Maulid dan Refleksi Kepemimpinan Islam

Maulid dan Refleksi Kepemimpinan Islam

Penulis: Ummu Nashir N.S.

Muslimah News, FOKUS — Kita telah memasuki Bulan Rabiulawal atau orang sering menyebutnya dengan Bulan Maulid, bulan kelahiran Nabi Muhammad ﷺ, laki-laki yang Allah pilih untuk menyampaikan risalah Islam kepada umat manusia. Ini merupakan tanda kasih sayang Allah ﷻ dan nikmat paling besar yang Allah ﷻ karuniakan untuk kita umat manusia, yaitu dengan diutusnya seorang Rasul sebagai penerang bagi orang-orang yang salah jalan dan petunjuk bagi orang-orang yang tersesat.

Beliau ﷺ diutus dengan membawa risalah Islam bagi seluruh manusia dan alam semesta. Beliau adalah suri teladan bagi kaum muslim dan pembawa cahaya bagi kehidupan manusia. Rasulullah Muhammad ﷺ, utusan Allah yang akan mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya, membebaskan manusia dari berbagai kezaliman menuju keadilan, juga memerdekakan manusia dari penghambaan kepada manusia menuju penghambaan hanya kepada Allah ﷻ.

Kelahiran Muhammad ﷺ, Cahaya di Tengah Kegelapan

Sebagaimana diketahui, masa sebelum Islam adalah masa kegelapan, dan masyarakat sebelum Islam adalah masyarakat jahiliah. Akan tetapi, kelahiran (maulid) Muhammad ﷺ di tengah mereka, menggantikan kegelapan dengan “cahaya”; masyarakat jahiliah terkubur digantikan dengan lahirnya masyarakat baru, yakni masyarakat Islam. Sejak diutus sebagai Rasul, Nabi Muhammad ﷺ adalah pemimpin di segala bidang. Ia memimpin umat di masjid, di pemerintahan, bahkan di medan pertempuran.

Oleh sebab itu, kita bisa menyimpulkan bahwa makna terpenting dari kelahiran Nabi Muhammad ﷺ adalah keberadaannya yang telah mampu membidani kelahiran masyarakat baru, yakni masyarakat Islam—sebuah masyarakat yang tatanan kehidupannya diatur seluruhnya oleh aturan-aturan Islam.

Wajar jika kemudian Al-‘Allamah Sayyid Muhammad ‘Alwi al-Maliki mengatakan, “Andai tidak ada kelahiran Nabi, tentu tidak akan pernah ada peristiwa Hijrah. Andai tidak ada kelahiran Nabi, tentu tidak akan ada peristiwa Perang Badar. Andai tidak ada kelahiran Nabi, tentu tidak akan ada peristiwa penaklukan Kota Makkah. Andai tidak ada kelahiran Nabi, tentu tidak akan pernah ada umat Islam. Andai tidak ada kelahiran Nabi, tentu tidak akan pernah ada dunia ini.”

Begitulah luar biasanya kelahiran Nabi Muhammad ﷺ, kelahirannya benar-benar menjadi rahmat sehingga baginda menyandang gelar sebagai Nabiyu ar-Rahmah.

Walhasil, sudah seharusnya momen Maulid ini—momen kelahiran Nabi Muhammad ﷺ—menjadi waktu yang tepat untuk makin mencintainya sepenuh hati. Wujud mencintai Rasulullah ﷺ adalah dengan menjadikan beliau sebagai teladan terbaik bagi kita semua. Allah Swt. telah menyampaikan dalam firman-Nya bahwa Rasulullah ﷺ adalah contoh terbaik, uswah hasanah bagi kita semua.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS Al-Ahzab [33]: 21).

Mencintai Rasulullah Berarti Menjadikannya sebagai Teladan

Kelahiran Muhammad ﷺ merupakan rahmat bagi seluruh alam, membawa risalah bagi seluruh umat. Karenanya merupakan kewajiban bagi umat Islam untuk mencintai Rasulullah ﷺ dengan segenap jiwai. Sesungguhnya mencintai dan mengagungkan Rasulullah ﷺ merupakan konsekuensi iman kita kepada Allah ﷻ.

Allah ﷻ berfirman,

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُوني‏ يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَ يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَ اللهُ غَفُورٌ رَحيمٌ قُلْ أَطيعُوا اللهَ وَ الرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللهَ لا يُحِبُّ الْكافِرينَ

“Katakanlah, ‘jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’ Katakanlah, ‘Taatilah Allah dan Rasul-Nya, jika kamu berpaling maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang kafir.’” (QS Ali Imran: 31–32).

Imam Ibnu Katsir di dalam tafsirnya menjelaskan, “Ayat yang mulia ini menetapkan bahwa siapa saja yang mengaku mencintai Allah, sedangkan ia tidak berada di jalan Muhammad ﷺ, maka ia berdusta sampai ia mengikuti syariat Muhammad secara kafah.”

Dari Anas ra., ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidaklah seorang hamba beriman hingga aku lebih dia cintai daripada keluarga dan hartanya, serta manusia semuanya.” (HR Muslim).

“Ada tiga perkara yang apabila perkara tersebut ada pada seseorang, maka ia akan mendapatkan manisnya iman, yaitu hendaknya Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya. Apabila ia mencintai seseorang, ia hanya mencintainya karena Allah. Ia tidak suka untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya, sebagai-mana ia tidak mau untuk dilemparkan ke dalam api.” (HR Bukhari Muslim).

Hadis-hadis ini memberikan penjelasan kepada kita bahwa wajib mencintai Allah dan Rasul-Nya di atas kecintaan-kecintaan kita yang lainnya. Kecintaan kita kepada Rasulullah ﷺ mengharuskan adanya penghormatan, ketundukan, dan kepatuhan kepada beliau. Kecintaan kita kepada Rasulullah ﷺ bukan sembarang cinta dan bukan sekadar ungkapan di mulut, melainkan ia merupakan bukti cinta kita kepada Allah ﷻ.

Cinta kita kepada Allah dan utusan-Nya mengharuskan kita mengikuti apa yang dikehendaki oleh Sang Khalik Al-Mudabbir. Alhasil, kecintaan seorang hamba kepada Allah ﷻ haruslah tercurah dengan senantiasa beritibak (ittiba’) atau mengikuti dan meneladan segala yang Rasulullah ﷺ lakukan, sesuai tuntunan syariat.

Hal ini diperkuat pula dengan firman-Nya,

وَمَآ اٰتٰىكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهٰىكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْاۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِۘ

“Apa saja yang Rasul bawa kepadamu, maka ambillah. Apa saja yang dilarangnya, maka tinggalkanlah. Bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah amat keras hukumannya.” (QS Al Hasyr: 7).

Ayat ini memerintahkan kita untuk meneladankan Rasul ﷺ, yaitu meneladan seluruh apa yang Rasulullah ﷺ bawa. Kita tidak boleh membatasi peneladanan kita hanya pada aspek-aspek tertentu, melainkan harus seluruhnya, terkecuali aspek yang dikhususkan untuk beliau. Oleh sebab itu, kita wajib mengikuti seluruh syariat yang dibawanya.

Ibnu Katsir menjelaskan maksud ayat ini, “Apa pun yang beliau perintahkan kepada kalian maka kerjakanlah, dan apa yang dilarangnya maka tinggalkanlah,” yaitu karena beliau hanyalah memerintahkan kebaikan dan melarang keburukan. Allah Swt. sudah memerintahkan kita untuk mengikuti segala apa pun yang dibawa oleh Rasulullah dan menjauhi apa pun yang dilarangnya. Mulai dari aktivitas sederhana, bahkan hingga mendirikan Negara Islam, semua beliau contohkan kepada kita. Sungguh, sebagai seorang pemimpin, bahkan pemimpin negara, Rasulullah ﷺ telah memberikan teladan terbaik bagi umatnya.

Maulid, Refleksi Kepemimpinan Islam

Karut-marut yang terjadi di sebuah negeri tidak lepas dari peran seorang pemimpin membawa kepada perubahan. Jika kita telaah masa Rasulullah lahir ke dunia, situasi masyarakatnya adalah masyarakat jahiliah. Kondisi masyarakat saat itu berada dalam keterbelakangan, aturan yang ada saat itu tidak manusiawi, aturan buatan manusia menjadi pijakan.

Situasi ini kemudian berubah drastis ketika Rasulullah ﷺ memimpin negara, umat Islam berada dalam keberkahan. Beliau sosok pemimpin ideal harapan umat. Dengan demikian, pada saat terjadi krisis kepemimpinan sebagaimana hari ini, umat Islam seharusnya kembali menelaah perjalanan kepemimpinan Rasulullah ﷺ hingga melahirkan peradaban agung.

Sangat kontras dengan kepemimpinan pada sistem demokrasi hari ini. Para pemimpin di negeri ini tidak henti-hentinya membebani rakyat dengan berbagai macam pungutan. Kekayaan yang berlimpah ruah di negeri ini tidak dapat dinikmati sepenuhnya oleh seluruh rakyat melainkan hanya dinikmati oleh segelintir kapitalis. Ini karena tata kelola sumber daya alam di negeri ini tidak berdasarkan aturan Islam. 

Sungguh kita sangat merindukan hadirnya kepemimpinan yang kuat dan berpengaruh luas. Sosok pemimpin teladan kita, Nabi Muhammad ﷺ telah memberikan panduan bagaimana keberhasilan kepemimpinannya hingga umat Islam menjadi bangsa yang unggul dalam segala aspek kehidupan. Dalam kurun waktu 10 tahun di Madinah beliau mampu mewujudkan tatanan kehidupan masyarakat yang adil, sejahtera, dan mampu menunjukkan pada dunia bahwa umat Islam adalah umat terbaik.

Rasulullah ﷺ dengan bimbingan wahyu dari Allah Swt. telah berhasil membebaskan bangsa-bangsa hingga tunduk di bawah naungan daulah Islam. Hal ini juga dilanjutkan oleh kepemimpinan setelah wafatnya beliau, yakni Khulafaur Rosyidin, Khilafah Bani Ummayah, Bani Abbasiyah dan Bani Utsmaniyah hingga berakhirnya sistem Khilafah pada 1924 Masehi. Rasulullah ﷺ telah meletakkan fondasi negara Islam semenjak beliau hijrah ke Madinah.

Keberhasilan kepemimpinan Rasulullah ﷺ dapat kita lihat dari setidaknya tiga sisi. Pertama, asas yang dipakai sebagai pijakan dalam mengatur kehidupan bermasyarakat dan bernegara berasaskan akidah Islam.

Kedua, Rasulullah ﷺ telah menerapkan syariah Islam secara kafah dalam seluruh aspek kehidupan baik syariat yang mengatur hubungan manusia dengan Rabb-nya (akidah dan ibadah), hubungan manusia dengan dirinya (akhlak, pakaian, dan makanan) maupun hubungan manusia dengan sesamanya (muamalahdan ukubat). Rasulullah ﷺ menerapkan aturan berdasarkan Al-Qur’an dan Sunah. Tidak pernah melenceng sedikit pun dari aturan Allah ﷻ.

Ketiga, beliau memiliki kepribadian yang istimewa, akhlak yang mulia. Memimpin masyarakat dengan adil, bijaksana, amanah, dan berkasih sayang terhadap manusia. Sebagai kepala negara, beliau menunjukkan sikap seorang pemimpin yang mengayomi dan mementingkan rakyatnya. Alhasil, rakyat betul-betul merasakan kesejahteraan penuh keberkahan.

Oleh karena itu, meneladan kepemimpinan Rasulullah ﷺ tidak cukup semata dilihat dari aspek akhlak beliau, melainkan harus dilihat secara keseluruhan dari sistem yang diterapkan pada saat itu. Pada saat itu, beliau menerapkan sistem Islam dan dilanjutkan oleh para khalifah sepeninggal beliau. Sangat nyata bahwa Maulid merupakan refleksi kepemimpinan Islam, momen bagi umat Islam untuk meneladan kepemimpinan Rasulullah Muhammad ﷺ.

Profil Pemimpin Ideal

Dari sosok nabi Muhammad ﷺ sebagai pemimpin umat, Syekh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab Asy-Syakhshiyyah Islamiyyah Juz 2 merumuskan bahwa seorang pemimpin dalam Islam harus memiliki tiga kriteria penting, yaitu al-quwwah (kekuatan), at-taqwa (ketakwaan, dan al-rifq bi ar-ra’iyyah (lembut terhadap rakyatnya).

Seorang pemimpin harus memiliki quwwatu syakhshiyyah (kekuatan kepribadian), yaitu kekuatan akliah dan kekuatan nafsiah. Seorang pemimpin, di samping harus memiliki kekuatan akal yang memadai, ia juga memiliki pola sikap kejiwaan yang baik dan sabar, tidak emosional, dan tidak pula tergesa-gesa. Ini semua akan menjadikannya mampu memutuskan kebijakan yang tepat dan sejalan dengan syariat Islam, mampu melahirkan kebijakan-kebijakan cerdas, serta bijaksana yang mampu melindungi dan menyejahterakan rakyatnya.

Dijelaskan dalam sebuah hadis dari Abu Dzar r.a berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah ﷺ, “Wahai Rasulullah, mengapa Anda tidak mempekerjakan saya?” Mendengar pertanyaan itu, beliau menepuk-nepuk dua pundak Abu Dzar, kemudian bersabda, “Wahai Abu Dzar, engkau adalah orang yang lemah, sementara kemas’ulan itu (tanggung jawab) itu amanat. Dan kelak pada Hari Kiamat [menjadi sebab] kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mengambilnya dengan benar dan melaksanakannya dalam kebenaran.” (HR Muslim).

Tidak dimungkiri bahwa dalam kekuatan syahsiahterdapat potensi bagi timbulnya hegemoni dan tirani, maka penguasa harus memiliki sebuah sifat yang melindunginya dari kejahatan tirani. Oleh karena itu, seorang pemimpin harus memiliki sifat at-taqwa atau ketakwaan dalam dirinya sendiri maupun dalam kepemimpinannya terhadap umat. Pemimpin yang bertakwa akan selalu berhati-hati dalam mengatur urusan rakyatnya. Pemimpin seperti ini cenderung untuk tidak menyimpang dari aturan Allah ﷻ. Ia selalu berjalan lurus sesuai dengan syariat Islam dan berusaha sekuat tenaga untuk menerapkan hukum-hukum Allah ﷻ. Ia sadar bahwa kepemimpinan adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban kelak pada Hari Akhir.

Sedangkan Ar-rifq adalah lembut terhadap rakyatnya menjadikan pemimpin akan semakin dicintai dan tidak ditakuti oleh rakyatnya. Dalam sebuah riwayat dikisahkan, bahwa Aisyah ra. berkata, “Saya mendengar Rasulullah ﷺ berdoa di rumah ini, ‘Ya Allah, siapa saja yang diserahi kekuasaan untuk mengurusi urusan umatku, kemudian ia membebaninya, maka bebanilah dirinya. Siapa saja yang diserahi kekuasaan untuk mengurus urusan umatku, kemudian ia berlaku lemah lembut, maka bersikap lembutlah kepada dirinya.’” (HR Muslim).

Demikianlah, Maulid merupakan momen untuk menunjukkan kecintaan kita pada Rasul-Nya, sekaligus menunjukkan komitmen kita untuk siap mengikuti tuntunan beliau, termasuk urusan kepemimpinan dan sistem pemerintahan. Maulid adalah waktu untuk membuktikan bahwa kita layak disebut sebagai pengikutnya Baginda Nabi ﷺ yang kelak akan mendapat syafaat beliau di yaumulakhir, insyaallah. [MNews/GZ]

Share

2 thoughts on “Maulid dan Refleksi Kepemimpinan Islam”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *