[Mafahim Islamiyyah] Serangan Terhadap Islam (Bagian 1/4)

[Mafahim Islamiyyah] Serangan Terhadap Islam (Bagian 1/4)

Penulis: Muhammad Husain Abdullah

Muslimah News, TELAAH KITAB — Setiap umat penganut ideologi akan berjalan dalam kondisi kuat atau lemah. Mereka diserang oleh musuh-musuhnya dengan serangan yang dahsyat dan bermacam-macam. Dampak serangan itu sangat bervariasi tergantung pada keadaan umat, sasaran musuh, dan model serangan.

Umat Islam yang lahir sejak abad XIV Masehi, musuh-musuh Islam telah bertubi-tubi menyerangnya dengan serangan besar pertama, yaitu pada perang Dunia I. Mereka berhasil merobohkan Negara Khilafah dan mencabik-cabik negeri-negeri kaum muslim dan membagi-baginya di antara mereka.

Musuh-musuh Islam tidak berhenti sampai di situ. Mata-mata mereka senantiasa terbuka, tidak lengah sedikit pun dalam mengawasi umat Islam. Mereka selalu menghitung, berapa lama korban-korban yang pingsan masih bisa bernafas. Mereka juga mengintip umat Islam yang sedang membalik-balik badan karena tertimpa penyakit.

Mereka benar-benar telah mempersiapkan strategi dan cara-cara sebagai persiapan serangan mereka terhadap umat Islam supaya tidak bisa kembali kepada kehidupannya sekali lagi. Orang-orang komunis telah menempuh berbagai strategi dengan jalan kekerasan, pembantaian, dan pembinasaan untuk menghancurkan kaum muslim, seperti telah terjadi di Hungaria, Kaukasus, Balkan, dan Cina.

Orang-orang Prancis telah menempuh strategi lain yang tampak dalam mengumpulkan negeri-negeri Islam kepada negara Republik mereka. Ini tampak dalam mengubah tsaqafah serta bahasa kaum muslim seperti telah terjadi di Afrika Utara. Inggris juga telah menempuh strategi yang diterapkan melalui beberapa tahapan. Tahapan pertama adalah melalui penjajahan militer. Berikutnya adalah penjajahan politik, kebudayaan, dan ekonomi. Ini telah direalisasikan dan dijaga oleh kaki tangan mereka sebagaimana telah terjadi di negeri Syam dan negeri lainnya.

Negara-negara kafir, meskipun terjadi konflik di antara mereka terhadap beberapa manfaat dan daerah jajahannya, mereka sepakat membiarkan umat Islam tetap tercerai-berai tidak ada kesatuan hubungan di antara mereka. Semua ini dilakukan dengan jargon nasionalisme, patriotisme, dan kemerdekaan. Mereka pun sangat berambisi menjauhkan Islam dari kehidupan mereka dengan jargon kemajuan dan sekulerisme.

Penjajahan dan hegemoni terhadap umat Islam dilakukan dengan membagi-bagi negara-negara mereka serta merampok kekayaan alamnya. Tujuan utama mereka bukanlah meraih manfaat materi, walaupun yang ini telah berhasil. Akan tetapi maksud sebenarnya adalah menghalangi kembalinya umat Islam kepada Islam, yang menjadi dasar kekuatannya.

Selanjutnya umat Islam dihancurkan dan dilenyapkan dari eksistensinya sehingga tidak dapat kembali lagi mengemban risalahnya ke penjuru dunia dengan jihad yang sangat berbahaya, ditakuti oleh mereka, serta menghapus kepemimpinan orang kafir, dan musuh besar mereka.

Setelah perang Dunia I dan runtuhnya Negara Khilafah, Inggris menduduki kedudukan negara super power di dunia. Kemudian, Jerman Nazi mulai mendesak Inggris atas kedudukan tersebut sehingga tersulutlah perang Dunia II yang telah menjadi titik tolak bagi kejayaan Amerika. Kini Amerika menjadi negara adidaya dan menduduki kedudukan negara super power di dunia.

Hanya saja Rusia dan Inggris masih tetap berupaya memengaruhi atas kepemimpinannya di dunia. Oleh karenanya, berdirilah politik internasional di bawah naungan PBB. Terjadilah persekutuan di antara Amerika, Rusia, Inggris, dan Perancis, hingga muncul kesepakatan antara Amerika dan Rusia pada 1961 M. Amerika lalu memimpin dunia dengan mengatasnamakan kesepakatan internasional yang membatasi pengaruh Rusia kepada negara-negara yang berada di bawah kekuasaannya saja. Kekuasaan Amerika membentang di seluruh dunia.

Konflik yang terjadi antar negara-negara besar ini atas daerah-daerah jajahan dan kedudukan sebagai negara super power di dunia, kalau dihubungkan kepada karakteristik akidah Islam, menghembuskan kondisi berpikir dan analisis kaum muslim. Ini merupakan faktor yang mewujudkan apa yang dinamakan “Kebangkitan Islam” pada dekade kedelapan dari abad XX M.

Setelah runtuhnya komunis Uni Sovyet, Amerika sebagai negara adidaya di dunia baru menyadari dengan “Kebangkitan Islam”. Amerika mengerti bahwa tantangan yang sedang dan akan dihadapinya dan yang cenderung menyaingi dan menghancurkannya adalah Islam. Semua itu benar-benar terlihat pada kajian-kajian terperinci pada lembaga-lembaga penelitian strategis di Amerika. Sebastio sebagai ketua bagian studi agama di Fakultas Salib Suci Amerika telah meringkas ciri-ciri khas kebangkitan ini melalui ungkapannya, “Kebangkitan Islam tumbuh karena kegagalan sistem politik, ekonomi, dan sosial yang diterapkan. Juga dalam penolakan Barat serta penerimaan bahwa Islam merupakan ideologi yang sempurna dan paripurna, baik negara maupun masyarakat. Ideologi tersebut merupakan pengganti yang tepat dari nasionalisme, sekularisme, sosialisme, dan kapitalisme.” Pembicaraan itu diakhiri dengan perkataannya, “Sesungguhnya orang-orang yang merobohkan/melemahkan kemaslahatan-kemaslahatan Amerika adalah orang-orang yang ekstrim.”

Untuk tujuan tersebut, Amerika telah membentuk pusat-pusat studi, seperti lembaga Amerika Serikat untuk perdamaian dan lain-lain. Lembaga-lembaga tersebut telah dibekali dengan dana dan para intelektual untuk mengkaji jalan-jalan yang produktif. Ini tidak hanya untuk menghantam dan siasat pencegahan perluasan kebangkitan Islam. Akan tetapi juga untuk menghancurkan umat Islam sebagai umat. Ini karena pada perang Dunia I, Inggris telah menghancurkan lembaga pelaksana Islam, yaitu Negara Khilafah.

Hanya saja umat Islam tetap eksis. Mereka masih tetap memeluk akidah Islam dan merindukan kembalinya Islam dalam kehidupan. Amerika yang telah mewarisi kepemimpinan kapitalistisme beserta eksperimen-eksperimen dari sejumlah negara pendahulunya, seperti Inggris dan Perancis, telah melihat bahwa bahaya besar yang akan merobohkannya adalah Islam.

Oleh karenanya, Amerika memulai serangan besarnya yang gila melawan umat Islam, yaitu umat yang berasal dari keturunan mulia. Umat Islam yang memeluk akidah politik (akidah siyasi), calon pemimpin dunia, untuk menghancurkan kapitalisme yang telah mendatangkan penderitaan, kemiskinan, dan berbagai peperangan di muka dunia. [MNews/RY-YG]

Sumber: Muhammad Husain Abdullah, Mafahim Islamiyyah.

Share

One thought on “[Mafahim Islamiyyah] Serangan Terhadap Islam (Bagian 1/4)”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *