[Pembuat Hukum] Bukti Rasional Eksistensi Sang Pencipta (Bagian 1/3)

[Pembuat Hukum] Bukti Rasional Eksistensi Sang Pencipta (Bagian 1/3)

Penulis: Abdullah

Muslimah News, TELAAH KITAB — Unsur pertama dan paling penting dalam akidah Islam adalah keyakinan pasti terhadap eksistensi Sang Pencipta alam semesta, manusia, dan kehidupan. Mengenai unsur pertama ini, Islam mengajak manusia untuk menggunakan akalnya guna mengidentifikasi tanda-tandanya, yaitu fakta-fakta nyata yang ada di sekitarnya.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi. Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS Al-Baqarah: 164).

Selama hidupnya di bumi ini, manusia mengalami siang dan malam, melihat daratan dan lautan, langit dan awan, tetapi pernahkah ia bertanya dari mana semua itu berasal? Pernahkah ia bertanya siapa yang membuat dan mengatur semua itu? Pendekatan ini ditekankan kembali dalam banyak ayat yang lain.

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana ia diciptakan? Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?” (QS Al-Ghasiyah: 17—20).

Semua itu adalah tanda-tanda objektif. Dengan kata lain, semuanya adalah fakta-fakta nyata yang menjadi pondasi keyakinan pasti dalam akidah Islam. Tidak ada seorang manusia pun, muslim atau bukan, beragama atau ateis, yang bisa menyangkal bahwa matahari, gunung, langit, laut, hewan, bumi, dan seterusnya, eksis sebagai bagian dari realitas dunia luar yang dapat diindra oleh manusia. Pertanyaannya masih tetap, bagaimana semua itu bisa eksis? Apakah mereka ada dengan sendirinya ataukah diciptakan?

Pertanyaan-pertanyaan ini dijawab dengan menggunakan argumentasi logis-rasional yang gamblang.

Apakah ada sesuatu yang lebih baik untuk memahami bagaimana segala sesuatu itu ada selain memulainya dari sesuatu yang sangat familier dengan kita, yaitu diri kita sendiri?

“Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah ia diciptakan?“ (QS Ath-Thaariq: 5).

Perihal Manusia

Sekarang, jika manusia mengamati keadaan di sekitarnya secara mendalam, ia akan menyimpulkan bahwa ia eksis sebagai makhluk yang terbatas, lemah, dan memiliki kebutuhan.

Keterbatasan

Jelas sekali dari pengamatan kita bahwa manusia memiliki banyak keterbatasan. Manusia bisa tumbuh tinggi hingga 6 kaki (1,83 meter), tetapi tidak pernah bisa hingga 60 kaki (18,29 meter) atau lebih. Bobot tubuh manusia bisa mencapai 60 kg, tetapi tidak pernah sampai 6 ton. Pengindraan manusia juga terbatas. Manusia dapat melihat, tetapi tidak dalam jarak yang jauh, kecuali dengan alat bantu eksternal seperti binokuler atau teleskop.

Manusia bisa mendengar, tetapi untuk jarak dekat. Manusia bisa mencium bau-bauan, tetapi yang sumber baunya dekat. Manusia bisa berlari, tetapi tidak bisa secepat citah. Manusia bisa berenang, tetapi tidak bisa berenang menyaingi ikan. Ini semua adalah beberapa contoh keterbatasan fisik.

Dalam hal kemampuan akal, manusia juga punya keterbatasan. Pertama, dari sisi kemampuan indra. Kita berpikir tentang sesuatu yang kita terima melalui alat indra kita. Dengan begitu persepsi kita terbatas karena bergantung pada alat indra yang terbatas seperti dikemukakan tadi. Karena alat indra kita terbatas, dengan sendirinya akal kita juga terbatas.

Kedua, dalam hal informasi awal. Kita hanya mampu memahami sesuatu yang mana kita punya pengalaman tentangnya dan yang pernah kita ketahui. Misalnya, kita tidak bisa memahami buku apa pun yang ditulis dalam bahasa asing yang tidak pernah kita pelajari, atau bahkan memahami buku yang ditulis dalam bahasa kita sendiri, tetapi tentang bidang khusus yang berisi bahasan mengenai astrofisika tingkat lanjut. Kita tidak mungkin paham isi buku itu, kecuali kita pernah belajar tentang materi itu.

Ketiga, usia. Kemampuan mental kita memburuk seiring pertambahan usia. Pada usia 60-an ke atas, kita tidak akan mampu memahami sesuatu sebagaimana kita memahaminya pada usia emas. Kemampuan mental kita terbatas. Banyak fakta dan detail eksistensi yang tidak kita ketahui. Manusia bukanlah makhluk yang maha mengetahui. Pengetahuan dan pemahaman manusia tentang manusia itu sendiri, serta tentang kehidupan dan alam semesta sangat terbatas.

Keterbatasan ini berlaku umum bagi seluruh manusia, tanpa kecuali. Bisa saja ada manusia yang lebih cepat, lebih tinggi, dan lebih cerdas dibandingkan manusia yang lain. Akan tetapi, semuanya tetap tunduk pada hukum keterbatasan manusia. Inilah fakta yang nyata tentang keterbatasan manusia.

Kelemahan

Selain serba terbatas, manusia juga lemah. Manusia lahir dengan beberapa atribut bawaan yang dibawanya tanpa pilihan. Warna kulit manusia sudah ditentukan dari sananya. la tidak bisa memilih siapa yang menjadi orang tuanya atau tempat kelahirannya. Bahkan, ia tidak punya pilihan mau dilahirkan atau tidak!

Bentuk dan rupanya, latar belakang genetikanya, dan lain-lain, semuanya ia miliki tanpa pilihan. Manusia tunduk pada Hukum Alam ini tanpa pilihan. Demikian pula fenomena kayu bisa terbakar, air mengalir, matahari memberikan cahaya dan panas, dan lain lain tanpa mendapat masukan dari manusia sama sekali. Manusia tidak mampu mengubah Hukum Alam ini atau pun memberi pengaruh barang sedikit pun.

Ini adalah sedikit contoh untuk membuktikan secara definitif bahwa manusia adalah makhluk lemah yang tunduk pada sistem yang mengatur kehidupannya dan mengatur alam semesta ini tanpa punya pilihan. [MNews/RY-YG]

Sumber: Abdullah, Siapa yang Layak sebagai Pembuat Hukum.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *