[Kabar] Aktivis: Penting Mengkritisi Lima Strategi Dakwah Modern bagi Penyuluh Agama

[Kabar] Aktivis: Penting Mengkritisi Lima Strategi Dakwah Modern bagi Penyuluh Agama

Muslimah News, NASIONAL — Menteri Agama Nasaruddin Umar mengungkapkan pentingnya reformulasi pendekatan dakwah di era modern. Menag menggarisbawahi lima strategi utama yang harus dikuasai untuk memperkuat peran penyuluh agama sebagai agen perubahan sosial sekaligus penjaga harmoni umat.

Hal tersebut disampaikan Menag dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) II Pengurus Pusat Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) yang berlangsung di Jakarta, Senin (26-5-25).

Strategi pertama adalah pentingnya penguasaan teknologi dan media komunikasi modern. Kedua, menyampaikan narasi cinta, bukan kebencian. Menag mengingatkan agar penyuluhan agama tidak terjebak pada sikap menghakimi dan menyesatkan yang berbeda. Ketiga, dakwah dan penyuluhan agama harus memperhatikan konteks budaya lokal maupun lintas budaya. Keempat, penyuluh perlu memperluas cakrawala spiritual melalui pendekatan ekoteologi atau kesadaran lingkungan berbasis nilai agama. Kelima, penyuluhan agama harus dibangun atas semangat keadilan, kesetaraan, dan toleransi. Menag menegaskan, moderasi beragama bukan berarti menyamakan semua ajaran, melainkan mengakui perbedaan sebagai rahmat dan menjadikannya jembatan, bukan tembok.

Melalui lima strategi ini, penyuluh agama diharapkan mampu menjadi pendidik sosial, juru damai, penjaga bumi, dan penebar cinta kasih. Menag mengajak seluruh penyuluh untuk menata ulang cara berpikir dalam menyampaikan nilai-nilai agama. Dakwah harus menyentuh bukan hanya nalar, tetapi juga hati. Penyuluh agama bukan sekadar pemberi ceramah, tapi perawat kemanusiaan.

Mengkritisi

Aktivis muslimah Halima Noer menyatakan penting untuk mengkritisi lima strategi ini. “Ini bukan strategi baru. Hakikatnya ini adalah upaya untuk semakin menggencarkan moderasi beragama. Hal itu nampak pada strategi kedua, ketiga, dan kelima. Maka, penting untuk mengkritisi ketiga hal tersebut,” ungkapnya kepada MNews, Kamis (5-6-2025).

Ia menggarisbawahi strategi kedua bahwa dakwah harus dengan narasi cinta, bukan kebencian. “Narasi ini sarat dengan “tuduhan” seolah-olah selama ini dakwah Islam menyebarkan kebencian sehingga harus diwanti-wanti dengan narasi cinta,” ucapnya.

Lalu, tambahnya, seperti apakah yang dimaksud dakwah dengan narasi kebencian? “Apakah dakwah yang menjelaskan tentang kesesatan pemikiran kufur akan dituduh memprovokasi kebencian? Seperti menyampaikan sesatnya ide demokrasi, kesetaraan gender, kapitalisme, sekularisme, dll.. Apakah semua itu dianggap sebagai narasi kebencian yang harus dihindari oleh penyuluh agama?” tanyanya lugas.

Demikian juga, sambungnya, apakah dakwah ajaran Islam terkait jihad dan Khilafah dianggap sebagai narasi penuh kebencian? “Tidak bisa dimungkiri, selama beberapa waktu ini ada upaya untuk terus mendiskreditkan ajaran Islam tentang jihad dan Khilafah, dianggap sebagai ajaran radikal, penuh narasi kebencian,” cetusnya.

Halima menilai, inilah ciri khas dakwah moderat yang terus diaruskan oleh program moderasi beragama. “Jelas ini adalah cara berdakwah yang tidak tepat. Menyalahi perintah Allah Swt dan tidak sesuai dengan yang dicontohkn oleh Nabi saw.,” tegasnya.

Ia menyatakan, Nabi saw. berdakwah dengan menyebarkan narasi ketaatan, yakni taat totalitas kepada Allah dan Rasul-Nya. “Bukan narasi cinta, juga bukan narasi kebencian. Nabi saw. mendakwahkan seluruh kebenaran Islam, tidak ada sedikit pun yang disembunyikan karena mengamalkan firman Allah Swt. dalam Al-Baqarah: 42, ‘Janganlah kamu campuradukkan kebenaran dengan kebatilan dan (jangan pula) kamu sembunyikan kebenaran, sedang kamu mengetahui(-nya).’,” terangnya. 

Dakwah dengan narasi cinta, sebutnya, akan memilih materi yang dianggap “aman” oleh penguasa. “Syariat Islam tentang wajibnya jihad dan Khilafah, juga haramnya mengambil pemikiran kufur, otomatis tidak ada di dalam konten dakwah semacam ini. Yang ada justru bagaimana mengompromikan pemikiran kufur tersebut dengan Islam. Jelas ini adalah penyesatan,” kritiknya.

Padahal, jelasnya, Allah Swt. memerintahkan untuk masuk Islam secara kafah (totalitas) sebagaimana QS Al-Baqarah: 208 sehingga yang harus disampaikan oleh penyuluh agama kepada umat harus syariat Islam kafah. “Tidak boleh menyembunyikan kebenaran ajaran Islam kafah,” ungkapnya.

Kemudian, Halima mempertanyakan strategi ketiga, haruskah dakwah mengakomodir budaya lokal?

“Ini pun salah satu identitas moderasi. Apakah harus tetap menghargai dan membiarkan kearifan lokal, sekalipun bertentangan dengan syariat Islam dan mengandung kesyirikan? Bagaimana bisa mengompromikan budaya lokal dengan Islam, seperti menggabungkan upacara larung laut atau upacara ritual tanam kepala kerbau yang jelas-jelas sarat dengan kesyirikan, disertai membaca doa doa dan zikir Islam?” cecarnya.

Padahal, jelasnya, Islam menetapkan bahwa budaya hanya bisa diambil jika tidak bertentangan dengan syariat Islam dan tidak mengandung kesyirikan, tetapi itu semua ditabrak oleh moderasi beragama.

Pluralisme

Selanjutnya, strategi kelima bahwa penyuluhan agama harus dibangun berdasarkan semangat kesetaraan, keadilan, dan toleransi, dalam pandangan Halima adalah narasi yang terus diulang-ulang.

“Apakah yang dimaksud dengan kesetaraan adalah harus memberikan kesempatan yang sama pada semua agama, yang ujungnya menganggap semua agama sama? Ini jelas pluralisme yang bertentangan dengan akidah Islam karena hanya Islam agama yang benar, yang diridai Allah Swt.,” urainya mengutip firman Allah dalam surah Ali Imran: 19, “Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah ialah Islam”. 

Ayat ini, ucapnya, tegas meyatakan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang diterima dan diakui oleh Allah Swt.. “Inilah keyakinan yang lurus, tetapi parahnya lagi, keyakinan lurus ini akan dituduh intoleransi,” sesalnya.

Oleh karenanya, ia mengingatkan, strategi ini justru menyesatkan dan akan menjauhkan umat dari pemikiran Islam yang sahih. “Umat harus dicerdaskan agar tidak terjerumus pada jerat-jeratnya,” pungkasnya. [MNews/RA]

Share

One thought on “[Kabar] Aktivis: Penting Mengkritisi Lima Strategi Dakwah Modern bagi Penyuluh Agama”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *