[Politik Ekonomi Islam] Pelestarian Sistem Kapitalisme

[Politik Ekonomi Islam] Pelestarian Sistem Kapitalisme

Penulis: Abdurrahman al-Maliki

Muslimah News, TELAAH KITAB — Upaya-upaya untuk melestarikan sistem kapitalisme setelah kebobrokannya tersingkap, tampak sekali dalam cara-cara menjalankan ekonomi. Buktinya jelas terlihat dari adanya kesepakatan untuk menjadikan sistem ekonomi secara keseluruhan dibangun atas dasar pertambahan pendapatan nasional disertai dengan sistem tambal sulam berupa keadilan sosial atau pencangkokan sosialisme.

Bahkan negara-negara yang berhasil ditundukkan oleh Amerika melalui dominasi modalnya, seperti Mesir–yang sering membual dan membanggakan diri dengan selalu mempropagandakan sosialisme secara global—ternyata benar-benar telah menjadikan pertambahan pendapatan nasional sebagai asas pengaturan perekonomiannya.

Artinya, perekonomiannya dibangun di atas ekonomi kapitalis. Semua ini menunjukkan bahwa masalahnya adalah perubahan tata cara penerapan sistem kapitalisme dengan suatu taktik (uslub) baru demi menyamarkannya. Kenyataan ini persis sebagaimana yang terjadi pada perubahan taktik penjajahan.

Kebobrokan sistem kapitalisme telah tersingkap. Kerusakannya telah nyata di hadapan negeri-negeri yang berada di bawah hegemoni Barat. Propaganda Rusia untuk melawan kapitalisme juga sangat berpengaruh hingga menjadikan orang-orang yang fanatik terhadap Barat berkata, “Tidaklah mungkin untuk mengadopsi kapitalisme secara sempurna karena bahaya-bahaya ekonomi dan sosial yang meliputinya.”

Dari sini, pelestarian sistem kapitalisme dengan taktik baru adalah sebuah keniscayaan demi tetap menerapkan kapitalisme di tengah masyarakat tidak secara kasatmata. Dengan demikian, taktik baru ini merupakan pengembangan dari kapitalisme. Untuk mewujudkan semua itu, mereka kemudian berupaya untuk menciptakan opini umum tentang perencanaan dan pembangunan ekonomi, sekaligus opini umum tentang sosialisme dan keadilan sosial.

Dengan itulah mereka menjamin pelestarian sistem kapitalisme agar tetap bisa diterapkan dan bisa mendominasi di negeri-negeri Islam dengan taktik baru tersebut. Namun demikian, pada faktanya, taktik baru ini tidaklah benar-benar baru sebagaimana halnya taktik baru penjajahan (neoimperialisme). Ia sebetulnya merupakan taktik lama yang pernah digunakan Eropa, juga saat kebobrokan sistem kapitalismenya tersingkap pada abad ke-19 dan hampir roboh.

Kemudian, taktik tersebut digunakan dan memang cukup berhasil menepis bahaya yang ditimbulkan kapitalisme. Dengan taktik ini pula kapitalisme bisa tetap eksis di Eropa hingga hari ini. Hingga hari ini pula Eropa berupaya menerapkan taktik ini di sejumlah negeri yang berada di bawah hegemoninya demi tetap menjaga eksistensi sistem kapitalisme setelah sebelumnya hampir runtuh.

Dengan demikian, taktik ini memang baru bagi negeri-negeri tersebut, tetapi bukan hal baru dalam hal kemunculannya karena hakikatnya memang itu taktik lama. Hal ini terjadi pada masa awal abad ke-19 saat kebobrokan sistem kapitalisme tersingkap dengan sempurna, lalu muncul pemikiran baru yang mengancam akan meruntuhkannya. Munculnya pemikiran baru yang mengancam ini merupakan akibat dari kezaliman yang dirasakan masyarakat di Eropa dan Rusia yang ditimbulkan oleh sistem kapitalisme ini.

Akibat sejumlah kekeliruan kapitalisme yang begitu banyak, muncullah pemikiran-pemikiran sosialis yang kemudian menjadi opini umum. Pada paruh awal abad ke-19, pemikiran-pemikiran sosialis ini tampil dalam bentuk diskusi-diskusi intelektual, serta muncul dalam sejumlah korespondensi dan karangan. Memang, ada sejumlah partai yang mengemban pemikiran-pemikiran sosialis ini. Namun, partai-partai ini tidak mengambil peran yang cukup dominan untuk memengaruhi masyarakat sekaligus menentang berbagai sistem hukum dan kehidupan lain.

Akan tetapi, pada paruh kedua abad ke-19, semua itu berubah menjadi sebuah gerakan politik. Kemudian mulai muncul sejumlah upaya untuk membentuk partai-partai yang berupaya untuk meraih kekuasaan dalam rangka menerapkan sistem sosialisme. Partai-partai yang mengusung ide-ide sosialis ini secara real muncul di Rusia dan sejumlah negara Eropa. Partai-partai sosialis ini lalu menerbitkan sejumlah majalah, menyelenggarakan berbagai konferensi, melakukan gerakan-gerakan revolusioner, serta beragam propaganda tentang sosialisme. Demikianlah, semua itu dilakukan sehingga ide-ide sosialisme nyaris menguasai seluruh daratan Eropa.

Dengan begitu, sistem kapitalisme sesungguhnya sedang menuju kehancuran, terutama oleh ide Sosialisme-Marxisme. Oleh karena itu, para ideolog kapitalis lalu menggagas sekaligus memunculkan pemikiran baru yang disebut dengan sosialisme negara ke seluruh dunia.

Tujuannya adalah untuk memalingkan masyarakat dunia dari Sosialisme-Marxisme sebagai salah satu taktik baru untuk tetap menerapkan kapitalisme dalam bentuk yang bisa menjamin keberlangsungan dan kelestariannya. Hanya saja, sosialisme Karl Marx ternyata sukses. Di atas ideologi inilah Uni Soviet terbentuk.

Dengan berdirinya Uni Soviet yang berideologi Sosialisme-Marxisme, tentu ancaman terhadap kapitalisme makin menguat. Sebaliknya, sosialisme negara (yang awalnya dimunculkan untuk melawan Sosialisme-Marxisme), meski kemudian menjadi asas sejumlah partai di sebagian besar negeri-negeri Eropa, tidaklah meraih kesuksesan yang sama. Bahkan kemudian mengalami kebangkrutan. Setelah itu, dimunculkanlah ide tentang keadilan sosial yang mewujud dalam bentuk berbagai pelayanan sosial demi kepentingan sistem kapitalisme.

Dengan dua ide ini, yakni sosialisme negara dan keadilan sosial, Eropa mampu menjaga eksistensi sistem kapitalismenya di Eropa, sekaligus tegak di hadapan sistem Sosialisme-Marxisme di Rusia. Mereka mampu melawan sosialisme sejak masih diemban oleh sebuah partai pada masa akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Mereka sekaligus mampu mengimbanginya setelah diemban oleh sebuah Negara (yakni Uni Soviet) saat Perang Dunia I hingga berakhirnya Perang Dunia II.

Sekarang kezaliman kapitalisme mulai dirasakan masyarakat dan menjalankan ke negara-negara yang berada di bawah kekuasan Eropa. Negara-negara besar datang dengan membawa ide sosialisme, yakni sosialisme negara dan keadilan sosial, selain ide tentang perencanaan dan pembangunan perekonomian. Semua ini merupakan strategi untuk mempertahankan sistem kapitalisme dan agar negara-negara yang berada di bawah kekuasaanya tidak lepas dari cengkeramannya.

Oleh karena itu, propaganda sosialisme, yakni sosialisme negara, yang oleh para penguasa Arab disebut dengan sosialisme Arab, propaganda tentang keadilan sosial, selain propaganda tentang perencanaan dan pembangunan ekonomi, semuanya merupakan propaganda terselubung (kamuflase).

Maksud sebenarnya dari semua itu adalah memperkukuh eksistensi sistem kapitalisme di suatu negara dengan memelihara asasnya dan menambalnya dengan konsep sosialisme, yakni sosialisme negara dan keadilan sosial. Dengan begitu, kapitalisme bisa tetap dapat diterapkan di suatu negara dan mengontrol setiap interaksi kaum muslim.

Inilah asas yang menjadi dasar propaganda tentang perencanaan dan pembangunan ekonomi, selain propaganda sosialisme dan keadilan sosial. Namun demikian, semua ini sebetulnya hanya merupakan upaya untuk memperpanjang umur imperialisme Barat dan mempertahankan sistem kapitalisme di negeri-negeri muslim.

Kerusakan pemikiran ini—yakni pemikiran seputar upaya untuk menjadikan pertambahan pendapatan nasional (national income) sebagai asas sistem perokonomian, pemikiran sosialisme, dan keadilan sosial—jelas sekali saat membahas subtansinya. Lagi pula eksistensi pemikiran-pemikiran itu merupakan hasil rekayasa negara-negara Barat. Oleh karena itu, setiap pemikiran tersebut perlu dipaparkan dan dijelaskan kekeliruannya sebagai sebuah pemikiran ekonomi. [MNews/RY-YG]

Sumber: Abdurrahman al-Maliki, Politik Ekonomi Islam.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *