[Kabar] Pakta Pertahanan Arab Saudi-Pakistan, Aktivis: Hanya untuk Mengamankan Rezim!

[Kabar] Pakta Pertahanan Arab Saudi-Pakistan, Aktivis: Hanya untuk Mengamankan Rezim!

Muslimah News, INTERNASIONAL— Arab Saudi dan Pakistan resmi menandatangani pakta pertahanan bersama di tengah meningkatnya ketegangan kawasan. Perjanjian Pertahanan Bersama Strategis ditandatangani oleh Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan Putra Mahkota Saudi Mohammad bin Salman di Istana Al-Yamamah Riyadh pada Rabu (17-9- 2025).

Dalam pernyataan resmi, kantor Perdana Menteri Pakistan menegaskan bahwa pakta ini mencerminkan komitmen kedua negara untuk memperkuat keamanan serta menjaga perdamaian kawasan dan dunia. ”Setiap agresi terhadap salah satu negara akan dianggap sebagai agresi terhadap keduanya,” bunyi pernyataan tersebut.

Mengamankan Rezim

Aktivis muslim Pakistan Shahzad Shaikh menilai, pakta pertahanan ini hanya untuk mengamankan rezim mereka, tidak lebih. ”Sungguh memalukan, para penguasa muslim dapat bersatu untuk melindungi pemerintah mereka tetapi tidak untuk membebaskan Palestina dan Gaza,” ungkapnya kepada Kantor Berita ideologis internasional, Senin (22-9-2025).

Ia melanjutkan, pakta pertahanan bersama ini tidak memiliki nilai, karena kemitraan ini tidak akan pernah diaktifkan untuk melawan aliansi AS-Yahudi. Menurutnya, pakta pertahanan antara Pakistan dan Arab Saudi bukanlah hal baru. ”Kerja sama antara kedua negara dimulai sejak 1967 dan makin erat setelah perebutan Masjidilharam pada 1979 ketika pasukan khusus Pakistan membantu pasukan Saudi merebut kembali Masjidilharam,” jelasnya.

Dengan pakta yang baru saja ditandatangani, ucapnya, rezim Pakistan merasa bahagia seolah diberi kehormatan untuk bertanggung jawab melindungi tempat suci Makah dan Madinah.

”Sehubungan dengan kegembiraan yang ditunjukkan oleh para penguasa Pakistan karena mendapatkan kesempatan untuk melindungi dua masjid suci, orang bertanya-tanya mengapa mereka tidak begitu bersemangat untuk membebaskan Masjidilaqsa, situs tersuci ketiga dalam Islam dan kiblat pertama yang telah diduduki sejak 1967 dan tidak dihormati oleh orang-orang Yahudi?” sindirnya.

Kontra Terorisme

Shahzad menerangkan, selain pakta pertahanan, ada Koalisi Kontra Terorisme Militer Islam (IMCTC), sebuah aliansi militer anti-terorisme yang beranggotakan 43 negara di dunia Islam. Aliansi ini, lanjutnya, diumumkan pertama kali oleh Menteri Pertahanan Arab Saudi saat itu, Mohammad bin Salman al-Saud pada 15 Desember 2015.

”Pada 6 Januari 2017, mantan Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan Jenderal Raheel Sharif diangkat sebagai panglima pertama IMCTC, dan sampai saat ini ia masih memimpin pasukan ini. Aliansi ini memiliki pusat operasi gabungan di Riyadh, Arab Saudi. Namun, aliansi militer ini tidak pernah digunakan untuk menumpas terorisme entitas Zion*s Yahudi terhadap muslim di Palestina dan kawasan tersebut. Bahkan hingga kini, setelah Qatar diserang oleh Zion*s Yahudi, aliansi ini tidak diperintahkan untuk memulai latihan militer,” sesalnya.

Sejak 7 Oktober 2023, sambungnya, umat Islam Pakistan telah menuntut agar angkatan bersenjata mereka dimobilisasi untuk mendukung umat Islam di Gaza, dalam membebaskan Masjidilaqsa, dan untuk menghapus entitas Yahudi. Namun, ia melanjutkan, tuntutan mereka selalu ditolak dengan alasan situasi internal yang memburuk di Khyber Pakhtunkwa dan Baluchistan, dua provinsi Pakistan, dan karena ancaman agresi India.

”Pemberontakan di provinsi-provinsi ini tidak dipadamkan, malah meningkat, dan ancaman India tidak berkurang, melainkan India menunggu waktu yang tepat untuk melanjutkan Operasi Sindoor melawan Pakistan,” terangnya.

Jadi, simpulnya, ini membuktikan bahwa tidak ada masalah pada kemampuan bertempur di berbagai front, masalahnya selalu pada apa yang dituntut Tatanan Dunia Amerika dari Pakistan.

”Tampaknya peran Pakistan dalam pengaturan keamanan Timur Tengah akan menguntungkan AS sehingga pemerintahan Trump mengizinkan Arab Saudi dan Pakistan untuk menandatangani perjanjian pertahanan semacam itu. Pasalnya, mustahil kepemimpinan kedua negara yang lemah dapat mengambil langkah strategis sendiri, sejalan dengan kepentingan umat Islam di kawasan tersebut,” kritiknya.

Ide-ide seperti pakta pertahanan muslim yang digagas oleh para politisi dan penguasa, kata Shahzad, merupakan upaya untuk meredakan kemarahan umat atas kelambanan para penguasa muslim untuk membantu saudara-saudari mereka di Gaza.

Tegaknya Khilafah

Shahzad menegaskan, dasar persatuan umat Islam seharusnya adalah akidah Islam. “Keselamatan umat Islam terletak pada persatuan yang berlandaskan akidah Islam, dan satu-satunya cara untuk mempersatukan umat adalah tegaknya Khilafah yang berlandaskan pada ajaran kenabian,” paparnya.

Apa pun selain tegaknya Khilafah, sambungnya, akan selalu menjadi tipu daya, sebagaimana lahirnya OKI dan Liga Arab. “Islam memerintahkan kita untuk menjadi satu umat dengan satu pemimpin tunggal, khalifah, bukan Liga Bangsa-Bangsa,” tegasnya.

Terakhir ia menyampaikan QS Al-Anbiya: 92, “Sungguh agama tauhid inilah agama kamu, agama yang satu, dan Akulah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.” [MNews/IA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *