Muslimah News, INTERNASIONAL— Dalam siaran persnya, juru bicara (jubir) kelompok dakwah ideologis internasional Yordania, Senin (10-2-2025), menyatakan bahwa Trump tidak akan mendominasi dunia Islam jika umat Islam memiliki seorang khalifah dan entitas Zion*s Yahudi tidak pernah ada tanpa pengkhianatan para penguasa negeri muslim.
”Para pemimpin kufur di Amerika dan Eropa, beserta entitas Zion*s Yahudi, tahu bahwa posisi para penguasa muslim tidak mewakili mayoritas umat Islam, juga tidak mencerminkan harapan yang tertanam dalam hati umat untuk pemulihan otoritas mereka,” ujarnya.
Kebencian
Ia menyebut, para pejuang Perang Salib Eropa menyembunyikan kebencian yang lebih besar di hatinya terhadap umat Islam, baik melalui seruan Trump untuk menggusur penduduk Gaza, perang Yahudi terhadap penduduk Tepi Barat sebagai pendahuluan dari apa yang mereka sebut “Yudea dan Samaria,” maupun advokasi Uni Eropa untuk solusi dua negara.
“Cukup sudah kebohongan, tipu daya, pengkhianatan, dan agresi! Amerika adalah musuh utama umat Islam dan wilayahnya. Amerika bukanlah teman, mitra, atau sekutu, kecuali dalam leksikon para penguasa boneka. Siapa pun yang terlibat dengannya dengan kedok ini, di tingkat apa pun, turut menanggung dosa dan agresinya,” lanjutnya.
Ia menerangkan, musuh nomor satu adalah Inggris yang memainkan peran terbesar dalam menanam entitas Zion*s di Palestina dan memberdayakannya melalui para penguasa yang tunduk dan pengkhianat.
“Tidak dapat diterima jika rakyat Yordania dalam penolakan mereka terhadap relokasi [warga Gaza], membela konsesi yang diberikan oleh rezim Yordania kepada musuh-musuh umat sejak awal berdirinya. Padahal rezim tersebutlah yang membawa mereka ke kondisi kesengsaraan, penghinaan, dan kesulitan saat ini. Namun, rezim tersebut terus berjudi untuk memperdalam hubungannya dengan Amerika dan entitas Zion*s Yahudi,” jelasnya.
Bahkan sekarang, lanjutnya, selama kunjungannya ke Amerika rezim tersebut bertemu dengan Trump dan berbagai badan administratif Amerika di bawah apa yang disebut Kementerian Luar Negeri Yordania sebagai “hubungan aliansi dan persahabatan.”
“Namun setelah ancaman eksplisit Trump terhadap Yordania, setelah demonstrasi rakyat Yordania yang menyatakan kesiapan mereka untuk perang dan konfrontasi militer, dan setelah entitas Yahudi mengejek kelemahan pasukan Yordania, bagaimana mungkin masih ada pembenaran untuk melanjutkan hubungan yang sembrono ini?” ungkapnya.
Ia juga menyatakan keheranannya ketika rakyat Yordania menyatakan kesiapannya untuk berkorban menghadapi kekuatan agresi setelah musuh-musuh umat menunjukkan taring mereka dan membuat konspirasi dan dukungan mereka yang tidak terbatas untuk entitas Zion*s Yahudi menjadi sangat jelas, tetapi rezim terus berpihak kepada musuh dengan mempertahankan pasukan Amerika, menegakkan perjanjian pertahanan bersama, dan melestarikan perjanjian Wadi Araba.
Ini, lanjutnya, membuktikan penipuan dan kolusinya, bersama dengan keterlibatan rombongannya—penulis, anggota parlemen, pejabat tinggi, dan partai—yang menyesatkan Anda sambil memperindah tindakan rezim saat menyerahkan negara kepada musuh-musuhnya.
“Dalam situasi seperti itu, seharusnya para penguasa itu mengerahkan pasukannya untuk perang yang terhormat melawan kaum Yahudi, bukannya mendatangi sarang musuh terbesar di Washington,” tulisnya.
Ia mengingatkan umat muslim di Yordania bahwa hubungan umat dengan musuh Islam telah ditetapkan dengan jelas oleh Islam. Status tanah Yordan, sambungnya, ditentukan oleh firman Allah Swt. QS Al-Isra: 1, ”Maha Suci Allah yang telah membawa hamba-Nya di malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, yang telah Kami berkahi sekelilingnya.”
“Tanah Yordania termasuk tanah yang diberkahi. Oleh karena itu, tidak diperbolehkan terlibat dengan para perampas Al-Aqsha dan sekutu-sekutunya dengan cara apa pun selain apa yang telah diperintahkan oleh Allah, yaitu berperang untuk merebutnya kembali. Menjalin hubungan dengan musuh-musuh ini tidak diperbolehkan,” jelasnya.
Ia menegaskan, orang-orang Zion*s Yahudi adalah perampas, dan Amerika, bersama para Tentara Salib di belakangnya, sedang berperang. “Yordania dan Amerika bukanlah sekutu. Ini omong kosong belaka yang seharusnya tidak lagi menipu kalian. Terlepas dari apa pun hasil pertemuan rezim di Amerika, apakah konsesi, penyelesaian, atau pengurangan ancaman, ini tidak lain hanyalah ilusi, yang melayani likuidasi berkelanjutan atas perjuangan Palestina sambil mengulur lebih banyak waktu,” ulasnya.
Khilafah
Ia menyampaikan bahwa jalan untuk membebaskan diri dari cengkeraman musuh adalah dengan tegaknya entitas politik Islam [Khilafah]. “Entitas politik Islam, Khilafah berdasarkan metode kenabian adalah entitas yang akan memobilisasi pasukan untuk pembebasan,” tulisnya.
Pasukan Islam, lanjutnya, telah lama mengabaikan tugas mereka di hadapan Tuhan mereka, tetapi pemulihannya sudah dekat dengan kehendak Allah untuk menunjukkan kekuatan sejati umat Islam.
Terakhir, ia menyampaikan surah Ali Imran ayat 118 yang artinya, ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil teman-teman selain kamu karena sesungguhnya mereka tidak akan membiarkan kamu binasa. Mereka menghendaki kamu mendapat kesulitan. Telah nyata dari mulut mereka kebencian, dan apa yang disembunyikan hati mereka lebih besar. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan Allah) jika kamu mau berpikir.” [MNews/IA]
