Muslimah News, NASIONAL— Beberapa waktu lalu Pemkab Banyuwangi menggelar pelatihan kepemimpinan untuk ratusan kepala sekolah tingkat SD dan SMP. Pelatihan ditujukan untuk membangun lingkungan pendidikan dengan konsep compassionate (welas asih).
Di acara tersebut, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyampaikan harapannya agar konsep compassionate mampu menciptakan lingkungan pendidikan yang penuh welas asih di antara semua warga sekolah baik kepala sekolah, guru, dan siswa. Konsep pendidikan welas asih ini menurut Ipuk harus menghindarkan pendidikan dari memberikan hukuman.
Kepala Dinas Pendidikan Suratno juga menekankan bahwa pendidikan welas asih ini hendaknya dibangun dengan mengedepankan terbangunnya akhlak dan toleransi.
Berbahaya
Pengamat pendidikan dan generasi Yusriana menilai, pendidikan welas asih ini sepintas seperti baik, tetapi sesungguhnya berbahaya.
”Kita perlu mewaspadai bahwa ada bahaya dalam konsep pendidikan welas asih dan juga sekolah ramah anak karena ini mengandung ide pluralisme dan sekularisme,” ungkapnya di kanal Supremacy, Kamis (20-2-2025).
Menurutnya, saat ini gagasan sistem sekularisme, liberalisme, serta cabang-cabangnya makin merajalela. ”Gagasannya hadir dalam berbagai bentuk yang menyilaukan pandangan mata agar umat Islam menjadi teperdaya, seperti pendidikan welas asih dan sekolah ramah anak ini,” tandasnya.
Ia membeberkan, ketika pendidikan welas asih itu menjauhkan proses pemberian hukuman bagi pelanggaran [termasuk pelanggaran hukum syarak], maka hal ini akan menyuburkan liberalisme di institusi pendidikan.
”Juga akan terjadi normalisasi pelanggaran terhadap syariat secara masif. Selain itu, kita juga perlu mewaspadai adanya upaya menanamkan toleransi yang berlandaskan moderasi beragama akan menjauhkan institusi sekolah dari penanaman Islam kafah,” imbuhnya.
Dengan proses pendidikan seperti itu, Yusriana khawatir peserta didik lama kelamaan tidak akan menganggap agama Islam itu sebagai satu-satunya agama yang benar. ”Akhirnya mereka akan tercekoki dengan pluralisme yang menganggap semua agama itu benar,” duganya.
Diciptakan Allah
Yusriana mengingatkan, manusia itu diciptakan Allah Swt.. ”Di dalam dirinya diciptakan pula naluri-naluri dan berbagai kebutuhan jasmani. Naluri-naluri dan kebutuhan jasmani tersebut adalah suatu potensi yang akan menggerakkan semangat hidup dalam diri manusia,” jelasnya.
Manusia, lanjutnya, akan melakukan tindakan untuk memuaskan kebutuhan hidupnya. Namun, ucapnya, membiarkan pemuasan terhadap kebutuhan tanpa terikat dengan aturan, akan menyebabkan kekacauan, kerusakan, dan akan menjurus ke arah pemuasan yang salah dan menyimpang.
”Allah Swt. telah mengatur bagaimana tata cara pemuasan naluri-naluri dan kebutuhan jasmani manusia. Allah mengaturnya melalui hukum-hukum syariat,” terangnya.
Oleh karena itu, Yusriana menilai, penting ada suatu hukuman yang bertujuan untuk meluruskan dan mengingatkan tentang kesalahan manusia, termasuk juga di lingkungan sekolah. ”Tentu dengan hukuman yang mendidik, bukan dengan hukuman yang menyakitkan apalagi menghantarkan pada kematian,” tukasnya.
Islam, sambungnya, harus diyakini sebagai satu-satunya ajaran yang benar karena berasal dari Allah Swt. Pencipta alam semesta.
”Islam pernah berjaya hingga menguasai dua pertiga dunia. Maka sudah sepatutnya kita merasa cukup dengan ajaran Islam dan aturannya tanpa perlu mengambil ide dari ajaran di luar Islam,” tegasnya.
Takdib
Ia menjelaskan, pendidikan dalam Islam dibagi menjadi tiga, yang salah satunya adalah terkait dengan takdib. Takdib diartikan sebagai proses mendidik yang lebih tertuju pada pembinaan dan penyempurnaan akhlak dan adab.
”Jadi takdib sebagai sebuah konsep pendidikan Islam lebih berorientasi kepada pembentukan individu yang berakhlak mulia tanpa mengesampingkan kemampuan intelektual dan skill. Ini merupakan salah satu usaha yang sangat perlu untuk dibangkitkan pada masa modern ini,” bebernya.
Yusriana menilai, konsep takdib adalah konsep pendidikan Islam yang komprehensif karena aspek-aspek ilmu, dan proses pencapaian ilmu, harus dicapai dengan pendekatan tauhidi, sementara objek-objeknya wajib diteropong dengan pandangan hidup islami.
”Kata takdib memang tidak dijumpai secara langsung di dalam Al-Qur’an, tetapi pada tingkat operasional pendidikan, bisa dilihat pada praktik yang dilakukan oleh Rasulullah saw.,” paparnya.
Rasulullah sebagai pendidik yang agung dalam pendidikan Islam, lanjutnya, sejalan dengan tujuan Allah mengutusnya kepada manusia yaitu untuk menyempurnakan akhlak. ”Jadi, Allah juga menjelaskan bahwa sesungguhnya Rasul adalah sebaik-baik teladan bagi kaum muslim,” tandasnya.
Ia menjelaskan, di dalam takdib terdapat hukuman yang edukatif, menghukum untuk membelajarkan peserta didik, itu sesuatu hal yang ada dalam pendidikan Islam.
”Di dalam Islam, para pendidik harus memberikan welas asih, artinya kasih sayang kepada anak didik, tetapi tetap harus tegas dalam pemberian takdib agar anak didik ini memahami salah dan benar sesuai dengan standar agama, bukan standar toleransi yang liberal,” urainya.
Kasih sayang yang dimiliki para pendidik ini, ucapnya, adalah kasih sayang yang sejati yang akan menunjuki peserta didiknya ke jalan yang lurus, yaitu jalan Islam.
”Oleh karena itu, kehadiran sistem pendidikan Islam dalam naungan Khilafah Islamiah yang akan mencetak umat terbaik dengan peradaban terbaik adalah hal yang harus menjadi perhatian, kerinduan, juga menjadi perjuangan bersama bagi kaum muslim,” pungkasnya. [MNews/IA]
