Muslimah News, INTERNASIONAL— Zion*s Israel melancarkan serangan mendadak ke wilayah Iran, termasuk ibu kota Teheran, Jumat (13-6-2025). Televisi pemerintah Iran melaporkan, serangan tersebut telah menghantam sejumlah bangunan tempat tinggal, dan menewaskan sedikitnya 60 orang termasuk 20 anak-anak. Serangan juga menyasar infrastruktur penting nonmiliter, seperti depo gas utama dan kilang minyak pusat kota Teheran.
Seorang pejabat militer Zion*s menyebut serangan mereka sebagai langkah “preemptif” terhadap dugaan program rahasia senjata nuklir Iran. Menurut intelijen Zion*s Israel, Iran disebut telah memiliki cukup bahan untuk merakit 15 bom nuklir dalam hitungan hari, meski klaim ini belum mendapat verifikasi independen.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa Iran tidak menginginkan perang, tetapi terpaksa melakukan pembalasan kepada Zion*s dengan cara menyerang sejumlah wilayah Zion*s, termasuk Tel Aviv, Yerusalem, dan Haifa. Ia pun menyampaikan kesiapan Iran untuk menghentikan serangan apabila Zion*s Israel juga menghentikan agresinya.
Segera setelah serangan Yahudi, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan pada Jumat (13-6-2025) bahwa serangan Israel terhadap Iran sangat hebat. “Iran harus membuat kesepakatan, sebelum tidak ada yang tersisa,” ucapnya.
Kemudian, pada Ahad (15-6-2025), di platform Truth Social, Trump berkata, “Iran dan Israel harus membuat kesepakatan, dan akan membuat kesepakatan, seperti yang saya minta India dan Pakistan buat. Demikian pula, kita akan segera mencapai perdamaian antara Israel dan Iran! Banyak panggilan dan pertemuan sekarang sedang berlangsung.”
Dukungan AS
Menurut juru bicara (jubir) kelompok dakwah ideologis internasional, tampaklah bahwa Zion*s tidak menyerang Iran, kecuali atas perintah dan dukungan AS.
“Trump—sebagaimana pernyataannya—dengan jelas menyatakan hal ini. Hal ini pasti karena Zion*s tidak memiliki kekuatan sendiri dan mereka tidak mampu berperang,” ungkapnya kepada Kantor Berita ideologis internasional, Senin (16-6-2025).
Namun, ia menyesalkan terjadinya hal yang lebih dahsyat, yakni ketika pesawat-pesawat Zion*s yang menghancurkan dan membunuh di Iran itu ternyata bisa melintasi wilayah udara rezim-rezim penguasa di negeri-negeri muslim. “Kemudian, pesawat-pesawat itu kembali dengan aman dan damai. Tidak ada satu tembakan pun yang dilepaskan ke pesawat-pesawat itu oleh para penguasa di sekeliling mereka di Syam, Irak, Mesir, Turki, dan lainnya,” kecamnya.
Jadi, tambahnya, Zion*s telah melakukan pelanggaran dan menyerang dengan aman, pergi dan pulang, sementara para penguasa di negeri-negeri muslim menyaksikan apa yang terjadi tanpa bergerak. “Mereka lupa atau pura-pura lupa akan akibat-akibat kejahatan atas sikap diam mereka. Sungguh dosa besar jika pesawat-pesawat Zion*s melintasi wilayah udara para penguasa antek, melancarkan serangan, lalu kembali tanpa dicegat oleh seorang pun penguasa tersebut,” kritiknya.
Padahal, ungkapnya, Zion*s telah mengancam Iran sejak lama, terutama dalam beberapa hari terakhir. “Trump bahkan mengisyaratkan dan menyatakan bahwa Zion*s akan menyerang fasilitas nuklir Iran. Namun, Iran tidak melancarkan tanggapan ofensif terhadap Zion*s, untuk membela diri dan menangkal ancaman, baik dari AS maupun Zion*s,” ucapnya.
Dalam pandangannya, ini sungguh mengherankan ketika Iran tetap diam sampai fasilitasnya diserang dan para ilmuwannya terbunuh, baru mulai merespons.
“Sementara itu, dari semua serangan berturut-turut, Trump terus menyatakan, ‘Demikian pula, kita akan segera mencapai perdamaian antara Israel dan Iran! Banyak panggilan dan pertemuan sekarang sedang berlangsung.’ Hanya saja, kami memperingatkan agar perang ini tidak mengarah pada perdamaian dengan Zion*s,” tegasnya menyitir firman Allah Taala dalam QS Al-Anfal: 57, “Jika kamu menemui mereka dalam peperangan, maka cerai beraikanlah orang-orang yang di belakang mereka dengan (menumpas) mereka, supaya mereka mengambil pelajaran.”
Sikap Penguasa Ruwaibidha
Sekali lagi, jubir menyesalkan sikap para penguasa muslim di sekitarnya. “Yang benar-benar menyayat hati adalah sikap para penguasa ruwaibidha (orang-orang bodoh yang tidak berarti) di negara-negara muslim, khususnya mereka yang mengelilingi entitas Zion*s Yahudi yang menduduki Palestina. Mereka mengelilingi Zion*s. Jadi, bagaimana mungkin mereka tidak melihat pesawat-pesawat Yahudi melintas di atas kepala mereka, mengebom negara-negara muslim, dan kembali dengan selamat tanpa satu tembakan pun dilepaskan?” tanyanya.
Sebaliknya, ia melanjutkan, para penguasa ini seolah-olah menjadi pihak netral yang mengamati apa yang sedang terjadi, seolah-olah mereka berada di suatu negeri yang jauh, bukan di negeri-negeri muslim.
“Para penguasa ini berada dalam kondisi kehancuran dan itu tidak mengherankan karena mereka berada di bawah perintah negara-negara kolonialis, khususnya AS. Tidak seorang pun dari mereka yang berani memutuskan hubungan dengan AS,” cetusnya.
Ia menilai, para penguasa ini justru membenarkan kelambanan dan mensucikan batas-batas negara. “Mereka lupa atau pura-pura lupa bahwa negeri-negeri kaum muslim adalah satu, baik di belahan bumi yang terjauh maupun yang terdekat,” ujarnya.
Begitu pula, sambungnya, kedamaian kaum muslim itu satu, perang mereka adalah satu. “Tidaklah benar jika mereka terpecah belah oleh mazhab-mazhab pemikiran Islam selama mereka adalah kaum muslim, umat yang satu,” ucapnya.
Khilafah
Meskipun demikian, ia mengingatkan, para ruwaibidha ini akan lenyap dan negara Islam, Khilafah yang dipimpin dengan benar, akan kembali sebagai negara pertama di dunia yang menyebarkan kebaikan di dalamnya.
“Khilafah akan memerangi Zion*s Yahudi dan menyingkirkan pendudukan mereka sebagaimana yang disampaikan Rasulullah saw. bahwa akan ada Khilafah ala minhaj nubuwwah,” ungkapnya.
Berkaitan dengan itu, jelasnya, terdapat kelompok dakwah ideologis internasional sebagai pelopor yang mengajak kaum muslim untuk mendukung dan bekerja sama dengannya guna menegakkan kembali Khilafah agar Islam dan umatnya kembali dimuliakan. “Itulah kemenangan yang besar,” tutupnya. [MNews/RA]

Semoga kaum muslimin segera bersatu