Penulis: dr. Hamdan Fahmi
Muslimah News, TELAAH KITAB — Kita masih membicarakan perang penyesatan dan politik pengaburan menentang Daulah Islamiah di negeri-negeri Barat. Di antara cara penyesatan dan pengaburan yang rendah dan busuk itu adalah pemutarbalikan fakta sejarah.
Sesungguhnya masalah pengaburan potret sejarah Islam oleh para pemikir (intelektual) Barat bukanlah hal baru. Juga tidak akan menjadi hal baru pada saat berdirinya Daulah Islamiah. Jika kembali sejenak menengok pada awal abad yang lalu (abad ke-19) atau pertengahan abad ke-19, kita akan menemukan bahwa politik Barat ini sudah dan senantiasa terus berlangsung dengan maksud mengaburkan potret Islam dan potret sejarah Islam yang merepresentasikan sejarah para Khalifah dan para panglima.
Orang-orang Barat –khususnya kaum orientalis— telah berupaya mengaburkan potret sejarah Islam pada masa Khilafah Umayyah dan masa Khilafah Abbasiyah. Bahkan di antara mereka ada yang mengaburkan potret Khulafaurasyidin, seperti Imam Ali ra. dan beberapa panglima pada masa Khulafaurasyidin, seperti Khalid bin Walid.
Oleh karena itu, para intelektual Barat dengan bantuan negara-negara mereka yang dengki terhadap Islam dan pemeluknya, serta aktif menghancurkan Daulah Islamiah, akan berupaya lagi mengaburkan potret sejarah Islam. Mereka akan memaparkan potret sejarah Islam itu dalam gambaran paling buruk yang dibenci Barat.
Di antara potret yang akan menjadi fokus para pemikir Barat dalam perang busuk dan dusta itu adalah gambaran fitnah yang terjadi pada awal sejarah Islam, yaitu pada awal masa Umayyah dan akhir masa Khulafaurasyidin. Ini adalah fitnah peperangan yang terjadi antara Imam Ali ra. dengan Muawiyah bin Abiy Sufyan rahimahullah.
Di antaranya juga potret para khalifah pada masa Umayyah, khususnya berbagai keburukan yang terjadi pada masalah-masalah pemerintahan dan penunjukkan, serta berbagai pertikaian politik. Demikian pula para pemikir Barat akan berupaya menampakkan beberapa potret yang sudah diputarbalikkan tentang para Khalifah Abbasiyah, semisal Harun ar-Rasyid, dan yang lainnya.
Di antara perkara dusta yang di dalamnya orang-orang Barat secara terus menerus berupaya memutarbalikkan gambaran, adalah kaitan masa keemasan sejarah Islam. Ini terjadi pada abad pertengahan dengan realitas kehidupan Eropa pada abad yang sama. Orang-orang Barat akan terus menerus berupaya memutarbalikkan gambaran ketinggian, kemajuan, dan kekuatan Islam. Kemudian, mereka mengaitkan dengan abad-abad kegelapan dan kezaliman dalam sejarah Eropa pada masa dominasi agamawan dan gereja.
Adapun gambaran yang akan diupayakan oleh para pemikir Barat dan para pemimpin mereka dalam memutarbalikkan potret Islam adalah potret Islam masa kini. Pemutarbalikan itu dilakukan dengan memaparkan potret kezaliman yang dilakukan oleh para penguasa kaum muslim di bawah slogan Daulah Islamiah. Juga potret kemiskinan dan kemunduran di segala hal yang menjadi realitas hidup bangsa-bangsa Islam di negeri-negeri dunia Islam.
Adapun berkaitan dengan gambaran sejarah Islam, maka kami katakan bahwa sejarah bukan merupakan argumentasi atas pemikiran vuristik bagi satu agama mana pun. Sesuatu yang menjadi argumentasi bagi pengusungnya dan orang lain tidak lain adalah pemikiran. Dengan demikian, pembahasan harus difokuskan pada kesahihan atau kesalahan pemikiran yang diemban oleh para penyeru perubahan baru yang bersifat total dan mendasar di bawah Daulah baru itu.
Pembahasan bukan difokuskan pada sejarah Islam. Sebabnya, sejarah Islam tidak layak menjadi dasar penilaian atas pemikiran suatu ideologi. Sejarah tidak ditransformasikan dengan metode yang dalam. Oleh karenanya, sejarah menjadi sasaran para pemuja maupun para pencela sesuai keinginannya. Juga sesuai dengan fakta-fakta politik yang dijalani oleh dunia Islam sepanjang abad-abad yang berlainan.
Misalnya, seandainya kita memperhatikan masa Khalifah Abbasiyah Harun ar-Rasyid rahimahullah, kita akan melihat bahwa para sejarawan telah menulis sejarahnya dalam dua bentuk yang berbeda. Kelompok pertama berpendapat bahwa Harun ar-Rasyid adalah seorang pemabuk, gila wanita, dan keji.
Sebaliknya, kelompok kedua (ini adalah kelompok yang proporsional) berpendapat akan keadilan tokoh ini. Kelompok kedua ini menggambarkan Harun ar-Rasyid sebagai laki-laki yang adil, banyak melakukan jihad, dan pembebasan. Kelompok kedua ini akan menyifati masa Khilafah Abbasiyah sebagai masa keemasan. Sebabnya, masa-masa yang di dalamnya tercapai kemajuan ilmu pengetahuan, keadilan, dan kemakmuran, serta penerapan syariat Islam.
Oleh karena itu, masyarakat Barat, khususnya kaum intelektual, mereka diseru dan diarahkan perhatian akalnya kepada beberapa perkara berikut.
1. Sejarah selamanya bukan merupakan argumentasi atas suatu pemikiran, justru pemikiran dan ideologi yang semestinya didiskusikan.
2. Sesungguhnya tidak ada satu masa pun dari sejarah umat manusia, kecuali di dalamnya ada beberapa keburukan implementasi dan kesalahan, tidak terkecuali kaum muslim. Kaum muslim dalam sejarah mereka yang panjang terjadi beberapa keburukan dalam menerapkan Islam oleh para khalifah, amir, dan panglima. Keburukan-keburukan itu bisa diketahui dengan membandingkan perbuatan-perbuatan tersebut dengan ideologi Islam. Ini dari satu sisi.
Adapun dari sisi kedua, sesunguhnya manusia dalam kapasitasnya sebagai manusia, terjadi berbagai kesalahan dalam diri mereka. Sebabnya, hal itu merupakan tabiat manusia secara umum. Sepanjang sejarah Khulafaurasyidin terjadi beberapa kekeliruan yang ringan. Kekeliruan yang dengan cepat dan mudah diluruskan dan dibenahi sebagai hasil dari adanya muhasabah dalam diri kaum muslim. Juga karena adanya spirit penerimaan dan takwa yang ada dalam diri para khalifah. [MNews/RY-YG]
Sumber: dr. Hamdan Fahmi, Khilafah Rasyidah.

One thought on “[Khilafah Rasyidah] Pemutarbalikan Fakta Sejarah dan Metode Menghadapinya (Bagian 1/2)”