[Pembuat Hukum] Tujuan Hidup yang Rasional (Bagian 1/3)

[Pembuat Hukum] Tujuan Hidup yang Rasional (Bagian 1/3)

Penulis: Abdullah

Muslimah News, TELAAH KITAB — Sejauh ini kita baru menjawab pertanyaan fundamental yang pertama, yaitu bagaimana kita bisa berada di sini? Jawabannya adalah bahwa manusia dan segala sesuatu yang ada di alam semesta ini telah diciptakan dan diatur oleh Pencipta Yang Esa, Maha Kuasa, dan Maha Kekal.

Kita masih harus menguji jawaban-jawaban Islam terhadap pertanyaan fundamental yang lain. Apa yang saya lakukan di dalam kehidupan ini? Dengan hukum apa seharusnya saya hidup? Kedua pertanyaan ini memiliki relevansi dan signifikansi yang tinggi karena berkaitan dengan cara yang harus dilakukan manusia untuk memanfaatkan waktunya yang terbatas, serta daya dan upayanya dalam rentang hidupnya yang terbatas. Tentu saja, kita masih harus menjawab pertanyaan terakhir, yakni apa yang terjadi pada kita setelah kita mati nanti?

Sungguh amat irasional apabila ada orang yang berusaha menetapkan tujuan hidupnya tanpa terlebih dahulu menjawab masalah bagaimana ia bisa sampai di kehidupan ini. Seseorang hanya bisa mengadopsi tujuan hidup tertentu ketika ia memiliki fakta-fakta yang diperlukan untuk membangun pemahaman yang rasional.

Namun, apabila ia gagal menjawab pertanyaan tentang cara manusia memperoleh kehidupan ini, ia tidak memiliki data awal dan mendasar yang diperlukan untuk memecahkan masalah cara menjalani kehidupan ini. Pertanyaan ini terlalu penting untuk dilewatkan atau dibiarkan tidak terjawab.

Pertanyaan serupa, meskipun bersifat fiktif, diajukan dan dijawab oleh para filsuf sosial seperti Thomas Hobbes (lihat bukunya Leviathan), John Locke (Treatise on Government), dan lain-lain, ketika mereka memberi dalih apa yang disebut sebagai “kondisi alamiah (state of nature)”, di mana manusia hidup secara independen tanpa masyarakat. Dari kondisi alamiah ini, ketika kebutuhan manusia tidak dapat dipenuhi secara layak, manusia mengatur diri mereka sendiri sehingga membentuk masyarakat.

Jadi, para pemikir itu menjustifikasi analisis mereka tentang masyarakat dari kondisi alamiah yang semula. Dengan demikian, awal mula dari masalah yang dibahas, yaitu masyarakat, menjadi basis bagi mereka untuk membangun bentuk masyarakat yang ideal. Seorang pemikir modern seperti Rawls juga mengadopsi pendekatan ini. Ia membuat suatu “tujuan hidup yang rasional” dan sebuah “masyarakat yang adil” dari apa yang disebutnya “posisi awal (original position)”. Menurutnya semua hidup di balik tabir ketaktahuan dan dipaksa untuk membuat pilihan tentang cara menjalani kehidupan mereka secara rasional. Jadi, dari sudut pandang rasional dan akal sehat yang sederhana, penting sekali untuk memahami asal mula setiap masalah sebelum kita berupaya membangun analisis rasional untuk kondisi terbaik yang mungkin muncul.

Namun, yang lebih aneh lagi ialah bahwa kebanyakan pemikir modern (termasuk Rawls) berusaha menjawab pertanyaan tentang cara manusia seharusnya menjalani kehidupannya, tanpa pernah secara serius berupaya memahami secara seksama cara manusia bisa memperoleh kehidupan ini.

Namun demikian, jawaban yang secara rasional meyakinkan (seperti yang Islam tegaskan) bahwa manusia eksis di dunia ini berkat X, tidak secara langsung menjawab pertanyaan tentang tujuan hidup. Juga tidak secara langsung memberitahu kita tentang hal yang terjadi setelah manusia mati.

Justru jawaban itu memberi kita tempat yang benar untuk mencari jawaban-jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan tadi, yaitu X. Penulis cerita pasti tahu jalan cerita dari tulisan yang ia tulis dan akhir ceritanya. Demikian pula, Pencipta kehidupan harus tahu makna dan akhir dari kehidupan yang diciptakan-Nya itu. Jadi apabila X memang menciptakan manusia dan memberi manusia kehidupan, hanya X sajalah yang bisa dengan tepat mendefinisikan tujuan manusia dalam kehidupan ini, serta hal yang akan terjadi setelah manusia mati kelak.

Secara rasional, kita tidak bisa menerima siapa pun selain X, yang mendefinisikan tujuan kehidupan. Juga tidak ada seorangpun/sesuatupun selain X, yang bisa mengemukakan ilmu pengetahuan tentang cara yang benar untuk menjalani hidup. Ini karena manusia tidak dapat memahami tujuan hidup dengan sendirinya, seperti halnya sebuah televisi tidak bisa memahami mengapa ia dirakit.

Ini adalah analogi yang kasar, tetapi jelas mengena sasaran. Bagaimana bisa manusia memahami tujuan hidupnya apabila ia tidak berkontribusi apa pun terhadap penciptaan kehidupan tersebut? Kehidupan diberikan kepada manusia tanpa adanya sumbang peran dari manusia. Kehidupan akan diambil dari manusia tanpa manusia punya pilihan. Jadi, dari mana manusia bisa mengeklaim bahwa ia mampu memahami masalah ini? Apalagi zat yang telah menciptakan manusia, yaitu X, jauh di luar jangkauan pengalaman dan pemahaman manusia.

Lagi pula, tidak ada seorang manusia pun yang bisa “membaca pikiran” Sang Pencipta dan menangkap maksud X menciptakan manusia. Dengan segala keterbatasan pada akalnya, manusia hanya dapat memahami sebagian hal yang telah dialaminya, yaitu alam semesta yang bersifat serba terbatas, lemah, dan membutuhkan. Sedangkan Pencipta alam semesta ini jelas sangat berbeda dengan apa yang manusia pahami.

Dari segi apa pun juga, X tidak bersifat terbatas. X Maha Kuasa dan Maha Abadi tanpa membutuhkan apa pun. Konsekuensinya, manusia tidak akan mampu memahami hal yang ada di balik alam semesta ini, yaitu X, yang sama sekali tidak memiliki sifat-sifat tidak sempurna, terbatas, atau membutuhkan. Secara definitif, X berada di luar jangkauan pemahaman manusia. Orang yang mengeklaim memahami Penciptanya, sebetulnya sedang menipu diri sendiri karena hal itu berada di luar kemampuannya.

Bahkan apabila manusia dengan akalnya yang terbatas itu dapat “memahami” Sang Pencipta, itu akan menjadi bukti logis bahwa “Pencipta ini” sebenarnya bukanlah pencipta! Akan tetapi, kesalahan ini dibuat oleh banyak orang yang sebetulnya meyakini keberadaan Pencipta Yang Esa, ketika mereka berupaya membangun pemahaman mereka tentang tujuan penciptaan kehidupan oleh X.

Jadi, hipotesis bahwa kehidupan adalah “permainan Tuhan” seperti yang diajukan Plato dan Finnis dan kewajiban kita ialah bermain sebaik mungkin dalam permainan ini, hal tersebut adalah hipotesis yang bodoh dan konyol! Ini tidak lain sekadar spekulasi atas masalah yang berada di luar jangkauan pemahaman manusia.

Manusia tidak akan maju dengan spekulasi khayalan, tetapi harus dengan pemahaman yang rasional. Betapa menyedihkannya apabila manusia telah memperoleh fakta-fakta definitif sebagaimana diuraikan di atas, tetapi ketika hendak menjawab pertanyaan pertanyaan fundamental itu, ia memutuskan untuk hidup dengan jawaban yang spekulatif sekaligus irasional! [MNews/RY-YG]

Sumber: Abdullah, Siapa yang Layak sebagai Pembuat Hukum.

Share

One thought on “[Pembuat Hukum] Tujuan Hidup yang Rasional (Bagian 1/3)”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *