[Kabar] Aktivis: Mungkinkah Pembantaian oleh Zion*s Dihentikan dengan Perjanjian Damai dan Gencatan Senjata?

[Kabar] Aktivis: Mungkinkah Pembantaian oleh Zion*s Dihentikan dengan Perjanjian Damai dan Gencatan Senjata?

Muslimah News, INTERNASIONAL — Ramadan tahun ini seperti beberapa tahun sebelumnya, wilayah Palestina tidak pernah aman dan tenang. Pertengahan Ramadan lalu, Zion*s Yahudi kembali memulai operasi militernya dan dunia menyaksikan pembunuhan massal yang terus berulang. Diperkirakan seratus anak Gaza mati syahid setiap hari akibat operasi militer terakhir tersebut.

Mungkinkah Dihentikan?

Kepada MNews, Rabu (9-4-2025), aktivis dakwah nasional Ratu Erma Rachmayanti mempertanyakan, mungkinkah operasi pembantaian manusia oleh Zion*s bisa dihentikan dengan perjanjian damai dan gencatan senjata?

“Mungkinkah selesai dengan program rekonstruksi Gaza? Dan mungkinkah berhenti dengan kemerdekaan negara Palestina?” tanyanya retorik.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut, lanjutnya, sudah dijawab dengan jelas oleh realitas yang ada. “Belum kering tinta kesepakatan gencatan senjata di awal tahun ini, perjanjian itu telah hancur oleh kebiadaban Zion*s Yahudi,” ujarnya.

Bangsa perampas itu (Zion*s), ungkapnya, tidak pernah mematuhi perjanjian apa pun dan tidak akan pernah menerima berdirinya negara Palestina.

“Bahkan ketika dunia berbicara soal negara Palestina, pembangunan pemukiman terus berjalan, yahudisasi semakin meluas, dan rumah-rumah warga Palestina terus dihancurkan. Penjajah bukan sedang mencari perdamaian, melainkan ingin menancapkan dan mengokohkan eksistensinya secara permanen,” cetusnya.

Ia mengulas, selama bertahun-tahun, wacana “rekonstruksi Gaza” didengungkan, tetapi serangan udara yang terus-menerus dilakukan Zion*s Yahudi hanya memperdalam kehancuran, sementara tidak ada kekuatan yang melindungi penduduk Palestina.

Jika memang ada keseriusan dalam menyelesaikan masalah Gaza, ucapnya, mengapa tidak mengerahkan tentara untuk membebaskannya, ketimbang sekadar memperbaiki apa yang dihancurkan oleh penjajah?

“Ibaratnya seperti menambal atap rumah yang terus ditembaki peluru, selama penembaknya masih bebas berkeliaran, penambalan itu tidak pernah selesai,” imbuhnya.

Demikian pula, jelasnya, dengan ide “kemerdekaan” untuk Palestina yang berdampingan dengan “Israel” dengan batas-batas 1967. “Tanpa kekuatan militer sejati dan tetap tunduk pada kesepakatan-kesepakatan internasional yang dibuat oleh Barat dan penjajah, maka itu bukan solusi tuntas,” tegasnya.

Ini karena, terangnya, wilayah Palestina tetap terpecah menjadi Tepi Barat, Gaza, dan Yerusalem Timur yang terpisah-pisah. “Sementara, wilayah yang diduduki Israel (78% dari tanah Palestina) tetap di tangan Zion*s Yahudi. Mereka akan tetap eksis, bahkan makin diperkuat oleh pengakuan internasional,” sebutnya.

Menurutnya, umat Islam akan kehilangan haknya atas tanah Palestina sebab tanah itu milik seluruh kaum muslim. “Akar konflik ini tidak akan pernah selesai sebab masalah sesungguhnya adalah penjajahan dan keberadaan Zion*s di atas tanah kaum muslim. Selama itu masih ada, masalah tidak akan selesai,” ungkapnya.

Petunjuk

Lebih lanjut, tuturnya, Islam memiliki petunjuk untuk menuntaskan problem ini. Syariat Islam, urainya, memerintahkan agar tanah milik kaum muslim yang dirampas oleh penjajah, direbut kembali dan dibebaskan dari penjajahan. “Para perampas harus diusir, entitas Zion*s yang merupakan proyek para penjajah wajib dihapuskan,” katanya.

Tanah Palestina, lanjutnya, wajib digabungkan ke dalam kekuasaan Islam (Khilafah). Khalifah, sambungnya, mengomandoi pengiriman pasukan jihad untuk mengusir penjajah dan mengembalikan Palestina ke pangkuan Islam sebagaimana yang dilakukan Khalifah Umar bin Khaththab dan Shalahuddin al-Ayyubi yang membebaskan tanah Palestina dengan jihad, bukan dengan diplomasi atau kompromi.

“Tentu semua itu hanya bisa dilakukan setelah Khilafah ala minhaj nubuwwah tegak kembali atas upaya kaum muslim yang sungguh-sungguh dan menjadikan usaha ini sebagai prioritas,” jelasnya.

Saat melihat betapa sangat kompleksnya problematika umat, termasuk didalamnya masalah Palestina, urainya, maka wajib bagi kaum muslim menentukan skala priorotas dalam upaya penyelesaiannya.

“Puncak tangga prioritas itu adalah aktivitas perjuangan untuk mengembalikan aturan hidup manusia dengan penerapan Islam kafah dengan membangun Khilafah sebagai pemersatu kekuatan umat dan pembebas manusia dari kejahatan sistem buatan manusia,” bebernya.

Ia menekankan, ini adalah agenda utama umat Islam yang harus diiringi dengan keimanan yang kukuh, yakin akan janji-Nya, sesuai firman-Nya dalam surah Al-Hajj ayat 40—41, “Dan sungguh Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sungguh, Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di bumi, mereka mendirikan salat, menunaikan zakat, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar. Dan kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.” [MNews/RA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *