[Kabar] Tokoh Muslimah Yogyakarta Menyerukan Bela Palestina

[Kabar] Tokoh Muslimah Yogyakarta Menyerukan Bela Palestina

Muslimah News, LENSA DAERAH — Ratusan muslimah di Daerah Istimewa  Yogyakarta (DIY) menghadiri Forum Tokoh Muslimah Bela Palestina bertajuk “Palestina dan Sinyal Kebangkitan Umat” pada Sabtu (31-5-2025). 

Acara dibuka oleh pembina Forum Muslimah untuk Peradaban Yogyakarta Ustazah Alyna Tsalisa. Ia menyampaikan bahwa umat Islam adalah khairu ummah (umat terbaik), yaitu umat yang terkuat, mandiri, berdaulat dan adidaya. “Khairu ummah bisa terlihat ketika Rasulullah dan para sahabat hijrah ke Madinah dan menerapkan Islam secara sempurna,” jelasnya.

Khairu ummah juga, tuturnya, terlihat jelas saat kepemimpinan Khalifah Umar bin Khaththab, Shalahuddin al-Ayyubi, hingga khalifah terakhir, Sultan Abdul Hamid II, dalam membebaskan dan memberikan perlindungan pada Palestina.

Namun, menurutnya, kini umat Islam tidak lagi menyandang gelar khairu ummah. “Palestina pun dalam derita yang berkepanjangan, dihancurkan, dibantai, dihabisi, dan diusir. Nyatanya kecaman, bantuan logistik, kesehatan, boikot, dan doa tak mampu mengatasi masalah Palestina,” ungkapnya miris.

Untuk itu, tegasnya, hanya dengan kesatuan kepemimpinan Islam, kaum muslim akan mampu mengembalikan izzul Islam wal muslimin hingga Zion*s Yahudi akan dikalahkan kembali. 

Simbol Perlawanan

Mubaligah DIY, Hj. Yani Suryani, sebagai orator pertama menyampaikan bahwa sejak dahulu Gaza telah dibidik untuk diluluhlantahkan oleh Zion*s Israel dan sekutunya. “Sejak Taufan al-Aqsha, Palestina adalah simbol perlawanan tirani global. Ini karena sebetulnya yang ingin mereka (tirani global) serang adalah umat Islam. Namun, pemimpin-pemimpin Islam seolah tidak peduli dengan penderitaan di sana (Palestina),” ujarnya.

Menurut Bunda Yani, sapaan akrabnya, umat Islam harus bersatu, bersama-sama berjuang membebaskan Al-Aqsha, yaitu di bawah kepemimpinan yang satu, Khilafah Islamiah dengan penerapan Islam kafah. “Apabila seluruh umat Islam di seluruh dunia bersatu, maka umat Islam akan menang. Oleh karenanya, mari kita ikut berperan aktif untuk membela Gaza dan Palestina. Kita harus punya rasa peduli sebagai tanggung jawab kita sebagai muslimah di hadapan Allah,” serunya. 

Selanjutnya, orator kedua, anggota Divisi Litbang Muslimah Inspiratif, Ustazah Mayangsari Rahayu menyampaikan bahwa pengkhianatan rezim dunia Islam ibarat luka yang disiram air cuka dan garam.

“Mereka mempertontonkan hubungan diplomatik dengan Zion*s. Mesir, Yordania, Uni Emirat Arab, Bahrain, Sudan, Maroko, Arab Saudi, bahkan dirancang akan diperluas pada negara-negara Arab lain menormalisasi hal tersebut,” cetusnya. 

Lalu, tanyanya, bagaimana dengan penguasa muslim non-Arab? “Tidak ada beda, mereka hanya bermain retorika tanpa aksi nyata,” imbuhnya.

Menurutnya, makin miris justru ketika Indonesia menawarkan evakuasi berkedok kemanusiaan. “Padahal alih-alih menyelamatkan, evakuasi justru memuluskan The Trump Peace Plan dan Riviera Timur Tengah,” ungkapnya seraya mencontohkan Danantara yang mengundang Blackrock, salah satu korporat global penyokong militer zionis untuk berinvestasi besar di Indonesia.

“Yang lebih menyakitkan adalah pidato Presiden Prabowo yang mengatakan bahwa Indonesia akan mengakui eksistensi penjajah, yaitu Zion*s Israel dan siap menjalin hubungan diplomatik jika mereka mengakui kemerdekaan Palestina,” sesalnya.

Menyingkap Problem Umat

Adapun orator ketiga, mubaligah DIY, Ustazah Eulis Siti Murnaesih mengungkapkan bahwa masalah Palestina menyingkap berbagai problem umat Islam. Ia pun mengingatkan, berharap pada dunia internasional untuk pembebasan Palestina hanyalah ilusi. “PBB, ICC, UNRWA, hanya sebatas menggaungkan pada solusi dua negara. Bahkan boikot, gerakan kemanusiaan, negosiasi terbukti tidak efektif menghentikan penderitaan Palestina. Bahkan, fatwa jihad ulama internasional pun diabaikan,” cetusnya.

Kondisi tersebut, tuturnya, akibat paham nasionalisme yang menjadikan umat muslim tersekat-sekat, mementingkan stabilitas internal, dan disibukkan oleh konflik regional. “Padahal, pembebasan Palestina membutuhkan satu komando kepemimpinan yang melampaui nasionalisme dan menyatukan kekuatan Islam di berbagai aspek. Inilah yang menjadi problem utama umat Islam saat ini, yaitu hilangnya institusi khilafah,” jelasnya.

Senda dengan orator sebelumnya, aktivis muslimah DIY, Ustazah Puspita Satyawati sebagai orator terakhir mengungkap bahwa keberadaan Khilafah bukan khayalan., tetapi pernah berjaya selama 1.500 tahun.

“Dalam rengkuhannya (Khilafah), Palestina terjaga. Bahkan sampai saat ini kejayaan Islam masih menghantui kaum kafir. Kaum kuffar Barat takut karena mereka merasakan sinyal kebangkitan umat Islam yang makin kuat,” ungkapnya.

Ia menyampaikan, hanya dengan jihad fi sabilillah, pembebasan Palestina bisa terjadi dan hanya Khilafah, institusi yang sanggup untuk menggerakkan jihad.

“Palestina kalah bukan karena kaum muslim tidak memiliki kekuatan, tetapi tidak adanya persatuan. Maka, siapa pun dan apa pun Anda hari ini. Gunakan potensi, jabatan, kedudukan Anda untuk membela Palestina dan memperjuangkan Islam kafah. Optimalkan tenaga, waktu, pikiran, dan harta kita untuk menolong tegaknya agama Allah. Takbir!” pungkasnya. [MNews/Kontributor daerah: DS/Yogyakarta]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *