Muslimah News, LENSA DAERAH — Usia senja tidak membuat Ustazah Siti Kustiyati (78) menghentikan langkah dakwahnya. Di berbagai majelis taklim di Yogyakarta, ia sering menyampaikan tentang pentingnya penerapan Islam kafah.
Siapa sangka, di balik tubuh mungil dan usia yang tidak lagi muda, semangat juangnya tetap membara. Suara lantangnya dalam membagi pengalaman berdakwah selama ini, tampak menggairahkan suasana sesi konsolidasi dalam Liqo Muharram Mubalighah (LMM) 1447 H: “Saatnya Mubaligah Memperjuangkan Tegaknya Islam Kafah”, Yogyakarta, Ahad (20-7-2025).
Mantan kepala sekolah di sebuah sekolah dasar di Bantul, DIY, ini memandang, pengetahuan umat tentang Islam kafah masih sangat sedikit.
“Sekitar sepuluh persen saja. Islam hanya dikaitkan dengan salat, puasa, zakat, zikir, haji, dan semisalnya. Selebihnya pengetahuan mereka diisi tentang sekularisme, kapitalisme, dan demokrasi,” ujarnya.
Bahkan lanjutnya, pengetahuan tentang sekularisme demokrasi sangat mendarah daging. Sebagian masyarakat masih melihat demokrasi sebagai tatanan kehidupan nomor satu, tidak ada yang lain.
“Jika saya beritahu tentang kesalahan dan kekeliruan demokrasi, mereka malah menolak tegas, ngeyel. Bahkan karena saya sering membahas politik saat bersama mereka, saya akhirnya diberi label ustazah politik,” kenangnya.
Di hadapan ratusan mubaligah dan ustazah yang hadir dari penjuru wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Bu Siti, sapaan akrabnya, menyampaikan, sebagian masyarakat merasa aneh saat mengaji tentang persoalan negara karena selama ini mengaji identik dengan membaca doa, selawat, dan zikir saja.
“Tujuan saya sering mengirimkan video dan membahas tentang politik di grup WhatsApp juga, agar para ibu menjadi orang cerdik, pandai, berdiri di depan, dan menjadi pemuka para ibu lainnya dalam membela Islam kafah,” jelasnya.
Ia menyayangkan, kebanyakan mad’u (objek) dakwahnya masih memandang ada pembahasan yang lebih penting daripada politik. Seolah politik itu harus dijauhkan dari agama.
“Bahkan, saya pernah dilarang menampakkan kejelekan kepemimpinan saat ini. Padahal, saya ingin menunjukkan, ini lho hasil dari demokrasi. Jika saya dilarang mengabarkan kejelekan pemimpin, siapalah saya. Allah Swt. saja mengabarkan kejelekan Raja Fir’aun dan Abu Lahab dalam Al-Qur’an,” terangnya.
Di akhir penyampaian, Bu Siti mengajak kepada para mubaligah agar membekali diri dengan mendalami Islam kafah dan berani menyampaikannya kepada umat. [MNews/Kontributor daerah: PS/Yogya]
