[Kabar] Aktivis: Perempuan Suriah Butuh Khilafah, Bukan Feminisme

[Kabar] Aktivis: Perempuan Suriah Butuh Khilafah, Bukan Feminisme

Muslimah News, INTERNASIONAL — Dana Kependudukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNFP) pada 2024 melaporkan bahwa memburuknya kondisi di Suriah, serta berkurangnya bantuan donor telah menempatkan lebih dari 11 juta anak perempuan dan perempuan Suriah pada risiko kekerasan, eksploitasi, dan kurangnya akses ke layanan penting, termasuk pernikahan dini paksa bagi anak perempuan usia reproduksi.

Situasi di Suriah ini memunculkan Gerakan Politik Perempuan Suriah (SWPM). Salah satu anggota SWPM Khawla Yusuf Barghouth mengatakan bahwa aktivitas SWPM difokuskan pada pendidikan baik perempuan maupun laki-laki, juga tentang pemikiran feminisme bisa berlaku di Suriah.

”Menumbuhkan pola pikir feminis merupakan landasan penting untuk menciptakan negara sipil yang inklusif dan pluralistis, negara yang melibatkan perempuan dalam pengambilan keputusan di semua tingkatan transisi politik dan dalam badan pemerintahan di masa mendatang,” ujarnya.

Butuh Khilafah

Namun, aktivis muslimah Imrana Muhammad mengatakan bahwa perempuan Suriah butuh Khilafah, bukan feminisme. ”Perempuan muslimah hanya dapat mengakhiri penderitaan mereka dengan kembali ke Khilafah dan penerapan Khilafah. Mereka tidak pernah membutuhkan gerakan hak-hak perempuan,” tuturnya kepada Kantor Berita ideologis internasional, Sabtu (19-4-2025).

Ia beralasan, feminisme tidak pernah memenuhi janji-janjinya untuk pemberdayaan perempuan.

”Saat ini kita melihat perempuan di Barat masih berjuang untuk hak-hak mereka dengan semua kebebasan melakukan apa yang mereka inginkan. Mereka harus bekerja lembur untuk membayar biaya pengasuhan anak dan menjalani kehidupan,” jelasnya.

Hal itu, lanjutnya, karena masyarakat Barat tidak menghormati perempuan. ”Pria meninggalkan perempuan mereka dengan anak-anak di rumah, dan perempuan meninggal sendirian di pusat bisnis yang sudah tua,” tandasnya.

Ia mengutip pendapat filsuf Nancy Fraser yang mengkritik bagaimana neoliberalisme telah mengadopsi cita-cita feminisme, mengubah pemberdayaan menjadi konsep yang dapat dipasarkan yang sering kali memperkuat konsumerisme daripada mengatasi ketidaksetaraan sistemis. “Feminisme telah menjadi pelayan kapitalisme. Feminisme telah diadopsi untuk melayani kebutuhan kapitalisme, bukan perjuangan untuk kesetaraan,” ujar Imrana masih mengutip pendapat Nancy.

Imrana menilai, menerima kebebasan ala feminisme dengan mengabaikan Islam dan peran utama perempuan hanya akan melanggengkan perbudakan terhadap kebutuhan pemungutan pajak pemerintah karena perempuan dan laki-laki sama-sama bekerja.

Lebih Baik

Imrana meyakini, Allah Swt. mengetahui kebutuhan perempuan dan masyarakat lebih baik daripada agenda buatan manusia mana pun, yang tecermin dalam bimbingan Al-Quran dan Sunah dengan hak-hak ekonomi, pendidikan, dan hukum perempuan yang dijamin secara komprehensif.

”Dipahami bahwa muslimah adalah orang-orang yang melatih para mujahid dan menyiapkan pemimpin yang kuat dengan landasan takwa,” tegasnya.

Ia mengutip Al-Qur’an surah An-Nisa ayat 1, ”Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”

”Hanya dengan kembali kepada nilai-nilai luhur inilah para perempuan Suriah akan merasakan kedamaian dan keamanan,” pungkasnya. [MNews/IA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *