[Kabar] Program Afirmasi Dunia Kerja untuk Mahasiswa, Aktivis: Paradigma Keliru

[Kabar] Program Afirmasi Dunia Kerja untuk Mahasiswa, Aktivis: Paradigma Keliru

Muslimah News, NASIONAL — Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (DIktis) Kemenag merilis program PRIMA (Professional Readiness Through Internship and Mentorship for Academics), yang digadang-gadang sebagai jembatan mahasiswa PTKI menuju dunia industri. Diktis menyebut program ini sebagai bentuk “negara hadir” untuk mengafirmasi kebutuhan dunia kerja.

Namun, aktivis muda asal Banjarmasin, Marnina Ika Putri, M.Pd. mengkritisi program ini sebagai bentuk paradigma pendidikan tinggi yang keliru. “Program afirmasi ini menegaskan makin jelasnya arah pendidikan tinggi dalam sistem kapitalisme, yakni mencetak SDM sesuai kebutuhan pasar, bukan untuk membentuk generasi pemimpin umat,” ungkapnya kepada MNews, Sabtu (10-5-2025).

Menurutnya, negara hadir bukan sebagai penjamin hak rakyat atas pendidikan dan pekerjaan, tetapi sekadar fasilitator agar rakyat “terhubung” dengan industri.

Bukan “Pabrik” Tenaga Kerja

Ia menerangkan, hal sebaliknya terjadi dalam sistem Islam. “Pendidikan tinggi bukanlah “pabrik” tenaga kerja untuk korporasi. Negara tidak menyerahkan masa depan pemuda muslim ke tangan dunia usaha, tetapi me-riayah (mengurusi) kebutuhan mereka dengan serius, dari pembentukan kepribadian Islam hingga penyediaan pekerjaan halal dan layak,” urainya.

Selain itu, lanjutnya, negara wajib menyediakan lapangan kerja dengan membuka sektor riil, mengelola kekayaan alam milik umat, serta memastikan distribusi kekayaan yang adil.

“Inilah fungsi negara dalam Islam, yaitu sebagai pelayan dan pengurus urusan rakyat, bukan perantara yang menjembatani rakyat ke tangan pemilik modal,” ujarnya.

Ia menuturkan, sistem pemerintah Islam, Khilafah. telah menunjukkan bahwa negara benar-benar hadir dalam makna yang hakiki. “Tidak ada pengangguran sistemis karena negara membuka lapangan kerja luas lewat pengelolaan SDA, pertanian, dan industri strategis. Bahkan, bagi yang tidak mampu bekerja, negara tetap menjamin kehidupannya,” jelasnya.

Oleh karena itu, ungkapnya, tampak jelas bahwa solusi bagi krisis lapangan kerja bukan dengan menyambungkan pemuda ke dunia industri kapitalis. “Namun, dengan mengubah sistem, dari sekuler kapitalisme menuju sistem Islam yang me-riayah sepenuhnya kebutuhan umat,” tutupnya. [MNews/RA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *