Penulis: dr. Hamdan Fahmi
Muslimah News, TELAAH KITAB — Pada pembahasan sebelumnya kita telah membicarakan fakta embargo yang bisa digunakan negara-negara kafir sebagai alat untuk menjauhkan manusia dari jalan Allah Taala. Hal itu untuk memaksa kaum muslim menanggalkan keistimewaan mereka dan agar tidak berpegang teguh kepada hukum-hukum Tuhan mereka dengan jalan menerapkan syariat Allah Swt. dalam masalah negara dan kekuasaan.
Itu merupakan pembenaran terhadap firman Allah Swt., “Dan sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami, dan kalau sudah begitu tentulah mereka mengambil kamu menjadi sahabat yang setia.” (QS Al-Isra’: 73).
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudaratan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (QS Ali ‘Imran: 118).
“Jika mereka menangkap kamu, niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagimu dan melepaskan tangan dan lidah mereka kepadamu dengan menyakitimu dan mereka ingin supaya kamu (kembali) kafir.” (QS Al-Mumtahanah: 2).
Apakah Daulah Islamiah harus menyerah begitu saja terhadap kezaliman, kekufuran, dan upaya menjauhkan manusia dari jalan Allah itu? Apakah sebaliknya, Daulah Islamiah harus tegak menghadapinya dengan segenap kekuatan yang dimiliki?
Sesuatu yang wajib dilakukan Daulah Islamiah adalah tegak menghadapi embargo itu hingga melakukan tindakan hidup atau mati untuk menghadapinya. Hal ini mengharuskan Daulah dan pemegang urusan negara untuk menyusun langkah-langkah praktis di dalam negeri dan luar negeri guna menghadapi embargo itu.
Sebelum memaparkan langkah-langkah praktis di dalam dan luar negeri untuk menghadapi dan tegar dihadapan embargo itu, kami katakan bahwa Daulah Islamiah wajib berdiri tegak dan kokoh di atas kedua kakinya menghadapi semua serangan dan aksi yang dilakukan oleh kaum kafir, berapa pun orang yang harus syahid untuk hal itu.
Sebabnya, kebalikan dari hal itu artinya adalah tunduk menyerah dan jatuh di bawah telapak kaki-kaki kaum kafir dan di bawah dominasi, arogansi, dan kezaliman mereka. Hendaknya umat mengingat firman Allah Swt., “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS Ali ‘Imran: 139).
“Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya, dan bagi orang-orang mukmin.” (QS Al-Munafiqun: 8).
“Barang siapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya.” (QS Fathir: 10).
Sesungguhnya jalan kemuliaan itu ada di dalam sikap tegak menghadapi embargo, bukan tunduk pasrah dan rela dengan apa yang dikehendaki oleh pengikut kekufuran.
Metode Menentang Embargo di Dalam Negeri
Pertama, mobilisasi umum secara maknawi menghadapi embargo. Sebenarnya masalah mobilisasi umum telah kami bicarakan dalam masalah menghadapi dan menentang perang fisik yang diumumkan terhadap Daulah Islamiah. Pada hakikatnya, masalah mobilisasi merupakan keharusan dalam perkara apa pun di antara perkara menentang dan menghadapi serangan atau dalam jihad dan mengemban dakwah.
Mobilisasi itu merupakan senjata yang paling ampuh dan kuat. Tidak berlebihan jika kami katakan bahwa mobilisasi maknawi itu merupakan senjata yang lebih kuat dari senjata atom. Ini karena senjata atom itu bagi bangsa yang ditaklukkan, yang kekuatan maknawinya telah rusak, tidak akan menambah, kecuali kekalahan di atas kekalahan.
Contoh paling baik untuk masalah kekuatan maknawi adalah kekalahan berulang kali yang diderita Amerika di sejumlah kawasan di dunia akibat rendahnya semangat tempur (kekuatan maknawi) pasukannya dan tidak adanya keyakinan intelektual pada diri sebagian besar pasukan pada rencana perang, cara-cara, dan tujuan-tujuannya. Dalam masalah mobilisasi umum ini difokuskan pada beberapa perkara utama berikut.
1. Tujuan-tujuan dan target-target orang kafir. Dalam masalah ini harus ditampakkan kepada umat secara gamblang, tujuan-tujuan kaum kafir dalam menjatuhkan embargo tersebut. Sesungguhnya kaum kafir bertujuan untuk menghancurkan umat muslim beserta harapan dan tujuan-tujuan mereka sebagai umat terbaik yang ingin membebaskan diri dari pengekoran terhadap kaum kafir, serta dari dominasi dan kezaliman mereka.
Allah Swt. berfirman, “Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup.” (QS Al-Baqarah: 217).
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu, menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah.” (QS Al-Anfal: 36).
“Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka).” (QS An-Nisa’: 89).
2. Mengekspos masalah perbedaan dan pertentangan antara kekufuran dan pengikutnya dengan keimanan dan pengikutnya. Masalah ini sangat penting dalam memunculkan spirit menentang dan menghadapi embargo dan semangat religius dalam diri putra-putra umat di dalam Daulah.
Kekufuran dan keimanan adalah dua garis yang selamanya bertentangan, berbenturan, dan tidak akan pernah bertemu satu sama lain. Allah Swt. berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpinmu, sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain.” (QS Al-Ma’idah: 51).
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudaratan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi.” (QS Ali ‘Imran: 118). [MNews/RY-YG]
Sumber: dr. Hamdan Fahmi, Khilafah Rasyidah.

One thought on “[Khilafah Rasyidah] Metode Menentang Embargo (Bagian 1/4)”