[Khilafah Rasyidah] Pemutarbalikan Fakta Sejarah dan Metode Menghadapinya (Bagian 2/2)

[Khilafah Rasyidah] Pemutarbalikan Fakta Sejarah dan Metode Menghadapinya (Bagian 2/2)

Penulis: dr. Hamdan Fahmi

Sambungan dari Bagian 1/2

Muslimah News, TELAAH KITAB — 3. Sesungguhnya sejarah Islam, baik pada masa awal atau akhir, selamanya tidak bisa dikaitkan dengan sejarah abad pertengahan dalam sejarah orang-orang Eropa. Akan tetapi keduanya merupakan dua sejarah yang terpisah sama sekali.

Sejarah Islam pada masa itu merupakan masa kemajuan ilmu pengetahuan dan tersebar luasnya pemikiran. Sesuatu yang menjadikan para sejarawan orientalis memberi kesaksian akan hal itu. Di antara para orientalis itu adalah orientalis Jerman Zigrid Hunke dalam bukunya Matahari Allah di atas Dunia Barat. Juga mantan presiden Amerika Serikat Nixon dalam bukunya yang terkenal Amerika dan Peluang. Di antara mereka masih ada sejumlah penulis orientalis lainnya.

Sementara abad pertengahan pada orang-orang Eropa merupakan masa kezaliman dan kegelapan yang tidak bisa dideskripsikan. Masa itu adalah masa ketika agamawan keluar dari semua ajaran agama Nasrani. Mereka membuat berbagai khurafat yang tidak diturunkan di dalam agama dan tidak bisa diterima oleh akal.

Lebih dari itu, mereka membagi manusia menjadi dua kelas, yaitu bangsawan yang terhormat, serta kelas budak dan pelayan yang tidak mendapatkan kecukupan hidup dan tidak memiliki apa-apa. Mereka memimpin manusia kepada peperangan yang meletus di antara para pengikut agama Nasrani. Peperangan ini menyebabkan lenyapnya ribuan, bahkan jutaan nyawa orang Nasrani dari berbagai kelompok, seperti pembantaian orang-orang Alikhiyin di gunung Alpen.

4. Sesungguhnya mengaitkan abad pertengahan dengan sejarah Islam merupakan pengaitan yang zalim dan sesat. Sebabnya, abad pertengahan atau yang lain merupakan masa-masa agama Nasrani yang di dalamnya tidak terjadi kebangkitan apa pun di atas asas agama. Pada masa itu terjadi keterpurukan dan kemunduran dalam segala hal. Ini berbeda dengan agama Islam yang membebaskan manusia dari kejahiliahan (kebodohan), khurafat, dan penyembahan terhadap berhala. Islam mengangkat manusia ke tingkatan umat manusia yang mulia dan tinggi.

Ini berkaitan dengan masalah sejarah Islam dan pemutarbalikan hakikat dalam pandangan bangsa-bangsa Barat. Adapun potret kekinian Islam, yaitu paparan potret para penguasa kaum muslim dan bangsa-bangsa Islam di dunia Islam, maka masalah ini bisa diselesaikan dan diluruskan dalam pandangan orang-orang Barat.

Hal itu dilakukan dengan memahamkan orang-orang Barat bahwa para penguasa di negeri-negeri dunia Islam justru merepresentasikan kezaliman, serta jauh dari Islam dan hukum-hukumnya yang sahih. Fakta-fakta itu tidak merepresentasikan Islam dalam sesuatu pun. Tidak terkecuali dari hal itu adalah penguasa Saudi, Iran, Sudan, atau yang lain dari para penguasa negara-negara yang mengeklaim secara dusta telah menerapkan Islam.

Kemiskinan serta kemunduran ilmu pengetahuan dan kezaliman yang tersebar di negeri-negeri kaum muslim disebabkan tidak adanya penerapan Islam secara benar, bukan disebabkan oleh penerapan Islam.

Kepada bangsa-bangsa Barat diberikan bukti untuk masalah ini dengan memaparkan gambaran Islam dalam tiga aspek, yaitu politik, pergaulan, dan ekonomi. Hal ini kebalikannya dari apa yang diterapkan oleh para penguasa zalim di dunia Islam.

Demikian juga diberikan bukti kepada bangsa-bangsa Barat atas hal itu dengan memaparkan gambaran dari sejarah Islam pada masa keemasan. Ketika Islam diterapkan secara benar, kemajuan dan ketinggian menyebar luas di seluruh penjuru wilayah yang diperintah oleh Islam.

Begitu pula perhatian Barat diarahkan kepada kaum muslim yang hidup di negeri-negeri Barat. Kaum muslim di sana juga bangkit pada aspek pemikiran lebih dari putra-putra Barat sendiri sehingga di antara kaum muslim itu banyak yang menjadi ahli pada semua bidang keilmuan.

Seandainya Islam adalah sebab kemunduran pada diri manusia, niscaya mereka itu tidak akan bangkit, sedangkan mereka adalah anak-anak kaum muslim. Dengan demikian, gambaran dalam benak anak-anak Barat tentang Islam bisa diluruskan, lalu perhatian mereka diarahkan kepada realitas buruk yang menjadi kehidupan mereka meski terdapat kemajuan ilmu pengetahuan dan revolusi teknologi dan informasi.

Mereka diarahkan ke arah metode penyelamatan dari kesengsaraan yang menimpa mereka dan yang diderita oleh umat manusia secara umum akibat kerakusan kaum kapitalis. Mereka dipahamkan bahwa jalan penyelamatan bagi anak cucu umat manusia secara keseluruhan adalah ideologi yang benar yang disandarkan kepada akidah (asas) yang benar dan kepada bangunan yang benar dan selamat yang terpancar dari akidah yang benar itu.

Pada hakikatnya, masalah ini membutuhkan daya upaya yang besar dari para aktivis di dalam Daulah Islamiah. Hal itu bisa dilakukan melalui berbagai sarana dan jalan, khususnya berbagai sarana informasi di dalam negara-negara Barat. Juga melalui para aktivis dakwah yang hidup di negara-negara Barat sebelum berdirinya Daulah Islamiah.

Hal itu karena mereka lebih memahami ideologi Barat daripada orang yang lain. Mereka juga mengetahui cacat ideologi Barat itu secara pemikiran dan fisik. Mereka juga mengindra cacat itu secara praktis dalam segenap aspek kehidupan. Oleh karena itu, para pengemban dakwah di Amerika dan negara-negara Eropa berperan penting menyampaikan risalah Daulah Islamiah dalam mengemban ideologi dan pemikirannya.

Sebagai tambahan, Daulah Islamiah menyeru para pemikir kepada berbagai pertemuan intelektual (pemikiran), baik secara terbuka maupun rahasia, di dalam pertemuan-pertemuan umum, semisal berbagai sekolah, universitas, dan pusat-pusat kajian.

Dengan izin Allah Swt., upaya-upaya pelurusan dan penjelasan itu akan membuahkan hasil di negeri-negeri Barat. Semua upaya itu akan membuahkan hasil dalam membongkar kebengkokan para penguasa Barat dan kedengkian mereka terhadap ideologi Islam.

Politik menyesatkan dan tidak fair mereka akan terbongkar. Demikian juga semua upaya itu akan membuahkan hasil dalam menjelaskan ideologi Islam sebagai ganti ideologi Barat yang sakit. Dengan begitu, manusia akan masuk ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong, bukannya menjauh darinya dan menjadi musuh. [MNews/RY-YG]

Sumber: dr. Hamdan Fahmi, Khilafah Rasyidah.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *