Gen Z Bicara Perubahan, Potensi Besar Kebangkitan Umat

Gen Z Bicara Perubahan, Potensi Besar Kebangkitan Umat

Penulis: Diansyah Novi Susanti, S.Pt.

Muslimah News, FOKUS — Gelombang aksi demonstrasi yang belakangan menunjukkan bahwa ada respons umat terhadap permasalahan yang terjadi. Mulai dari naiknya kebutuhan rsehari-hari, biaya pendidikan, pajak yang makin mencekik rakyat, kebijakan kenaikan tunjangan anggota DPR—yang kemudian diperparah aksi anggota DPR yang asyik berjoget saat sidang paripurna, seolah nirempati terhadap nasib rakyat. Puncaknya, di tengah aksi rakyat menyampaikan aspirasi, terjadilah peristiwa pelindasan driver ojol Affan Kurniawan hingga meregang nyawa oleh mobil rantis yang dikendarai oleh anggota Brimob.

Demonstrasi pun terjadi di berbagai daerah, bahkan makin tidak terkendali dan mengarah kepada kerusuhan, seperti terjadi pembakaran gedung DPRD Makassar yang mengakibatkan tiga korban meninggal dunia, pembakaran fasilitas umum, juga aksi penjarahan yang terjadi di rumah beberapa anggota DPR dan salah satu menteri.

Pelaku aksi demonstrasi ini tidak hanya diikuti kalangan mahasiswa, buruh, masyarakat umum, tapi diikuti para pelajar SMP ataupun SMA. Melansir Berita Satu, aksi demonstrasi pada Senin (25-8-2025) di depan Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, berlangsung tanpa mobil komando maupun koordinator lapangan. Terlihat sejumlah pelajar SMA ikut bergabung dalam aksi. Sejumlah siswa berseragam putih abu-abu masuk ke area unjuk rasa, meski pihak kepolisian telah berusaha menghalau mereka untuk tidak bergabung dalam aksi. Ternyata, sebagian massa aksi menjemput para pelajar untuk masuk ke kerumunan demonstran.

Seain itu, Gen Z juga ikut menyampaikan aspirasinya dengan berbagai cara. Selain ikut aksi turun ke jalan, mereka juga aktif membuat konten dan menyebarkan narasi kepedulian atas kondisi bangsa melalui konten di media sosialnya.

Hanya saja, arah pergerakan mereka belum terarah, terkomando, dan terstruktur. Ini yang semestinya menjadi perhatian bersama. Lantas bagaimana mengarahkan potensi Gen Z agar mampu mewujudkan perubahan hakiki, bukan hanya berdasarkan emosional atau ingin dipandang keren dan diakui?

Analisis Psikolog

Aksi demonstrasi, unjuk rasa, hingga berbagai aspirasi yang ramai disuarakan masyarakat di media sosial belakangan ini mencerminkan cara Gen Z merespons tekanan. Psikolog anak dan remaja, Anastasia Satriyo, M.Psi., menilai Gen Z memiliki mekanisme tersendiri dalam menghadapi tekanan dan ini berbeda dengan generasi sebelumnya. Menurutnya, Gen Z memiliki mekanisme otak yang lebih maju dibandingkan generasi sebelumnya, mulai dari boomer, Gen X, hingga milenial. Menurutnya, generasi boomer umumnya bertahan dengan mekanisme “fight”, yakni mengandalkan otoritas dan kekuasaan; atau fawn, yaitu cenderung patuh secara berlebihan. Sementara itu, Gen X dan milenial lebih sering terbawa pola “fight or flight” dengan kecenderungan memilih “flight” atau menghindar demi rasa aman.

Sementara itu Gen Z, secara psikologis sudah mampu menggunakan mekanisme “face”, yakni menghadapi ancaman secara rasional, asertif, dan tetap terhubung. Gen Z memilih berbicara dengan cara khas mereka, yakni menggunakan media sosial, meme, poster kreatif, hingga estetika visual. Mereka berbicara tanpa harus membakar fasilitas. (Kompas, 5-9-2025).

Pendapat lain datang dari Psikolog Universitas Indonesia Prof. Rose Mini Agoes Salim yang menyoroti fenomena meningkatnya jumlah anak di bawah umur yang ikut aksi demonstrasi. Menurutnya, meskipun demo bisa jadi ajang belajar menyampaikan pendapat, remaja rentan terprovokasi karena kontrol diri mereka belum matang. “Betul, mereka bisa belajar menyuarakan apa yang ada di pikirannya. Tapi kalau dilihat dari perkembangan anak, usia 12–17 tahun itu kontrol dirinya masih kurang, karena mereka masih remaja. Jadi agak susah untuk tidak terprovokasi,” kata Rose dalam keterangannya pada inforemaja[dot]id (Senin, 1-9-2025). Ia juga menjelaskan bahwa pada usia tersebut, remaja cenderung ingin terlihat keren dan berani di depan teman-temannya atau publik. Hal ini bisa membuat mereka bertindak impulsif, apalagi dalam situasi massa yang penuh tekanan dan emosi.

Menolak Kezaliman Adalah Fitrah manusia

Pengklasifikasian karakteristik generasi (termasuk Gen Z) berdasarkan ilmu psikologi sesungguhnya diarahkan untuk sesuai dengan mindset kapitalisme dalam menghilangkan kesadaran politik, lebih fokus pada pendekatan spesifik Gen Z (cara mempertahankan nilai dan identitas mereka sekaligus meminimalkan eskalasi konflik).

Sedangkan di dalam Islam, Allah menciptakan setiap manusia dengan khasiatul-insan ‘potensi manusia’ yang terdiri dari kebutuhan jasmani (makan, minum, buang hajat, tidur, dsb.) dan potensi naluri (beragama (tadayun), melestarikan jenis (nau’), dan mempertahankan diri (baqa’)). Semua potensi ini menuntut untuk dipenuhi, sedangkan tuntutan pemenuhannya harus sesuai dengan hukum syarak yang telah Allah tetapkan.

Dalam kaitan Gen Z ikut menyuarakan pendapatnya, baik ikut aksi demonstrasi ataupun aktif di media sosial, ini adalah bentuk cara mempertahankan diri mereka ketika mendapat tekanan; merasa tidak suka, marah, kesal yang datang dari luar sehingga ingin melakukan pembelaan atau perlawanan sebagai aktualisasi naluri baqa’-nya. Oleh sebab itu, ini adalah fitrah karena pada hakikatnya semua manusia mempunyai potensi ini.

Agar pemenuhan naluri baqa’ tetap sesuai dengan apa yang Allah kehendaki, butuh suatu pemahaman yang benar dalam pemenuhannya. Oleh karenanya, ketika Gen Z melakukan aksi demonstrasi menuntut suatu perubahan, standarnya bukan karena ingin dipandang hebat/keren oleh orang lain, ataupun ingin mendapatkan materi dari konten media sosial yang dimiliki, melainkan aksi yang muncul akibat adanya kesadaran menolak kezaliman yang terjadi. Upaya menghilangkan kezaliman dengan cara memberikan nasihat kepada penguasa ini wajib dilakukan semata-mata untuk mengharap rida Allah.

Bicara Perubahan

Gen Z perlu memahami arah perubahan seperti apa yang dapat menjadi solusi tuntas atas semua problem yang ada. Perubahan bukan hanya pergantian pemimpin, membubarkan DPR, ataupun menurunkan harga-harga kebutuhan hidup. Perubahan yang dimaksud adalah perubahan yang menghantarkan pada perubahan sistem hidup yang menyeluruh—yang saat ini menggunakan sistem sekuler kapitalisme (pemisahan agama dari kehidupan) menuju sistem Islam. Islam akan digunakan sebagai asas dalam setiap aktivitas perbuatan manusia, baik secara individu, masyarakat, maupun negara.

Islam juga mempunyai mekanisme muhasabah lil hukkam (mengoreksi penguasa). Dalam QS An-Nahl ayat 125 Allah Swt. berfirman, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.”

Dengan demikian, ketika Gen Z berbicara tentang perubahan hakiki, cara yang dipakai haruslah cara yang dibenarkan oleh Islam. Mengingatkan kepada penguasa untuk menerapkan aturan yang datang dari Allah. Keberaniannya menyampaikan kebenaran merupakan bukti ketaatannya kepada Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Pemimpin para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthallib dan (juga) seorang laki-laki yang berdiri di hadapan penguasa zalim, lalu ia memerintahkannya (kepada kebaikan) dan melarangnya (dari kemungkaran), kemudian penguasa itu membunuhnya.” (HR Al-Hakim).

Potensi Besar Gen Z dalam Mewujudkan Kebangkitan Umat

Sejarah peradaban Islam mencatat bahwa perubahan besar yang Rasulullah ﷺ bawa dari kegelapan jahiliah menuju cahaya Islam kafah, tidak pernah lepas dari peran pemuda. Dalam hal ini Gen Z adalah bagian dari pemuda, yang mana mereka bukan sekadar pelengkap dalam perjalanan dakwah, melainkan garda terdepan yang berani, penuh energi, dan siap mengorbankan jiwa serta raga demi tegaknya kalimatullah.

Pemuda adalah fase kehidupan manusia yang penuh kekuatan, idealisme, dan keberanian untuk mengambil risiko. Al-Qur’an sendiri menyinggung hal ini dalam firman Allah ﷻ tentang Ashabulkahfi, “Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk.” (QS Al-Kahfi: 13).

Ayat di atas menegaskan bahwa pemuda adalah kelompok yang berpotensi besar untuk menjadi pionir perubahan karena keberanian mereka melawan arus kebatilan demi kebenaran. Sejak awal dakwah Islam, mayoritas pengikut Rasulullah ﷺ adalah para pemuda. Mereka datang dari berbagai latar belakang, tapi sama-sama memiliki semangat untuk meninggalkan sistem jahiliah menuju Islam kafah.

Beberapa contoh pemuda inspiratif ialah Ali bin Abi Thalib (usia 10 tahun), yaitu pemuda pertama yang menerima Islam dan kelak menjadi simbol keberanian, kecerdasan, dan keteguhan dalam membela agama. Mus’ab bin Umair (20), yaitu pemuda kaya raya yang meninggalkan kemewahan dunia untuk mengemban amanah sebagai duta dakwah pertama di Madinah. Zubair bin Awwam (usia belasan tahun) yang rela berkorban nyawa untuk melindungi Rasulullah ﷺ dan selalu tampil sebagai pejuang tangguh. Usamah bin Zaid (17), yaitu mendapat amanah besar sebagai panglima pasukan kaum muslim menghadapi Romawi, menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak ditentukan oleh usia, melainkan iman dan kapasitas. Mereka adalah bukti nyata betapa pemuda menjadi pilar utama dalam kebangkitan umat dan mewujudkan perubahan hakiki.

Taghyir, Perubahan Hakiki yang Rasulullah ﷺ Bawa

Perubahan yang dibawa Rasulullah ﷺ bukanlah perubahan parsial atau sekadar kosmetik, melainkan taghyir hakiki—transformasi menyeluruh dari sistem jahiliah menuju Islam kafah. Ada beberapa aspek perubahan besar yang dipelopori pemuda bersama Rasulullah ﷺ.

Pertama, perubahan akidah, yakni dari penyembahan berhala menuju tauhid. Pemuda berani meninggalkan tradisi nenek moyang demi kebenaran Islam. Kedua, perubahan fikrah (pola pikir), yakni dari fanatisme kesukuan menuju persaudaraan Islam (ukhuah islamiah). Ketiga, perubahan sistem kehidupan, yakni dari hukum buatan manusia (adat jahiliah) menuju syariat Allah yang menyeluruh (siyasah, muamalah, akhlak).

Kondisi umat Islam hari ini banyak mengalami problematika yang mirip dengan masa jahiliah, seperti kerusakan moral, dominasi sistem kapitalisme, dan hegemoni pemikiran Barat yang menyingkirkan nilai Islam. Dalam situasi ini, pemuda kembali dituntut untuk mengambil peran sebagaimana generasi sahabat terdahulu, yaitu menjadi pelopor kesadaran Islam di tengah arus sekularisme; Menggali potensi ilmu dan teknologi untuk kepentingan umat, bukan sekadar gaya hidup; Menjadi garda terdepan dalam dakwah dan perjuangan, menegakkan Islam kafah sebagai solusi hakiki.

Sejarah Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa perubahan hakiki (taghyir) dari jahiliah menuju Islam kafah tidak mungkin terwujud tanpa peran pemuda, termasuk Gen Z. Mereka adalah energi, semangat, dan ujung tombak kebangkitan umat. Oleh karenanya, Gen Z harus mengambil inspirasi dari Ali, Mus’ab, Zubair, dan Usamah—menjadi generasi yang siap berjuang, bukan sekadar pengikut arus zaman.

Ini karena pada akhirnya, kebangkitan umat dan tegaknya Islam kafah akan lahir dari tangan-tangan mereka yang dengan kesadaran, beriman, dan istikamah di jalan dakwah. Jadilah bagian yang memperjuangkan Islam Kafah. [MNews/GZ]

Share

2 thoughts on “Gen Z Bicara Perubahan, Potensi Besar Kebangkitan Umat”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *