Muslimah News, NASIONAL — Cendekiawan muslim Ustadz Ismail Yusanto (UIY) menegaskan bahwa Al-Qur’an itu pembeda antara yang benar dan salah.
“Al-Qur’an itu disebut sebagai al-furqan atau pembeda. Pembeda yang benar dan yang salah, antara yang hak dan yang batil, antara yang lurus dan yang bengkok, antara yang hitam dan putih,” tuturnya di acara memperingati Nuzulul Qur’an yang bertajuk “Al-Qur’an dan Peradaban Dunia” Ahad (16-3-25) di kanal One Ummah TV.
Ia melanjutkan, manusia dari dulu sampai sekarang memerlukan kemampuan untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah. ”Ketika manusia tidak punya kemampuan membedakan benar dan salah yang terjadi kekacauan,” yakinnya.
Ia mencontohkan, saat manusia menggunakan Al-Qur’an sebagai petunjuk, dengan mudah bisa membedakan bahwa manusia itu dari sisi gender hanya ada dua laki-laki dan perempuan.
“Tetapi ini hari, manusia itu ternyata bisa mengalami kebingungan luar biasa. Di Barat ini hari, yang disebut she, kalau bahasa arabnya itu dhomir yang artinya she itu untuk perempuan. Tetapi she [versi barat] itu bisa bermakna she she atau she he. Jadi, perempuan-perempuan, perempuan-laki,” terangnya.
Di Thailand, sambungnya, lebih parah lagi, gender itu ada 18. “Ini hal yang sepele, tetapi karena tidak punya petunjuk dan tidak punya kemampuan membedakan, bisa ruwet,” tandasnya.
Memerlukan Al-Qur’an
Oleh karena itu, menurutnya, manusia itu sangat memerlukan Al-Qur’an agar manusia tidak kehilangan makna dalam menjalani kehidupan.
“Al-Quran menjelaskan kepada kita dengan sangat gambling bahwa ‘tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah’. Itu baru satu aspek sederhana tentang visi misi kehidupan kita. Belum lagi tentang life map,” ulasnya.
Saat orang tidak menggunakan Al-Quran, UIY menjelaskan, manusia tidak tahu ke mana setelah kehidupan dunia berakhir, kenapa harus berbuat baik, kenapa harus berkorban.
”Maka lihatlah! Kejahatan ini hari itu, kalau bahasa Jawanya disebut nyundul langit [banyak sekali]. Bukan hanya membunuh satu dua orang, tetapi ribuan orang dengan bengisnya. Dahulu ada Jenghis Khan, Polpot, Kaisar Nero, karena mereka tidak punya petunjuk. Jadi sangat relevan Al-Qur’an itu sebagai petunjuk!” tandasnya.
Ia menandaskan, kata kuncinya Al-Qur’an itu yang akan meninggikan dan menaikkan derajat manusia dan peradaban, sebagaimana penjelasan Nabi bahwa dengan Al-Qur’an Allah akan mengangkat derajat satu kaum, dan merendahkan yang lainnya.
Peradaban Fisik
Dalam analisisnya UIY mengatakan, peradaban Barat saat ini memang unggul, tetapi hanya peradaban fisik saja bukan peradaban kemanusiaan. Ia lalu bertanya retorik, apakah dikatakan peradaban unggul jika mereka kejam tanpa welas asih, laki-laki kawin sama laki-laki, perempuan kawin sama perempuan? ”Lah ayam jantan itu kalau mau kawin dia kejar betina, enggak pernah kejar jantan,” sindirnya.
UIY merasa aneh jika ada orang Islam menjauhi Al-Qur’an karena dipastikan tidak akan mendapat petunjuk yang benar. ”Di situ pangkal kemunduran umat, termasuk dari sisi politik, ekonomi, semuanya, karena Al-Qur’an itu hudan li an-naas,” ulasnya.
Terakhir ia mengajak kaum muslim untuk terus mendakwahkan Al-Qur’an. Ia juga menyampaikan pesan Nabi saw. agar tetap bersama dengan Al-Qur’an apa pun resikonya.
Ia menutup penuturan dengan mengutip hadis riwayat Ath-Thabrani, ”Mati dalam ketaatan kepada Allah lebih baik ketimbang hidup dalam maksiat kepada Allah.”
”Itulah dakwah, itulah perjuangan!” pungkasnya. [MNews/IA]
