Muslimah News, INTERNASIONAL — Juru bicara kelompok dakwah ideologis internasional mengemukakan bahwa pada saat sebagian besar kaum muslim membagi-bagikan daging kurban dengan nyaman, penduduk Gaza berjuang untuk sepotong roti.
“Kini, Gaza telah menjadi salah satu tempat yang penduduknya paling kelaparan di dunia. Setelah berbulan-bulan pengepungan brutal, kelaparan massal, dan penghancuran lahan pertanian dan infrastruktur, kelaparan bukanlah ancaman. Itu adalah kenyataan,” paparnya kepada Kantor Berita ideologis internasional, Senin (9-6-2025).
Ia menuturkan, para ibu memberi makan daun—yang biasa untuk pakan hewan— kepada anak-anak mereka, sementara bayi-bayi meninggal karena dehidrasi dan kekurangan gizi.
“Memang, saudara muslim kita di Gaza tidak kekurangan iman, keberanian, atau kesabaran. Namun, mereka kekurangan makanan dan belas kasihan dari dunia. Bagaimana kita merayakan hari raya dengan nyaman, sementara kita tahu bahwa di Gaza yang hanya beberapa jam perjalanan dengan pesawat, seluruh penduduk di sana kelaparan atas nama politik dan kekuasaan? Bagaimana kita bisa membiarkan hal ini terjadi sejauh ini?” tanyanya.
Jauh dari Melegakan
Baru-baru ini, sebutnya, bantuan telah diizinkan masuk ke Gaza dengan dukungan Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya, tetapi kenyataan di lapangan jauh dari kata ‘melegakan’.
“Adegan-adegan putus asa telah berulang kali terjadi. Ribuan warga Palestina yang kelaparan terpaksa menunggu berjam-jam di tengah cuaca yang sangat panas, berdesakan di zona berpagar, hanya untuk mendapatkan kesempatan mendapatkan sebungkus makanan kecil,” ucapnya miris.
Orang-orang, sambungnya, terlihat berlarian mengejar truk bantuan, saling memanjat, dan pingsan karena kelelahan hanya untuk berusaha bertahan hidup.
“Momen-momen ini bukanlah tanda-tanda bantuan yang efektif. Ini adalah tanda-tanda orang-orang yang sengaja didorong ke tepi jurang. Ini adalah keadaan yang lebih buruk, tempat pemberian bantuan tersebut telah menjadi sasaran tembakan Zion*s, mengubah momen-momen yang seharusnya memberikan bantuan menjadi adegan-adegan yang mengerikan,” ungkapnya.
Ia mengemukakan, banyak dari upaya bantuan ini terkait dengan organisasi-organisasi yang didukung oleh rezim pendudukan dan didukung oleh kontraktor militer asing sehingga menjadikan seluruh proses terasa seperti dikendalikan.
“Sementara itu, pemerintah yang sama yang mengirimkan bantuan terbatas, terutama AS terus memasok Zion*s Israel dengan senjata, intelijen, dan perlindungan politik selama genosida ini. Pesannya jelas, mereka memberi makan korban dengan satu tangan, di sisi lain mempersenjatai penindas dengan tangan lainnya,” cetusnya.
Berapa Lama Lagi?
Oleh sebab itu, jubir meminta kaum muslim untuk bertanya dengan ketulusan dan kesungguhan, “Berapa lama lagi kita akan membiarkan musuh-musuh kita mempermainkan darah dan rezeki kita? Berapa banyak lagi anak-anak yang harus kelaparan sebelum kita berkata cukup? Berapa banyak lagi salat hari raya akan kita lakukan, sementara diamnya kita lebih menggema daripada takbir kita?”
Ia menyatakan, umat tidak mampu lagi untuk terus menonton dan menunggu. “Kita harus menyalurkan kemarahan kita menjadi tindakan, rasa sakit kita menjadi tekanan, dan ibadah kita menjadi tekad. Semoga Iduladha tidak hanya menjadi hari pengorbanan, tetapi juga hari kebangkitan. Semoga kurban kita tidak hanya mengenyangkan perut orang-orang miskin, tetapi juga membangunkan hati orang-orang yang tertidur,” harapnya.
Apalagi, ujarnya, kaum muslim adalah satu umat. “Penderitaan penduduk Gaza pasti mengguncang kita, mengganggu kita, dan menggerakkan kita untuk bertindak. Semoga Allah Swt. mempercepat penerapan kembali sistem Khilafah Islam yang menyebarkan keadilan dan keharmonisan di mana pun itu berada,” tutupnya. [MNews/RA]

Astaghfirullah
Sedih melihat saudara2 kita di sana, kelaparan, sedangkan di sini makanan sampai terbuang