[Kabar] UIY Mengkritisi Pernyataan “Mengakui Kedaulatan “Israel” Jika Palestina Merdeka”

[Kabar] UIY Mengkritisi Pernyataan “Mengakui Kedaulatan “Israel” Jika Palestina Merdeka”

Muslimah News, INTERNASIONAL — Cendekiawan muslim Ustaz Ismail Yusanto menyesalkan pernyataan Presiden Prabowo yang akan mengakui kedaulatan Zion*s Israel jika Palestina merdeka.

“Ini solusi yang seolah-olah berdirinya negara Israel itu tanpa masalah, berdiri tanpa terlebih dahulu melakukan suatu kejahatan sedemikian rupa sehingga dengan mudah lantas orang menerima keberadaan negara itu,” kritiknya dalam Fokus to the Point: “Khianat Jika Akui Israel! Ini Nasihat Untuk Presiden!” di kanal UIY Official, Sabtu (31-5-2025) .

Padahal sesungguhnya, ia menambahkan, Zion*s berdiri di atas tumpukan kejahatan, manipulasi, kebohongan, dan kedustaan.

“Jangan lagi di mata orang-orang Palestina atau orang Islam pada umumnya, di mata kaum Zion*s sendiri, itu juga dipersoalkan, yaitu klaim bahwa Palestina adalah Tanah yang Dijanjikan, The Promise Land,” ungkapnya.

Sejarah

Di titik inilah, UIY menilai, penting untuk diungkap kembali sejarah berdirinya Zion*s Israel, yakni setelah Theodor Herzl dalam kongres Zion*s yang pertama di Basel pada 1897 mengemukakan pentingnya der Judenstaat atau the Jewish state, negara Yahudi.

“Kita tidak boleh lupa bahwa pada waktu itu gagasan tersebut ditolak keras oleh orang-orang Yahudi. Mengapa? Karena tidak realistis, juga tidak punya dasar historis dan teologis,” ucapnya.

Ia menerangkan, tidak punya dasar historis maksudnya bahwa dalam sejarahnya, tidak pernah ada catatan bahwa orang Yahudi itu punya negara. “Kemudian, secara teologis juga tidak ada perintah bagi orang Yahudi untuk punya negara. Nah, tetapi Theodor Herzl ini tidak mau mundur dan membangun komunitas sendiri yang disebut dengan orang-orang Zion*s melalui Kongres Basel 1897, lalu mengokupasi wilayah Palestina,” urainya.

Yang penting juga untuk diingat, lanjutnya, sebelumnya mereka sama sekali tidak punya pemikiran ke Palestina, yang mereka incar adalah Uganda atau Argentina. “Tetapi, Theodor Herzl melihat ada peluang lebih besar di Palestina karena ada gerakan Zion*s yang menginginkan Gunung Zion sebagai pusat peribadatan orang Yahudi. Kemudian, mereka melakukan okupasi terutama sejak tahun 1924 setelah Khilafah Utsmani runtuh,” bebernya.

Sejarah juga mencatat, ujarnya, sebelumnya Sultan Abdul Hamid II yang memimpin Khilafah Utsmani menolak keras permintaan Theodore Herzl atas Palestina, meskipun Sultan Abdul Hamid II diiming-imingi dengan berbagai macam hadiah.

“Theodor Herzl yang datang ke Sultan Abdul Hamid II sadar betul bahwa Palestina bukan tanah yang tidak bertuan. Ketika Khilafah Utsmani runtuh, maka Zion*s baru bisa mengambil sedikit demi sedikit. Artinya, di situ ada pencaplokan wilayah, okupasi, perampasan. Jadi, sejak awal memang bermasalah,” ucapnya.

Pertanyaannya sekarang, ucap UIY, apakah keberadaan penjajah di tanah yang dijajah atau dirampasnya itu bisa diterima? “Itu pertanyaan penting. Saya kira, kalau kita kembali kepada apa yang dikatakan Presiden Prabowo, ini kan negara yang dengan tegas mengatakan bahwa penjajahan harus dihapuskan,” cetusnya.

Mengusir Penjajah

Oleh karenanya, ia menyatakan, solusi dua negara itu bermakna mengakui berdirinya negara Palestina juga mengakui berdirinya penjajahan. “Harusnya, solusinya mengusir penjajah di sana. Itu satu-satunya solusi masuk akal sebagaimana yang kita lakukan dahulu di negeri ini,” jelasnya.

Caranya, ia memaparkan, adalah dengan cara yang dikenal oleh Zion*s, yakni bahasa kekerasan. “Kalau dalam istilah agama, jihad. Bagaimana jihad bisa dilakukan? Umat Islam harus memiliki kekuatan. Untuk bisa memiliki kekuatan, harus ada persatuan. Untuk ada persatuan, harus ada institusi yang menyatukan umat. Dalam ajaran Islam, itu Khilafah. Karena itulah, kita sering mengatakan bahwa solusi satu-satunya dari persoalan Palestina adalah jihad dan Khilafah,” tandasnya. [MNews/RA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *