Penulis: Endiyah Puji Tristanti
Muslimah News, FOKUS — Suhu panas Aksi Indonesia Gelap oleh mahasiswa yang digawangi BEM SI bersama masyarakat sipil masih terus menghangat, sejak Februari sampai hari ini. Poin tuntutan Aksi Indonesia Gelap soal pembatalan pemangkasan anggaran pendidikan tinggi “dijawab” pemerintah dengan keluarnya Beasiswa KIP Kuliah untuk lebih dari satu juta mahasiswa. Selain itu, kepolisian di berbagai daerah juga membagi-bagikan bahan pokok kepada organisasi mahasiswa. Lepas dari apakah semua ini langkah soft approach untuk melunakkan protes mahasiswa, yang pasti realitas itulah yang terjadi.
Pada kesempatan lain, Presiden telah mengumpulkan para rektor di Istana Negara untuk menguatkan dukungan terhadap Danantara. Argumentasi yang dibangun adalah demi kepentingan masa depan pendidikan Indonesia, pembiayaan saintek, riset dan industri. Presiden juga menitip pesan kepada Mendiktisaintek untuk membina mahasiswa. Presiden mengatakan bahwa ia tidak ingin para mahasiswa dihasut oleh pihak yang tidak mau Indonesia bangkit. Sayangnya, Presiden tidak menyebutkan siapa pihak penghasut yang dimaksud. Ini mengesankan presiden kurang tegas dan justru membuka peluang saling curiga di antara anak bangsa.
Bertepuk Sebelah Tangan
Bertepuk sebelah tangan. Sebanyak 13 klausul tuntutan mahasiswa dan masyarakat sipil sepanjang Aksi Indonesia Gelap sampai aksi lanjutan jilid 2 digelar, direspons tidak sepadan. Seolah pemerintah tidak ada itikad sungguh-sungguh untuk mengakomodasi tuntutan tersebut. Pemerintah tetap melanjutkan semua kebijakan tanpa memperhatikan masukan publik dan para pakar. Pemerintah sibuk membuat narasi bantahan dan klarifikasi acapkali viral kritik publik.
Sama saja dengan setiap aksi massa dari periode ke periode pergantian rezim, makin ke sini makin tidak ada keberpihakan terhadap rakyat. Pembiaran kondisi ini mengkhawatirkan sebab bisa melahirkan kekuasaan authoritarian capitalism, salah satu gejala global sakitnya negara-negara penganut ekonomi pasar bebas melalui pemerintahan otoriter yang berusaha mempertahankan negara dari kehancuran.
Sementara itu, latar belakang aksi mahasiswa ini sangat bisa dipahami oleh masyarakat luas sebagai sikap yang mewakili ekspresi keprihatinan atas penderitaan rakyat di segala bidang di setiap penjuru negeri. Rakyat kehilangan jaminan kesejahteraan hidup dari negara, layanan publik yang makin mencekik, aparatur negara kehilangan integritas, ragam baru problem sosial terus bermunculan tanpa solusi, hingga undang-undang lahir semata pertimbangan politik. Rakyat hopeless melihat negara pada titik nadir di ujung kematian. Mayoritas rakyat juga—apa pun bahasa yang mereka gunakan—sesungguhnya semata menginginkan perubahan menyeluruh menuju kondisi baik yang hakiki.
Menganalisis Platform Aksi
Ketika kutub politik kekuasaan makin menjauh dari kutub rakyat, negara makin kapitalistik. Rakyat kehilangan pengayom, tanpa perlindungan negara. Situasi yang kian buruk ini membuka lebar pintu infiltrasi pergerakan ideologi asing dalam tubuh pergerakan mahasiswa yang sejatinya murni bergerak untuk kepentingan umat.
Apabila kita mencermati pergerakan lapang, muncul model perjuangan class action yang merupakan ciri khas pergerakan sosialisme-marxisme. Class action ini sendiri mencerminkan tuntutan publik kelas bawah yang selalu tertindas yang ingin merobohkan elite kekuasaan kapitalis yang nyatanya di Indonesia berwajah oligarki. Gerakan ini mengungkap hakikat kezaliman penguasa terhadap rakyat dengan narasi ketertindasan kelas bawah.
Gerakan bercirikan sosialisme senantiasa menunggangi realitas kezaliman penguasa yang telah melampaui batas. Mereka secara aktif memberikan resep-resep sosialisme yang dikemas apik agar mudah mendekat dengan kalangan Islam (mayoritas mahasiswa dan aktivis yang berdemo).
Misalnya, memilih menggunakan lembaga mahasiswa yang lebih netral—seperti BEM SI atau apa pun organisasinya—untuk mengubur simbol-simbol identitas Islam pada lembaga mahasiswa. Tentu saja untuk menutup peluang politik identitas (Islam) menguat dalam berbagai aksi mahasiswa. Inilah yang acapkali para aktivis sangkakan bahwa sosialisme lebih dekat dengan Islam, bahkan senafas dengan perjuangan Islam.
Mewaspadai Pembajakan
Patut diwaspadai, gerakan sosialis-moderat berusaha menganalisasi opini publik berputar pada isu penyelamatan demokrasi. Ini karena demokrasi inheren dengan politik ideologi kapitalisme sekaligus sosialisme yang mana inti demokrasi adalah kedaulatan rakyat, penolakan terhadap kedaulatan syariat. Kapitalisme dengan sekularisme sebagai asas menolak intervensi syariat dalam urusan dunia dan negara. Sosialisme dengan materialismenya menafikan eksistensi Sang Pencipta yang tentunya menolak peran agama (syariat) dalam kehidupan.
Perjalanan gerakan sosialis di negara-negara Eropa, seperti Inggris, Norwegia, Denmark, Swedia, dapat berkembang dengan lebih pesat dibandingkan negara-negara berkembang. Realitas ini membawa pada kesimpulan bahwa masyarakat sosialis lebih mudah terwujud di negara-negara yang lebih mapan dalam berdemokrasi. Alhasil, untuk mewujudkan tujuannya, gerakan sosialis-demokrat di Indonesia menggunakan platform penyelamatan demokrasi.
Gerakan sosialis-demokrat menyusup dan berdialektika dalam gerakan mahasiswa yang murni menginginkan perubahan pola hubungan penguasa dan rakyat yang transaksional, serta sarat kepentingan oligarki. Gagasan sosialisme moderat mengabaikan realitas bahwa simbiosis ekonomi kapitalisme dengan politik demokrasi di Indonesia telah menciptakan bencana sistemis. Kemiskinan, kelaparan, kesenjangan, problem sosial, eksploitasi sumber daya alam ugal-ugalan, kerusakan ekosistem alam dan manusia telah menjadi “makan gratis” rakyat Indonesia.
Selama masih menggunakan platform penyelamatan demokrasi, wajar gerakan mahasiswa yang diasuh kalangan sosialis-demokrat belum tampak memberikan solusi yang cerdas dan cadas. Model perubahan seperti apa yang dituju juga sama sekali tidak jelas. Artinya, sebenarnya gagasan dan konsep yang ditawarkan samar, absurd, dan dapat diprediksi pasti gagal. Ini bukan judgement dan bukan meremehkan perjuangan tulus mahasiswa dari aksi ke aksi berjilid-jilid. Ini justru merupakan koreksi terhadap arah perjuangan mahasiswa (muslim) Indonesia. Bagaimanapun, tidak boleh ada pembiaran terhadap upaya pembajakan perjuangan tulus mahasiswa.
Islam, Jalan Baru Perubahan
Para aktivis mahasiswa muslim Indonesia perlu menyadari bahwa sebelum menjadi apa pun, mereka adalah seorang muslim. Mereka adalah hamba Allah yang menggantung pada pundak mereka tanggung jawab perubahan sejak mula pertama. Mereka telah ditetapkan berada pada kehidupan yang telah rusak, agar mereka mengambil peran perjuangan yang diridai.
Penerapan sistem kapitalisme telah menyebabkan kehancuran kehidupan manusia di muka bumi, tidak terkecuali di Indonesia. Sementara itu, ideologi sosialisme adalah ideologi yang batil sejak asasnya dan sistem kehidupannya pun cacat untuk diterapkan bagi manusia dan alam. Dalam konteks Indonesia, “ideologi” Pancasila selalu menjadi perdebatan konsep sejak lahirnya. Tentu mustahil memperjuangkan perkara yang tidak pernah jelas bentuknya dan tidak pernah ada penerapannya. Sedangkan sistem Islam yang bersumber dari ideologi Islam, bersandar pada kitabullah dan sunah Rasulullah ﷺ, pasti benar tidak ada keraguan.
Rakyat Indonesia adalah manusia, mereka bukan mencit laboratorium obyek percobaan. Manusia membutuhkan sistem kehidupan yang memanusiakan manusia. Hanya sistem kehidupan buatan Pencipta manusia yang layak dan mampu mengatur kehidupan manusia agar teratur dan sejahtera. Lebih dari itu, hanya sistem Sang Khalik yang bisa memberikan keberkahan bagi setiap makhluk.
Jadi, peringatan darurat Indonesia Gelap adalah sinyal kuat Indonesia membutuhkan konsep perubahan yang benar dan pasti memberikan kebaikan. Secara keimanan, setiap perkara yang Allah rida atasnya pasti baik. Dan setiap upaya perjuangan yang berjalan di atas rida Rabb semesta alam jaminan keberhasilannya pasti. Jalan baru ini adalah jalan perubahan yang telah digariskan oleh Islam. Oleh sebab itu, mahasiswa muslim wajib memilih jalan perubahan yang benar, tidak mengambil yang samar dan membuang jalan kebatilan.
Muhasabah Lil Hukkam
Islam memerintahkan jalan perubahan bersifat politik pada saat keburukan yang terjadi berwujud kezaliman penguasa. Abdul Qadim Zallum dalam kitab Nizhamul Hukmi fiil Islam menyatakan, “Kepemimpinan (kekuasaan) ini merupakan kekuasaan yang dipergunakan untuk menjaga terjadinya tindak kezaliman serta memutuskan masalah-masalah yang dipersengketakan.” Pandangan ini didasarkan pada QS Al-Maidah ayat 48, “Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.”
Ketika kezaliman penguasa terjadi secara nyata terhadap kaum muslim dengan tidak diterapkannya syariat Islam untuk mengatur kehidupan, maka Islam memerintahkan kepada kaum muslim untuk melakukan muhasabah lil hukkam atau mengoreksi penguasa agar kembali kepada Islam dalam mengatur kehidupan.
“Hendaknya ada di antara kalian, sekelompok umat yang mengajak kepada kebaikan serta menyeru pada kemakrufan dan mencegah dari kemungkaran.” (QS Ali Imran: 104).
“Yaitu orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan kemungkaran dan melarang mereka dari yang mungkar.” (QS Al-A’raf: 157).
Indonesia Gelap membutuhkan perjuangan mahasiswa melakukan amal perubahan yang benar. Berupa amal muhasabah lil hukkam, bukan amal class action ala sosialisme. Muhasabah lil hukkam sangat berbeda dengan perjuangan kelas bawah yang menginginkan tegaknya masyarakat sosialisme untuk menggantikan masyarakat kapitalisme. Muhasabah lil hukkam memiliki tujuan yang telah kukuh untuk menasihati penguasa agar menerapkan syariat kafah dalam mengatur urusan manusia dan dunia.
Untuk menempuh jalan perjuangan ini, mahasiswa perlu memahami langkah-langkah perubahan yang telah ditetapkan oleh Islam. Sebuah jalan perubahan yang akan menjamin keberhasilan sebagaimana yang telah diraih oleh Rasulullah ﷺ dan para Sahabat yang mulia. Sebuah jalan baru perubahan yang diusung oleh kaum terbaik yang diturunkan kepada manusia.
Firman-Nya, “Kalian adalah sebaik-baik umat yang dihadirkan untuk seluruh umat manusia; maka kalian (harus) menyeru pada kemakrufan dan menolak kemungkaran dan beriman kepada Allah.” (QS Ali Imran: 110). [MNews/GZ]
