Muslimah News, NASIONAL — Pada rapat kerja dengan Komisi XI DPR, Jakarta, Rabu (10-9-2025), Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan, kondisi krisis moneter 1998 tidak boleh terulang lagi di tengah besarnya tekanan ekonomi akibat ketidakpastian global saat ini.
Menanggapi hal tersebut, cendekiawan muslim Ustaz Ismail Yusanto (UIY) menyatakan, ketahanan ekonomi dalam sistem kapitalisme memang bersifat siklik.
“Syekh Abdul Muhsin Thahir Sulaiman dalam Ilaajul Musyhilah al-Iqtshaadiyah bil Islam mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi di dalam sistem kapitalisme itu bersifat siklik. Jadi, ia tumbuh, tetapi setelah sampai puncak, ia jatuh,” jelasnya dalam Fokus to the Point: “Kerapuhan Kapitalisme vs. Ketangguhan Syariat, Jalan Selamat bagi Umat dan Dunia” di kanal UIY Official, Senin (22-9-2025).
Ia menerangkan, penyebab utama krisis adalah sistem keuangannya. “Kita tahu uang itu ibarat lokomotif yang menggerakkan gerbong. Stabilitas lokomotif akan menentukan stabilitas gerbong dan pada akhirnya akan menentukan kesehatan penumpang,” katanya.
Oleh karenanya, ia menyampaikan, kalau lokomotifnya bergerak zig-zag, kiri kanan, naik turun, maka gerbongnya pasti akan begitu. “Terbayang bagaimana penumpang yang ada di dalamnya. Nah, itulah yang terjadi pada sistem ekonomi kapitalisme,” tuturnya.
Ia mengemukakan, sistem keuangan kapitalisme berbasis riba. “Tidak ada satu pun transaksi dalam sistem ekonomi kapitalisme yang bebas riba. Nah, riba itu sumber labilitas. Tidak pernah dijumpai berapa sebenarnya level yang sehat untuk riba. Itu problematik,” cetusnya.
Solusi
UIY menuturkan, Islam memiliki solusi terhadap problem tersebut. Pertama, sebutnya, menyangkut jenis mata uangnya. “Jenis mata uangnya harus real money. Kalau sekarang ini fiat money yang tidak menyimpan kekayaan secara riil. Nilai nominalnya tidak ditopang oleh nilai intrinsik,” terangnya .
Ia mencontohkan, kalau kita memegang uang Rp100.000,00, itu nilai nominalnya, tetapi nilai intrinsiknya berapa? “Sebagai kertas, harganya berapa? Mungkin Rp1.000,00, mungkin Rp2.000,00. Jadi, ini bukan real money sehingga nilai tukarnya terus-menerus turun. Itulah yang membuat kita merasa tiap hari gaji kita kayak kurang terus, enggak cukup, padahal nominalnya tetap. Kenapa? Karena harga barang naik dan tidak bisa dikejar dengan uang kertas. Persoalan ini tidak pernah selesai,” paparnya.
Sebaliknya, ia menyampaikan, ini berbeda kalau mata uangnya real money, yaitu emas. “Nilai nominalnya ditopang nilai intrinsiknya sebagai emas. Ketika harga barang-barang naik, harga emas akan naik. Berapa pun naiknya harga barang, masih bisa dikejar dengan real money atau emas ini. Di sinilah letak kestabilan ekonomi,” ungkapnya
Kedua, ujarnya, menyangkut fungsi uang sebagai alat tukar, tidak boleh sebagai komoditas. “Nah, ini hari kapitalisme mengajari kita untuk menjadikan uang sebagai komoditas dalam berbagai bentuknya, terutama dengan bunga. Itulah faktor utama yang menimbulkan labilitas,” tandasnya. [MNews/RA]
