Muslimah News, NASIONAL — Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) IX/Udayana Mayjen TNI Piek Budyakto menyatakan akan tetap melanjutkan perjanjian kerja sama dengan Universitas Udayana meski mendapat penolakan dari Badan Eksekutif Mahasiswa kampus tersebut.
“Tentang kerja sama dengan Universitas Udayana hal-hal yang baik akan kami lanjutkan dan kami optimis kerja sama itu akan membuahkan hasil yang baik dan ini sesuai dengan program dari komando atas,” kata Piek Budyakto saat ditemui di sela-sela acara lepas sambut jabatan Pangdam Udayana dari Mayjen TNI Muhammad Zamroni ke Mayjen Piek Budyakto di Kepaon, Denpasar, Bali, Rabu (16-4-2025).
Pangdam Udayana menyatakan akan menjalin komunikasi dengan Rektor Universitas Udayana Prof. I Ketut Sudarsana dan juga mahasiswa Universitas Udayana.
“Kami akan selalu berkoordinasi dengan Universitas Udayana dalam hal ini rektorat juga dengan mahasiswa kita akan selalu mewujudkan sinergitas dan mewujudkan hal yang baik,” katanya.
Sebelumnya, Universitas Udayana dan Kodam IX/Udayana meneken kerja sama yang mencakup pemberian kuliah umum dari tokoh TNI tentang kebangsaan, pelatihan bela negara bersifat non-militeristik.
Kemudian, program pengabdian masyarakat bersama di bidang ketahanan pangan dan teknologi tepat guna serta meningkatkan kapasitas SDM prajurit aktif melalui akses program strata satu (S1), strata dua atau magister (S2), dan program doktor atau S3 di Unud.
Pembungkaman?
Kepada MNews, Rabu (16-4-2025), aktivis muslimah muda Dini Salimah menilai adanya penolakan mahasiswa terhadap masuknya militer ke ranah kampus berawal dari sejarah munculnya kebijakan NKK/BKK pada tahun 1978 yang berujung pada pembungkaman gerakan kritis mahasiswa seluruh Indonesia.
“Bukti ini semakin dikuatkan dengan adanya kekerasan dan penangkapan terhadap sejumlah aktivis yang mengikuti aksi “Indonesia Gelap” dalam rangka mengkritisi sejumlah kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat. Maka wajar muncul kekhawatiran kerjasama militer dengan kampus akan menumpulkan sikap kritis yang dimiliki oleh mahasiswa,” ucapnya.
Menurutnya, pemahaman bela negara dengan intervensi militer di dalam kampus merupakan miskonsepsi bela negara yang justru akan membuat kampus kehilangan perannya sebagai “pabrik” pencetak generasi dan agen perubahan.
Tuntunan Syariat
Ia membeberkan, hendaknya salah satu cara menumbuhkan rasa cinta terhadap tanah air bukan dengan intervensi militer, melainkan mengarahkan sikap kritis mahasiswa sesuai dengan tuntunan syariat Islam.
“Syariat islam mengharuskan seseorang untuk melakukan amar makruf nahi mungkar sebagai bentuk rasa cintanya terhadap tanah air,” jelasnya mengutip sabda Rasulullah saw. riwayat Al-Hakim dan Ath-Thabarani, “Pemimpin para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthallib dan laki-laki yang berdiri di hadapan penguasa yang zalim lalu ia memerintah penguasa itu (dengan kemakrufan) dan melarangnya (dari kemungkaran), kemudian penguasa itu membunuh dirinya.”
Kemudian, ungkapnya, dengan menyeru penguasa untuk menerapkan islam secara kafah yang merupakan bentuk cinta tertinggi terhadap tanah air. “Ini seperti yang dilakukan oleh Rasulullah saw. pada saat futuh mekah,” imbuhnya.
Selain itu, tuturnya, agar tidak tergerus arus globalisasi dan informasi, mahasiswa juga wajib mengkaji Islam. “Pemahaman Islam inilah yang akan menjadi pegangan dalam menjalankan aktivitasnya, terlebih dalam menawarkan solusi terhadap persoalan bangsa dan umat,” terangnya.
Oleh karena itu, ungkapnya, sudah saatnya bagi TNI—sebagai bagian dari umat—justru ada di barisan rakyat, bukan menjadi alat untuk melanggengkan kekuasaan.
Kewajiban
Apalagi, jelasnya, sebagai seorang muslim, ada kewajiban besar untuk menjadi ahlun nusroh dalam upaya menegakkan kalimat Allah, menerapkan syariat-Nya sebagaimana nusroh yang diberikan oleh Suku Aus dan Khazraj yang dikenal ahli berperang. “Mereka siap melindungi Rasulullah saw. dan memberikan baiatnya kepada Rasulullah saw. untuk menjadi pemimpin mereka,” urainya.
Aktivitas memberikan nusroh ini, sambungnya, bukan sekadar bela negara, melainkan lebih jauh lagi, yakni membela Allah Swt., Rasul-Nya, dan agama-Nya yang akan menghantarkan kepada pahala yang besar.
Ia mengutip dari Sa’id bin Zaid bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa yang terbunuh karena membela hartanya, maka ia syahid. Terbunuh karena membela keluarga, maka ia syahid. Barang siapa terbunuh membela agamanya, ia syahid. Barang siapa yang terbunuh karena membela darahnya, maka ia syahid.”
Ia menyakini, mahasiswa dan TNI yang hati dan jiwanya untuk Islam semata, kelak akan menghantarkan negeri ini memenangkan pertarungan di era globalisasi sehingga menjadi negeri baldatun thoyyibatun warabbun ghofur. [MNews/RA]
