Penulis: Jamal Harwood
Muslimah News, TELAAH KITAB — Sejak kelahirannya, kapitalisme global tidak pernah berhenti mendapat kritik dan selalu saja menimbulkan kontroversi. Mulai dari Das Kapital pada abad ke-19 hingga gerakan antiglobalisasi pada akhir abad ke-20, sudah banyak yang memprediksi bahwa sistem kapitalisme global akan runtuh disebabkan oleh sifatnya sendiri yang serba berlebihan dan tamak.
Sebagian pihak berpendapat bahwa krisis September 2008 bukanlah akhir dari kapitalisme. Mereka melihat bahwa hal itu hanyalah gelembung (bubble), seperti yang sudah sering terjadi dalam sistem kapitalisme. Akan tetapi, fakta menunjukkan bahwa banyak negara besar termasuk AS dan Inggris telah menginjeksikan modal yang jumlahnya tercatat sebagai rekor terbesar dan tidak pernah terjadi sebelumny. Hal ini untuk menyelamatkan sektor perbankan dari kemungkinan kebangkrutan total.
Bank-bank dinasionalisasi–sesuatu yang tabu bagi mereka yang meyakini pasar bebas—bukannya dibiarkan jatuh seperti Lehman Brothers. Pasar saham di seluruh dunia jatuh terjerembab hingga mencapai level terendah yang pernah terjadi dalam sejarah. Dampaknya terhadap tunjangan pensiun, inflasi, pajak, kepemilikan rumah, dan pengangguran diperkirakan akan sangat mengerikan, meskipun akibat yang lebih luas masih belum diketahui.
Tragedi kemanusiaan yang mungkin muncul sebagai efek domino krisis tersebut terhadap perekonomian di negara-negara miskin juga tidak kalah mengerikan. Implikasi geopolitik dari pincangnya perekonomian AS akan terbuka selama beberapa tahun ke depan dalam cara yang masih sulit untuk diprediksi.
Dalam pandangan kami, krisis yang sedang terjadi ini merupakan permulaan dari berakhirnya era kapitalisme. Hal yang paling nyata adalah fakta bahwa elemen paling mendasar dari keyakinan kapitalis, yaitu keyakinan yang mutlak terhadap pasar bebas kini telah hancur. Mereka tetap berargumen bahwa sistem yang berjalan sekarang ini masih berguna, tidak ada alternatif, dan berusaha membuat aturan yang lebih baik (menambal sistem yang ada). Namun, mereka tidak dapat mempertahankan prinsip paling dasar yang menjadi landasan sistem dan yang menjadi pondasi tumbuhnya sistem itu.
Selain itu, realitas yang ada tidak saja menunjukkan bahwa ideologi pasar bebas telah gagal, tetapi juga beberapa prinsip fundamental kapitalisme merupakan penyebab langsung dari krisis yang terjadi. Meskipun demikian hingga kini belum ada yang mengusulkan perubahan terhadap prinsip-prinsip dasar tersebut.
Prinsip-prinsip tersebut, lebih detailnya akan dibahas dalam tulisan ini, adalah sistem perbankan berbasis bunga, sistem mata uang tetap, sistem perdagangan saham dan pasar derivatifnya, serta kegagalan untuk memahami bahwa tidak semua kepemilikan atas kekayaan boleh diberikan kepada tangan-tangan swasta. Lebih jauh lagi, orang-orang di seluruh dunia di luar Barat yang masih silau oleh pesona semu kapitalisme, kini mulai melihat bahwa cahaya kapitalisme mulai redup.
Setelah mereka mencoba mengubahnya selama beberapa dekade, keyakinan mereka terhadap sistem model Barat ini makin mengecil. Kini makin banyak menimbulkan pertanyaan, bukannya memberikan jawaban. Apakah ini satu-satunya cara untuk melakukan transaksi perdagangan, menciptakan kesejahteraan, dan melihat pertumbuhan ekonomi? Apakah baik untuk bisnis jika perdagangan terjadi di dalam sistem yang tidak stabil karena kesalahannya sendiri?
Di manakah keadilan jika keuntungan selalu dikuasai oleh tangan-tangan swasta dan berdasarkan spekulasi di pasar-pasar finansial? Adilkah jika konsumen dan pembayar pajak harus menanggung akumulasi kerugian orang-orang kaya yang disebabkan oleh transaksi berisiko tinggi yang mereka lakukan sendiri?
Bara api kapitalisme mungkin memang masih menyala dan memberikan panas untuk beberapa waktu, tetapi itu hanya tinggal bara. Seperti halnya konsep kebebasan dan demokrasi yang telah runtuh oleh adanya kasus Abu Ghraib, Guantanamo Bay, dan penahanan secara sewenang-wenang, pasar bebas ala kapitalisme juga telah runtuh akibat kebangkrutan sektor finansial ini.
Orang-orang kini mencari sebuah alternatif lain. Mereka mencari kepemimpinan yang baik. Hanya Islam yang mampu memberikan alternatif seperti itu karena Islam memiliki sistem yang pernah diterapkan dan teruji selama beberapa abad sebagai sistem yang mampu memberikan pertumbuhan ekonomi sambil mendistribusikan kesejahteraan secara adil di tengah masyarakat, sesuatu yang secara faktual tidak bisa dilakukan oleh kapitalisme.
Islam memberikan stabilitas ekonomi karena mempunyai sistem mata uang yang khas, yaitu setiap uang yang beredar harus dijamin sepenuhnya oleh emas dan perak. Islam melarang mekanisme pinjam-meminjam berbasis bunga. Bank Islam, yaitu baitulmal, malah memberikan pinjaman tanpa bunga kepada para pelaku bisnis dan orang-orang yang membutuhkan bantuan pinjaman.
Islam sangat menganjurkan perdagangan, tetapi juga memberikan aturan perdagangan yang jelas, tetap, dan tidak berpeluang terjadinya manipulasi politik oleh mereka yang mempunyai kekuatan lobi politik. Islam juga memberikan batasan yang jelas terhadap kepemilikan dan kekuasaan negara yang digunakan untuk kepentingan publik. Adapun terhadap kepemilikan yang dikuasai individu warga negara, maka negara tidak berhak ikut campur sama sekali.
Buku ini bukan sekadar memperkenalkan sistem Islam, tetapi juga menawarkan solusi-solusi Islam terhadap masalah-masalah yang muncul dalam krisis finansial sekarang. Ada dua hal dalam arus perkembangan nantinya, yakni masa depan ekonomi dunia dan posisi kekuatan politik pada tahun-tahun ke depan. Dalam kondisi perkembangan seperti itulah ada peluang terjadinya perubahan.
Oleh karenanya, Dunia Islam bertugas menegakkan sistem Islam dengan adanya institusi Negara Khilafah. Semua ini untuk memimpin perubahan dan memberikan alternatif yang akan mengakhiri tidak saja siklus gelembung dan ledakan itu, tetapi juga menutup jurang kesenjangan antara kaya dan miskin. Hal ini adalah suatu penderitaan yang gagal ditangani oleh kapitalisme meskipun sudah mendominasi dunia. Allah Swt. berfirman, “Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya.” (QS Yusuf: 21). [MNews/RY-YG]
Sumber: Jamal Harwood, Keuangan Global.

Alhamdulillah