Muslimah News, INTERNASIONAL— Cendekiawan muslim Ustaz Ismail Yusanto (UIY) menyatakan, menghadapi tarif dagang yang ditetapkan Amerika Serikat (AS), tidak ada negeri Islam yang berani head to head melawannya sebagaimana Cina. “Umat Islam tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali ngikut. Padahal, umat Islam sesungguhnya punya potensi yang sangat besar dalam berbagai aspek,” urainya dalam Fokus: “Perang Dagang Trump, Kenapa?” di kanal UIY Official, Ahad (13-4-2025).
Ia menyesalkan, umat Islam yang sesungguhnya punya potensi besar hanya menjadi penonton atau bahkan korban dari perang tarif atau perang dagang ini yang memunculkan dua kompetitor besar, yaitu AS dan Cina.
“Terlihat bagaimana Trump dengan pongahnya mengatakan ada 50 negara lebih yang meminta AS untuk melakukan negosiasi. Sementara kita lihat Cina bukan minta negosiasi, tetapi dia balas,” ujar UIY.
Jadi, sambungnya, ini perang dagang yang jelas didorong oleh politik nasionalisme chauvinistik sebagaimana slogan yang diusung Trump saat kampanye Pilpres, yaitu make America great again atau America first.
“Inilah perwujudannya. Trump menyadari betul bahwa ekonomi AS sebenarnya tidak baik-baik amat. Utangnya sekitar 18.000 triliun US$. Secara teknis, sebenarnya mereka ini sudah gulung tikar. Tetapi karena masih bisa memaksakan pemakaian dolar AS untuk denominasi berbagai kepentingan ekonomi dunia dan perdagangan internasional, maka AS masih bisa mempertahankan nilai mata uangnya terhadap mata uang yang ada di berbagai negara,” jabarnya.
Namun, ungkapnya, itu tidak terjadi ketika berhadapan dengan Cina yang telah mengalami sebuah transformasi luar biasa, baik secara teknologi maupun perdagangan. “Itu yang tidak bisa dilawan oleh AS,” cetusnya.
Sebelumnya, UIY mengatakan, AS membayangkan dengan penerapan pasar bebas, akan bisa merambah pasar dunia. “Makanya, AS paksa pasar dunia itu membuka seluruh market-nya atau seluruh pintunya dengan menghapus barrier to entry, baik kuota maupun fiskal sehingga lahirlah WTO. Tetapi belakangan, AS menyadari bahwa itu ternyata tidak sepenuhnya baik buat dia. Mengapa? Karena dengan dibukanya pasar, produk dia ternyata tidak kompetitif dan itu sudah terasa. Inilah yang sedang dilawan Trump,” paparnya.
Paradoks
Oleh karenanya, UIY menilai, terjadi sebuah paradoks. “Dahulu AS begitu mendorong terjadinya perdagangan bebas, ada NAFTA (North American Free Trade Agreement) diikuti CHAFTA (China-Australia Free Trade Agreement) dan macam-macam. Tapi ini hari, dia membalikkan jarum jam. Era proteksionisme muncul,” ungkapnya.
Dalam konteks kepentingan nasional, tambahnya, itu bukan sesuatu yang aneh, yaitu pergeseran dari multilateral menjadi unilateral. “Hanya saja, kebijakan yang inward looking ini menghapus konsensus-konsensus dalam kebijakan ekonomi global yang akan menimbulkan ketidakpastian,” ucapnya.
Akibatnya, ia menerangkan, sebelum perang dagang ini, karena ada tatanan internasional—terlepas dari setuju atau tidak setuju—ada kepastian karena ada konsensus internasional. “Tetapi begitu itu semua ditabrak, maka yang ada sekarang ini bukan lagi sistem multilateral, melainkan unilateral dengan intervensi aktif sebuah negara yang luar biasa,” ujarnya.
UIY menyatakan, Trump seperti membalik tangan dari apa yang disebut dengan corporate capitalism menjadi state capitalism semata demi menjaga kepentingan dalam negeri AS.
Pelanduk
Lalu, ucapnya, di mana umat Islam? “Umat Islam itu seperti pelanduk yang mati di tengah pertarungan gajah sehingga penting bagi umat Islam itu bergerak, melakukan transformasi diri dari pelanduk menjadi gajah juga,” ungkapnya.
Ini karena, jelasnya, tabiat umat Islam itu sebenarnya gajah, raksasa dalam hal apa pun, baik demografinya, wilayahnya, sumber daya ekonominya, dan lainnya. “Tetapi karena terpecah belah begitu rupa, dia menjadi pelanduk, menjadi kecil, tidak berdaya, dan menjadi korban. Bahkan, menjadi pengikut saja dari negara-negara besar,” sesalnya.
Untuk itu, UIY mengingatkan, ketika umat Islam tidak memperhatikan hal tersebut, maka tidak akan mendapatkan pelajaran penting dari situasi yang ada ini. “Sebaliknya, jika ingin menjadi muslim first atau Islam first, maka itu hanya mungkin jika kita kuat,” pungkasnya. [MNews/RA]
