Penulis: Novita M. Noer
Muslimah News, DISKUSI WAG — Kunjungan Presiden Donald Trump ke kawasan Teluk digambarkan sebagai kunjungan bersejarah. Trump sendiri menyebutnya sebagai rangkaian pencapaian luar biasa—sesuatu yang menurutnya belum pernah berhasil diraih oleh presiden Amerika mana pun sebelumnya.
Pertanyaannya kemudian, bagaimana menilai kunjungan ini dari perspektif Trump sendiri? Apakah ia benar-benar mencapai apa yang diinginkannya dari kawasan ini?
Di Balik Angka Triliunan, Investasi atau Penjarahan Terselubung?
Bagi Trump, ukuran keberhasilan bukan sekadar jumlah dolar atau perjanjian yang ditandatangani, melainkan dominasi simbolis—kemampuannya untuk menundukkan para pemimpin regional yang bersedia “menjual diri” demi kestabilan semu. Dari sudut pandangnya, ini adalah kemenangan.
Trump selama kunjungannya ke kawasan Teluk, menurut tolok ukur keberhasilan versi dirinya, digambarkan sebagai sesuatu yang luar biasa. Ia membanggakan pencapaian ini sebagai langkah besar yang tidak bisa diraih oleh siapa pun selain dirinya.
Sebelumnya, angka yang dibicarakan hanya sekitar 3 triliun dolar. Kini, Trump menyebutnya telah melonjak menjadi 5,1 triliun—angka yang sangat fantastis. Ini adalah kekayaan kaum muslim yang diambil dari sumber daya, seperti minyak dan gas di dunia Islam, khususnya Teluk, lalu dialihkan demi kepentingan Amerika. Angka itu tidak lain adalah bagian dari strategi Trump untuk menyuntikkan dana ke dalam perekonomian negaranya yang sedang terpuruk.
Pergeseran Strategi Amerika di Bawah Trump
Agenda Trump di kawasan didukung oleh arus-arus politik di dalam Partai Republik—bukan faksi tradisional, melainkan sayap baru yang menempatkan “America-First” di atas kepentingan negara mana pun di dunia.
Inilah gaya baru politik luar negeri Amerika, metode/cara baru, semuanya diambil sejauh menguntungkan Amerika, tanpa peduli apakah “cocok” bagi pihak lain.
Mengangkat tarif impor, menarik diri dari perjanjian-perjanjian global—semua langkah itu menyiratkan bahwa Washington tidak mau lagi menanggung beban menjadi “polisi dunia”.
Kunjungan Trump ke kawasan Teluk, beserta kesepakatan investasi raksasa yang diumumkan, jelas merupakan bagian dari strategi untuk menambal kerugian tersebut. Misalnya, Arab Saudi menyepakati investasi sebesar 1 miliar dolar yang disebut-sebut sebagai angka tertinggi dari perjanjian yang dicapai saat itu. Sementara itu, Mesir terlibat dalam pembicaraan senilai 600 miliar dolar, dengan 200 miliar dolar di antaranya sudah mulai direalisasikan. Qatar bahkan disebutkan telah berkomitmen 1,2 triliun dolar, termasuk kontrak senilai 243 miliar dolar dengan perusahaan pesawat Amerika.
Namun, yang perlu digarisbawahi semua ini bukanlah investasi murni. Ini adalah transaksi sepihak yang sepenuhnya menguntungkan Amerika. Misalnya, dalam pembahasan pengembangan pangkalan militer Al-Udeid di Qatar, Amerika mendapat jaminan dana sekitar 38—40 miliar dolar untuk memperkuat eksistensinya di wilayah tersebut—bukan demi keamanan kawasan, tetapi untuk memperkuat pijakan militernya dalam menyerang wilayah muslim.
Kepentingan Siapa yang Diuntungkan?
Trump dalam kunjungan ini tidak hanya didampingi pejabat pemerintah semata, melainkan para pemilik perusahaan swasta besar di Amerika, mereka yang secara langsung mendukung Trump secara politik dan finansial.
Meski disebut sebagai proyek-proyek besar, kenyataannya tidak ada jaminan jangka panjang. Dalam kasus Qatar, tidak ada diskusi tentang kesinambungan proyek bagi generasi mendatang. Uni Emirat Arab menyepakati kerja sama hanya untuk sepuluh tahun, sedangkan Arab Saudi bahkan hanya empat tahun. Retorika “untuk masa depan anak-cucu” sekadar hiasan media.
Angka-angka yang diumumkan pun terasa dibesar-besarkan, disusun sedemikian rupa agar Trump bisa tampil sebagai pahlawan ekonomi di hadapan publik Amerika. Bahkan ketika ditanya oleh jurnalis di tangga pesawat soal isu Rusia, Trump langsung memotong dan menjawab dengan menyebut “empat miliar dolar”—seakan itu adalah jawaban mutlak untuk semua kritik.
Dalam setiap momen kunjungannya, Trump secara aktif berusaha menampilkan pencapaian-pencapaiannya sebagai sesuatu yang istimewa. Dalam pidato KTT Arab-Islam-Amerika di Riyadh, ia menyebut pertemuan itu sebagai “keajaiban”, dan menyebut Amerika sebagai “negara besar” yang layak mendapat pengakuan luar biasa.
Pujian demi pujian terus dilontarkan, tidak hanya kepada dirinya sendiri, tetapi juga kepada negara-negara Teluk yang “bersedia bekerja sama.” Semua itu menjadi bagian dari satu narasi besar bahwa Trump adalah satu-satunya pemimpin dunia yang bisa meraih pencapaian semacam ini karena pihak lain hanyalah “orang-orang kecil” yang tunduk pada kekuasaan dan uang.
Adalah sebuah penghinaan besar ketika masjid—tempat suci bagi umat Islam, tempat salat Jumat semestinya dilaksanakan—malah ditutup hanya demi menyambut seorang pemimpin asing, Donald Trump. Namun anehnya, media menggambarkannya seolah-olah itu adalah sebuah bentuk penghormatan besar dan simbol perdamaian, bukan sebuah aib.
Lebih ironis lagi, Trump maupun pendukungnya tidak pernah menyebut soal penutupan masjid itu. Tidak ada satu pun yang mengakui atau menyinggungnya, seolah-olah hal tersebut bukan masalah. Padahal ini adalah noda besar dalam sejarah umat Islam, yang sayangnya disulap menjadi panggung pencitraan.
Apa yang Didapat Umat Islam?
Pertanyaannya, apa yang sebenarnya diperoleh umat Islam dari semua kemeriahan ini? Apakah penderitaan Palestina dan Gaza berkurang?
Jawabannya jelas tidak! Tidak ada satu pun perubahan positif yang dirasakan umat. Sebaliknya, semuanya ini hanyalah cara untuk memperkukuh cengkeraman Amerika atas dunia Islam dan menguras kekayaan umat dengan kedok investasi dan kerja sama strategis.
Jumlah fantastis yang disebut tiga, empat, bahkan lima triliun dolar, semuanya sejatinya adalah uang umat Islam. Bukan bantuan, bukan hadiah, tapi kekayaan negeri-negeri muslim yang dialirkan ke kantong kapitalis Amerika dan kroni-kroni pendukung Trump.
Betapa memalukannya ketika para penguasa muslim justru menyambut Trump seperti menyambut seorang pahlawan, bahkan seolah menyambut seorang “nabi”. Mereka menggelar karpet merah, pesta besar, dan kemewahan berlebihan untuk seorang yang simbol dari penjajahan, penindasan, dan permusuhan terhadap Islam sementara Gaza terkubur dalam-dalam.
Trump untuk pertama kalinya duduk di sebuah masjid dan memberi pernyataan seolah ia datang sebagai pembawa perdamaian. Ia bahkan berdiri di mimbar Riyadh, meresmikan Pusat Moderasi yang katanya bertujuan memerangi ekstremisme dalam pemikiran Islam. Namun, apa makna sebenarnya dari simbolisme ini?
Semua itu hanyalah sandiwara media, diliput dan disebarkan secara digital dengan narasi bias. Yang terjadi bukan perdamaian, tetapi propaganda yang membungkus dominasi dan penipuan.
Trump Kembali dengan Kekuatan Penuh
Kali ini, Trump datang bukan seperti dahulu. Ia datang dengan kekuatan politik penuh dukungan Partai Republik, Senat, Dewan Perwakilan, dan kekuatan eksekutif. Ia datang dengan tekad menjalankan visinya “Membuat Amerika Hebat Kembali”. Ia siap melakukan hal-hal yang sebelumnya tidak bisa ia lakukan karena oposisi.
Para penguasa Teluk tahu, jika mereka tidak menyambut Trump dengan segala kemewahan, jika mereka tidak tunduk dan loyal, harga yang harus mereka bayar sangat mahal. Trump pernah berkata terang-terangan, “Kami yang menjaga kalian. Tanpa kami, kalian tak akan bisa bertahan di kursi kekuasaan lebih dari dua minggu.” Mereka tahu, ia tidak main-main.
Para penguasa itu pun berkata, “Beri ia semua yang ia minta.” Mereka menyambut Trump seperti budak menyambut tuannya. Bukan karena cinta, melainkan karena takut. Bukan karena hormat, tetapi karena terpaksa.
Sementara itu, rakyat mereka sendiri diabaikan. Gaza mereka tinggalkan. Semua ini terjadi karena mereka tidak memiliki basis rakyat, tidak bersandar kepada umat. Kekuasaan mereka bergantung pada restu asing.
Janji Kosong Amerika Penuh Tipu Daya
Amerika adalah negara dengan kebijakan penuh tipu daya. Lihat saja bagaimana mereka memperlakukan Ham*s di Gaza. Mereka berjanji, “Lepaskan tahanan Amerika, maka kami akan bantu dengan makanan dan hentikan perang.” Namun, setelah permintaan dipenuhi, tidak ada yang berubah. Justru kekerasan meningkat, dan Zion*s diberi lampu hijau.
Trump berbohong. Amerika berbohong. Namun, para penguasa ini tetap percaya. Dari mana datangnya kepercayaan itu?
Jika kita bicara soal kepentingan, logika, atau perhitungan diplomatik, maka itu hanya berlaku bagi mereka yang merdeka, yang punya harga diri, kehormatan, dan kedaulatan.
Namun kenyataannya, para penguasa ini sudah kehilangan semua itu. Mereka bukan lagi pemimpin umat, tapi budak Barat. Mereka mengejar restu asing dan mengkhianati umat Islam.
Penghancuran yang Terstruktur dan Disetujui
Apa yang terjadi berkaitan dengan invasi Gaza, atau pelaksanaan operasi (militer), semuanya bermula dari kunjungan ini dan dari berkas-berkas (politik) yang dibawa bersamanya.
Kenyataan pahit bahwa rakyat Gaza mati bukan hanya karena kelaparan, tetapi juga karena rudal, adalah puncak dari sebuah skenario yang telah dirancang dengan rapi. Ini bukan sekadar perang—ini adalah genosida terstruktur, dilakukan dengan restu dan logistik penuh dari kekuatan besar dunia. Zion*s tidak berperang sendirian. Tanpa dukungan dari Barat, mesin perang ini tak akan bergerak sejengkal pun.
Sejak pecahnya konflik, arus senjata yang mengalir terus-menerus berasal dari Barat. Pada saat yang sama, tekanan politik diarahkan pada para penguasa negeri-negeri muslim, pada institusi militer mereka, dan pada aparat keamanan mereka agar tetap pasif dan tidak melakukan intervensi yang berarti.
Baratlah yang secara sistematis menghalangi penegakan keadilan terhadap tindakan-tindakan brutal yang dilakukan oleh entitas Zion*s. Dengan kata lain, impunitas yang dinikmati oleh agresor hari ini adalah hasil konstruksi sistematis dari kebijakan dan pengaruh Barat itu sendiri.
Jika mencermati pernyataan yang disampaikan oleh Donald Trump sesaat sebelum meninggalkan Uni Emirat Arab, ia sempat memberikan isyarat akan adanya “berita baik” yang akan segera diumumkan. Pernyataan tersebut mengarah pada kemungkinan adanya kesepakatan tertentu yang melibatkan entitas Zion*s dan faksi-faksi perlawanan. Trump saat itu berkata, “tunggu saja,”—apakah itu akan diumumkan pada hari Jumat atau mungkin setelah Sabtu. Ucapan tersebut dilontarkan pada hari Kamis. Namun, ketika Jumat tiba, Trump justru meninggalkan kawasan tanpa memberikan keterangan tambahan. Satu-satunya pesan yang ia tinggalkan hanyalah ucapan, “Selamat Idulfitri,” tidak lebih.
Dua pekan kemudian, atau pada awal bulan berikutnya, Trump menyatakan bahwa konflik ini akan segera berakhir. Pernyataan ini jelas mengandung sinyal terkait arah dan kecepatan perkembangan perang, khususnya agresi yang dilakukan entitas Zion*s terhadap Gaza. Sejak awal, Trump secara terbuka menyatakan, “Kalian memiliki dukungan penuh dari saya. Hancurkan, lakukan apa pun yang perlu dilakukan, tapi capai target kalian dengan cepat.”
Pernyataan tersebut mengandung pesan strategis bahwa seluruh upaya militer dan agresi diarahkan untuk memenuhi kepentingan Amerika dan Barat, tetapi harus diselesaikan dalam waktu singkat. Trump tidak menginginkan perang yang berlarut-larut. Oleh karena itu, ketika ia menyebut jangka waktu “dua minggu”, itu adalah batas waktu yang secara implisit diberikan kepada entitas Zion*s untuk melakukan apa saja—mempercepat eskalasi, meningkatkan intensitas serangan, dan melancarkan operasi militer besar-besaran. Dalam periode itulah dunia menyaksikan eskalasi brutal, genosida lebih dari 150 syuhada gugur dalam satu hari.
Tidak ada pembicaraan soal penghentian perang, genosida dalam sehari atau dua hari. Sementara itu, entitas Zion*s saat ini hanya memperbolehkan bantuan masuk seminimal mungkin, agar krisis ini tidak berubah menjadi bencana skala global. Namun lebih dari itu, mereka tetap melakukan pembantaian besar hingga waktu yang dijanjikan tiba, yaitu awal bulan depan.
Jalan Kemenangan dan Janji Allah
Benar-benar rangkaian kunjungan yang menjadi saksi atas kehinaan, kerendahan, dan kejahatan para penguasa negeri-negeri muslim. Ia membuka mata umat atas besarnya luka yang mereka derita karena penguasanya yang telah menjadi sekutu musuh-musuh mereka, dan tidak lagi memiliki hubungan dengan penderitaan, harapan, dan cita-cita umat., “… agar siapa yang binasa, binasa di atas bukti nyata; dan siapa yang hidup, hidup di atas bukti nyata.”
Hingga apabila datang pertolongan Allah dengan kembalinya Khilafah Rasyidah yang kedua, kebenaran itu akan tampak sejelas matahari waktu siang bolong, setelah semua wajah terbuka, semua topeng jatuh, dan semua bangunan palsu runtuh. [MNews/WAG]
#DiskusiWAG
