[Kabar] UIY: Dialog Terbaik antara Islam dan Barat Adalah Dialog Tanpa Hegemoni

[Kabar] UIY: Dialog Terbaik antara Islam dan Barat Adalah Dialog Tanpa Hegemoni

Muslimah News, NASIONAL — Cendekiawan muslim Ustaz Ismail Yusanto (UIY) menjelaskan, apabila harus ada dialog antara Islam dan Barat, maka dialog terbaik adalah dialog tanpa hegemoni.

“Dialog seperti itu memerlukan kesetaraan. Mengapa? Karena kalau tidak, yang terjadi bukan dialog, tetapi okupasi atau subordinasi yang hegemonik sehingga tidak ada dialog yang akan berlangsung sehat,” ujarnya dalam Fokus to The Point: “Omong Kosong Dialog Islam-Barat!” di kanal UIY Official, Jumat (4-4-2025).

Nah, lanjutnya, yang ada selama ini hegemoni itu tampak dari Islam sebagai sebuah agama, tetapi Eropa atau Barat sebagai negara. “Kemudian, siapa yang mewakili Islam sebagai agama? Biasanya yang mewakili adalah tokoh agama yang berhadapan dengan otoritas politik. Pasti tidak setara,” ucapnya.

Lalu, tambahnya, kesetaraan itu bisa terjadi ketika Islam mesti juga diwakili institusi politik, yakni Khilafah. “Jadi mestinya dialog antara Khilafah dan Eropa. Kalau tidak seimbang atau tidak setara, maka yang satu itu dalam posisi inferior, yang satu lagi dalam posisi superior,” ungkapnya.

Ia menerangkan, menjadi superior itu karena memiliki otoritas politik sehingga bisa melakukan apa pun, sementara yang inferior hanya berbekal gagasan dan tidak memiliki kewenangan apa pun.

“Karena itulah akhirnya Islam hanya dijadikan objek, bahkan tertuduh seperti yang terjadi di banyak negara di Eropa,” urainya.

Ciri Utama

UIY juga menyampaikan, ada dua ciri utama dialog tanpa hegemoni, yaitu masing-masing pihak mempunyai jati diri atau ideologi dan kemandirian atau independensi.

“Jadi, sebagai institusi politik mestinya di sini identitasnya sebagai institusi politik. Juga memiliki kemandirian secara politik, ekonomi, dan lainnya,” katanya.

Ia mencontohkan pada krisis Palestina yang pada faktanya tidak mandiri. “Banyak pihak yang mengusulkan dialog antara negeri-negeri muslim atau Palestina sendiri dengan “Israel”. Bagaimana mungkin dialog itu bisa menghasilkan solusi ketika Palestina diwakili kelompok perlawanan ataupun Otoritas Palestina yang dianggap mewakili negara ini invalid seluruh kewenangannya,” cetusnya.

Menurutnya, ini jelas tidak setara sehingga tidak akan menghasilkan solusi, sebaliknya yang ada adalah hegemoni terus-menerus. “Karena itulah, sekian banyak dialog perdamaian atau perundingan perdamaian sudah ditandatangani berulang-ulang, tetap saja hasilnya pembunuhan dan pembantaian oleh Zion*s,” ucapnya.

UIY menilai, itu hanya semacam sandiwara untuk memperpanjang waktu, memperkuat satu pihak dan terus memperlemah pihak yang lain.

“Kita lihat pada masa Kekhalifahan Utsmani, wilayah Yahudi kurang lebih 3%—6%, tetapi saat ini justru wilayah Palestina tinggal 15%. Ini menunjukkan, sesungguhnya yang terjadi adalah okupasi atau penjajahan,” ungkapnya.

Ia menuturkan, Barat tahu persis bahwa umat Islam saat ini tidak lagi memiliki kesetaraan yang sebelumnya dimiliki sehingga mereka melakukan seluruh rangkaian upaya pendekatan untuk mencegah yang hilang itu (Khilafah) tidak muncul lagi. “Dokumen RAND Corporation telah menunjukkan dengan sangat jelas apa yang diinginkan Barat, khususnya Amerika,” ucapnya.

Nasib Umat

Oleh karena itu, ia menyatakan, mesti disadari bahwa nasib umat Islam itu tidak mungkin digantungkan kepada orang lain, tetapi bergantung pada umat Islam sendiri, yakni kepada kekuatan dan perjuangan umat,” terangnya.

Jadi, ia mengingatkan, inilah pentingnya menumbuhkembangkan kesadaran yang melahirkan tekad perjuangan. “Sampai akhirnya mengembalikan lagi apa yang hilang itu, yaitu kekuatan politik yang muncul dari institusi politik yang kita punya,” tandasnya. [MNews/RA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *