perlu ada upaya untuk meningkatkan pendidikan maupun kesadaran agar masyarakat pegunungan tidak mudah terprovokasi, termakan berita hoaks yang disebarkan pihak-pihak tertentu yang ingin mengambil keuntungan dari setiap konflik.
Ia mengulas, untuk menyelesaikan masalah di Papua tidak cukup hanya dengan pendekatan keamanan. ”Kalau yang dikedepankan pendekatan keamanan, ini justru akan menimbulkan luka yang mendalam bagi masyarakat Papua, terutama yang tidak bersalah, kemudian terkena efek dari pendekatan keamanan itu,” jelasnya.
Ia melanjutkan, perlu ada prosperity approach (pendekatan kesejahteraan) terutama di bidang pendidikan, kesehatan, dan budaya. ”Kalau ini bisa dilakukan secara berkesinambungan, simultan, holistik, dan bersamaan diharapkan bisa mencegah kekerasan di Papua,” terangnya.
Ia beralasan, prosperity approach akan memunculkan wawasan baru sehingga masyarakat mudah diajak berdialog. “Harus diajak bicara dari hati ke hati, berdialog untuk menyelesaikan Papua, bukan sekadar pendekatan militer yang justru menimbulkan luka dan trauma,” pungkasnya. [MNews/IA]

Sepakat, menyelesaikan masalah di Papua tidak cukup hanya dengan pendekatan keamanan, tapi dg cara kesejahteraan, pendidikan