[Kabar] Resolusi Syawal, Aktivis: Bebaskan Palestina dengan Jihad dan Khilafah!

[Kabar] Resolusi Syawal, Aktivis: Bebaskan Palestina dengan Jihad dan Khilafah!

Muslimah News, NASIONAL — Syawal 1447 H/2025 M ini menjadi momen istimewa bagi para aktivis muslim dari seluruh penjuru Indonesia. Di tengah meredupnya semangat perjuangan pemuda terhadap isu Palestina, di saat mulai terlena dengan isu-isu dalam negeri, sejumlah aktivis dari berbagai organisasi mahasiswa dan komunitas dakwah berhimpun dalam satu barisan. Mereka tergabung dalam Jaringan Aktivis dan Lembaga Muslimah Muda (JAM) for Islam Kaffah sebuah gerakan yang berdiri atas kepedulian mendalam terhadap umat Islam di seluruh dunia, khususnya saudara-saudara kita di Palestina.

Diadakan dalam suasana Syawal yang penuh berkah, para aktivis ini menyelenggarakan Liqo Syawal Nasional. Acara ini bukan sekadar ajang silaturahmi, melainkan forum konsolidasi perjuangan yang serius untuk menyusun arah baru dalam membela Palestina. Dalam suasana penuh semangat, lahirlah apa yang kemudian mereka serukan sebagai Resolusi Syawal Free Palestina, sebuah seruan perlawanan yang menyatukan hati, pikiran, dan aksi demi kemenangan umat.

JAM for Islam Kaffah kemudian menjadi motor penggerak yang terus menyuarakan Palestina, sekaligus memperluas jaringan perjuangan dengan menggandeng berbagai lembaga, komunitas, dan organisasi mahasiswa di seluruh Indonesia. Dari sinilah, berbagai pemikiran tajam dan langkah konkret dikristalisasikan dalam sebuah pernyataan sikap bersama.

Bebaskan Palestina!

Para aktivis dengan lantang menyuarakan Resolusi Syawal Free Palestina, sebagai bentuk ikhtiar strategis untuk membebaskan Palestina sekaligus membangkitkan kekuatan umat Islam secara global. Aktivis mahasiswa Rr. Ranty Kusumaningayu, S.Si. mewakili para aktivis dalam membacakan Resolusi Syawal Free Palestina, Sabtu (3-5-2025).

Berikut isi resolusi yang mereka sepakati dan serukan bersama. Pertama, menyeru kepada seluruh aktivis dan mahasiswi untuk tidak mencukupkan bela Palestina dengan boikot dan aksi kemanusiaan, tetapi harus dilengkapi dengan menyuarakan solusi realistis membebaskan Palestina, yaitu menyeru penguasa untuk mengirimkan militer dan menyadarkan umat Islam terkait kewajiban tegaknya Khilafah Islamiah.

Kedua, menolak nasionalisme, yakni ikatan yang menceraiberaikan dan melemahkan kekuatan umat muslim di seluruh dunia. Ketiga, menyeru pada seluruh penguasa muslim untuk mengirimkan militer berjihad membebaskan tanah kaum muslimin Palestina. Keempat, menyeru seluruh umat Islam untuk menyatukan seluruh potensi dan kekuatan umat dalam satu kepemimpinan global negara Islam, Khilafah Islamiah.

Para aktivis menekankan, resolusi ini bukan hanya sekadar seruan musiman, melainkan menjadi tanda kebangkitan, perlawanan dan kesadaran baru dari para pemuda Islam untuk kembali menyatukan kekuatan umat. Palestina bukan isu insidental, tetapi titik awal perjuangan untuk mengembalikan izzah Islam. Syawal ini menjadi saksi bahwa dari bumi Indonesia telah bangkit generasi yang menolak “diam”.

Penting

Acara tersebut melahirkan catatan penting yang menjadi dasar kesepakatan resolusi para aktivis, poin-poin penting tersebut, yaitu pertama, Palestina adalah tanah kaum muslim yang wajib dipertahankan. Kedua, hakikat masalah Palestina adalah penjajahan dan pendudukan Zion*s terhadap tanah kaum muslim yang didukung Amerika Serikat dan sekutunya.

Ketiga, Amerika Serikat dan kroninya bersatu totalitas mendukung Zion*s sekaligus melemahkan kekuatan umat Islam dunia. Dukungan tersebut di antaranya dukungan militer-senjata, dukungan kebijakan politik (nasionalisme dengan penguasa boneka di negeri-negeri Islam, solusi two state pada Palestina, kebijakan relokasi-evakuasi penduduk Palestina) dan dukungan kebijakan ekonomi dengan liberalisasi ekonominya dan tekanan kenaikan impor barang.

Keempat, sangat tidak realistis jika berharap menyelesaikan masalah Palestina pada dunia internasional Amerika Serikat dan kroninya atau hanya mencukupkan boikot dan bantuan kemanusiaan.

Forum tersebut juga menyoroti kondisi aktual perjuangan Palestina yang kian kritis. Menolak berbagai solusi tawaran internasional; two state dan kebijakan relokasi-evakuasi penduduk Palestina karena makin memuluskan pendudukan Zion*s atas tanah kaum muslim.

Mereka menilai bahwa perhatian publik, khususnya generasi muda terhadap penderitaan rakyat Palestina makin menurun, bahkan cenderung dibatasi hanya pada aksi simbolis, seperti boikot atau penggalangan donasi. Padahal, permasalahan Palestina adalah isu utama umat Islam yang menuntut solusi mendasar, strategis, dan menyeluruh.[MNews/IK]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *