[Kabar] Kiai Labib: Puncak Kegelapan Manusia Adalah Kekufuran

[Kabar] Kiai Labib: Puncak Kegelapan Manusia Adalah Kekufuran

Muslimah News, NASIONAL — Membahas makna dzulumat (kegelapan) dalam surah Ibrahim ayat 1, ulama K.H. Rokhmat S. Labib menjelaskan, “Gelap dalam Al-Qur’an pangkalnya di kekufuran, bisa disebut kufur, bodoh al-jahlu juga, zamannya disebut jahiliah. Puncak kebodohan atau kegelapan manusia itu dalam soal akidah, kufur. Nanti dari soal akidah inilah akan melahirkan cabang kegelapan berikutnya,” tuturnya dalam “Midnight Tafsir: Al-Qur’an Solusi untuk #IndonesiaGelap”, Rabu (19-3-2025) di YouTube One Ummah TV.

Ia membacakan surat Ibrahim ayat 1. “Alif Lam Ra. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu (Muhammad) agar engkau mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya terang-benderang dengan izin Tuhan, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Mahaperkasa, Maha Terpuji.”

Kegelapan

Dzulumat, terangnya, di dalam Al-Qur’an maknanya lebih mendasar dan hal ini berbeda dengan Indonesia gelap yang menjadi isu hari ini. “Soal Indonesia gelap itu sebenarnya tentang banyaknya keruwetan yang tidak mengetahui solusinya dan ini serba gelap. Seperti korupsi, kriminalitas, ketakadilan, dan sebagainya. Sebenarnya ini problem cabang dari akidah,” katanya.

Ia menjelaskan, sekarang kasus korupsi sudah tidak menjadi problem ketika hanya sejuta atau puluhan juta rupiah yang dikorupsi karena ada yang lebih parah dan lebih besar, kasus korupsi sampai triliunan, bahkan quadran triliun. “Kalau kita lihat, ini sudah jadi problem. Korupsi bisa muncul karena masalah akidah. Dalam Islam sudah disampaikan, tidak akan mencuri kalau ia itu mukmin. Berbagai macam kejahatan itu pangkalnya adalah akidah. Andai orang-orang itu memiliki keyakinan yang kuat kepada Allah Swt. tentu tidak akan berani korupsi, walaupun ia punya kesempatan untuk melakukannya,” bebernya.

Dzulumat, jelasnya, adalah kekufuran, ketika tidak ada keimanan dan sebenarnya orang yang kafir itu memang seperti itu. Hal itu dijelaskan dalam Al-An’am: 39, “Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami adalah tuli, bisu dan berada dalam gelap gulita. Barangsiapa dikehendaki Allah (dalam kesesatan), niscaya disesatkan-Nya. Dan barangsiapa dikehendaki Allah (untuk diberi petunjuk), niscaya Dia menjadikannya berada di atas jalan yang lurus.”

Ia melanjutkan, orang kafir itu tidak mendengar, mungkin matanya ada, tetapi dalam kegelapan karena mereka mendustakan ayat-ayat Allah Swt.. “Al-Qur’an ini isinya petunjuk, huda, disebut juga nur (cahaya). Oleh karena itu, akan terlihat mana yang baik dan buruk, mana yang mudarat dan manfaat, mana yang mengantarkan ke surga atau neraka. Al-Qur’an itu memberikan petunjuk amal yang akan diridai Allah Swt. dan mereka yakin,” paparnya.

Ia menerangkan, petunjuk itu akan terang benderang, seperti salat, puasa, zakat, haji, jihad, menegakkan hukum syariat, itu pasti diridai Allah, pasti masuk surga. “Begitu pun sebaliknya, riba, zina, korupsi, menegakkan hukum kufur itu adalah kemaksiatan, dimurkai Allah, pasti ujungnya neraka. Jadi, walaupun kita belum sampai akhirat, kita bisa memastikan di mana orang itu akan berada. Ini yang disebut dengan nur, petunjuk itu,” paparnya.

Mengeluarkan

Dalam ayat tersebut, ungkapnya, dijelaskan Al-Qur’an bisa mengeluarkan dari kegelapan. “Litukhrijan-nāsa minaẓ-ẓulumāti ilan-nụri adalah mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya di sini maknanya adalah al-iman, Islam. Sehingga Indonesia bisa keluar dari kegelapan hanya dengan Al-Qur’an,” jelasnya.

Ia menjelaskan, ilan-nụri dan ila ṣirāṭil-‘azīzil-ḥamīd maksudnya sama, yaitu iman Islam. “Jadi, kuncinya ada pada Al-Qur’an. Allah menurunkan Al-Qur’an melalui Rasulullah saw. dan melalui itu Rasulullah bisa mengeluarkan manusia dari kegelapan. Sehingga ketika berpegang teguh dalam Al-Qur’an tidak akan tersesat. Sesat di sini adalah kegelapan,” jelasnya.

Ia mengutarakan, bi`iżni rabbihim, dengan izin Allah, dalam ayat ini adalah semua ada dalam kekuasaan Allah Swt. “Kalau diizinkan oleh Allah belum tentu diridai, karena kalau Allah rida maka akan diberikan pahala. Namun, kalau diizinkan Allah itu dalam pengertian orang [bisa] melakukan kejahatan diizinkan tetapi tidak diridai,” jelasnya.

Hal itu, tuturnya, sebagaimana dalam surat Al-Mujadalah ayat 10 yang menunjukkan kuasa Allah, segala sesuatu tidak akan terjadi kecuali dengan izin Allah Swt. “Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari setan, supaya orang-orang yang beriman itu berduka cita, sedang pembicaraan itu tiadalah memberi mudharat sedikit pun kepada mereka, kecuali dengan izin Allah dan kepada Allah-lah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakkal.” [MNews/IK]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *