[Kabar] Akademisi: Deflasi Hanya Efek Domino Penerapan Kapitalisme

[Kabar] Akademisi: Deflasi Hanya Efek Domino Penerapan Kapitalisme

Muslimah News, NASIONAL — Pakar Universitas Airlangga, Prof. Dr. Sri Herianingrum, SE., M.Si. dari FEB menyorot deflasi 2025 yang melanda Indonesia. Ia menjelaskan bahwa fenomena deflasi ini menunjukkan adanya potensi perlambatan ekonomi dan adanya over supply pada sejumlah komoditas primer, seperti minyak goreng dan telur.

Hal ini terjadi karena produk-produk tersebut tidak terserap sepenuhnya oleh pasar, menyebabkan penurunan harga yang signifikan. Ketika daya beli melemah, transaksi ekonomi berkurang, dan produsen kesulitan menjual barang, yang pada akhirnya dapat menyebabkan pengurangan produksi hingga pemutusan hubungan kerja (PHK). Ia menawarkan solusi berupa kebijakan stimulus yang lebih intensif diperlukan agar roda perekonomian dapat kembali bergerak.

Efek Domino

Akademisi Dr. Liliek Susilowati, M.Si. menjelaskan, deflasi hanyalah salah satu dari efek domino dari penerapan sistem kapitalisme yang diadopsi negeri ini.

Kepada MNews, Rabu (19-3-2025), ia menyampaikan, kapitalisme melalui konsep kebebasan kepemilikan dengan asas sekulerismenya yang bertentangan dengan Islam, telah menghasilkan berbagai kerusakan dan membuat masalah semakin pelik dan tidak menemukan jalan keluar.

“Misalnya, masalah kemiskinan, layanan kesehatan dan pendidikan, kerusakan generasi, pergaulan bebas, inflasi, PHK, gizi buruk, dan masih banyak lagi masalah lainnya,” urainya.

Kapitalisme, lanjutnya, melahirkan sistem keuangan negara yang berbasis pajak untuk APBN dan sistem moneter fiat money. “Sistem keuangan negara berbasis pajak ini menjadikan rakyat sangat terbebani hidupnya, apalagi hajat pokok komunal rakyat berupa pendidikan, kesehatan, dan keamanan yang seharusnya menjadi tanggung jawab penuh negara, justru dibebankan pada rakyat,” ujarnya.

Kondisi ini, ungkapya, merupakan konsekuensi logis dari kebebasan kepemilikan yang mengakibatkan pengambilalihan kepemilikan rakyat, berupa sumber daya alam yang melimpah oleh oligarki.

“Konsep kapitalisme juga memastikan lepasnya negara dari kewajiban menyediakan lapangan kerja bagi seluruh laki-laki balig. Hal ini memicu peningkatan pengangguran yang menurunkan daya beli masyarakat,” ucapnya.

Sistem moneter fiat money, sambungnya, menjadikan nilai mata uang rupiah dipermainkan oleh negara dominator. “Sistem fiat money juga memastikan lahirnya sistem ribawi yang jelas diharamkan oleh Allah,” ujarnya mengutip QS Al-Baqarah: 275, “Orang-orang yang memakan (bertransaksi dengan) riba tidak dapat berdiri, kecuali seperti orang yang berdiri sempoyongan karena kesurupan setan. Demikian itu terjadi karena mereka berkata bahwa jual beli itu sama dengan riba. Padahal, Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Siapa pun yang telah sampai kepadanya peringatan dari Tuhannya (menyangkut riba), lalu dia berhenti sehingga apa yang telah diperolehnya dahulu menjadi miliknya dan urusannya (terserah) kepada Allah. Siapa yang mengulangi (transaksi riba), mereka itulah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.”

Ia menyatakan, pelanggaran hukum-hukum Allah oleh sistem kapitalisme, berbuah kerusakan dan kezaliman bagi rakyat. “Kapitalisme sudah menunjukkan jati dirinya yang rusak dan merusak. Saat ini, kerusakan multi dimensi buah kapitalisme sudah sangat jelas tertampang di depan mata,” jelasnya.

Solusi Hakiki

Untuk itu, ia mengingatkan, solusi hakiki atas semua kerusakan ini harus segera ditemukan. “Jika tidak, maka kehancuran peradaban bangsa ini tinggal menunggu waktu,” cetusnya.

Ia menyampaikan, solusi hakiki hanya dapat diperoleh dari Zat yang kebenarannya hakiki, yakni dari Islam yang datang dari Zat yang tidak memiliki kepentingan apa pun pada dunia ini.

“Islam telah memberikan bukti keberhasilannya selama 13 abad tegak saat di muka bumi dalam bingkai sistem Khilafah. Dalam sistem Khilafah, tidak dikenal istilah deflasi maupun inflasi. Khilafah memastikan hanya menjalankan syariat Allah dalam mengatur urusan rakyatnya,” ungkapnya.

Ia menuturkan, sistem keuangan negara, yaitu baitulmal hanya mengambil harta yang dibenarkan oleh syariat, seperti dari harta kepemilikan umum dan harta negara untuk mengurusi hajat hidup rakyat.

“Dengan harta tersebut, negara memenuhi hajat pokok komunal rakyat secara gratis, yaitu pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Negara juga menyediakan lapangan kerja bagi seluruh laki-laki sebagai penanggung jawab nafkah keluarga,” ujarnya.

Kemampuan rakyat dalam mengarungi kehidupan dengan benar, sambungnya, dipastikan dengan kurikulum pendidikan yang terintegrasi dalam ketaatan kepada Allah Taala.

“Negara juga menjadi penanggung jawab dalam mendistribusikan kebutuhan pokok rakyat hingga ke pelosok negeri sehingga kelangkaan barang di suatu daerah dapat dicegah dan kestabilan harga tetap dalam jangkuan masyarakat,” katanya.

Khilafah juga, paparnya, menjalankan sistem moneter berbasis emas dan perak, yaitu dinar dan dirham. “Kestabilan sistem berbasis emas dan perak sudah terbukti hingga hari ini dan dapat menjadikan rakyat terbebas dari riba. Kesejahteraan rakyat dalam sistem Khilafah belum pernah tertandingi hingga hari ini,” terangnya.

Hal ini, ucapnya, sebagaimana pengakuan jujur tokoh Barat Michael Hart dalam bukunya yang berjudul The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History. Jadi, tandasnya, pelaksanaan syariat Islam kafah oleh Khilafah inilah yang mengantarkan Khilafah sebagai negara yang sejahtera, kuat, dan disegani dunia. [MNews/RA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *